
"Maafkan semua sikap aku yang dulu dan terima kasih telah memberikan aku kesempatan sekali lagi. Aku janji aku akan memanfaatkan kesempatan yang kamu berikan dengan baik." Narendra kemudian mencium kening Hani sedikit lebih lama, sedangkan Hani memejamkan matanya." I love you." Lanjutnya di depan wajah Hani.
" Hmmm! Lalu bagaimana dengan Nahla." Narendra menautkan alisnya bingung." Kita berdua sama-sama mempunyai adik perempuan yang belum menikah, Azzam! Sekecil apapun perbuatan kita, pasti akan berbalik untuk diri kita sendiri dan keluarga kita." Sambungnya.
Narendra mengangguk paham dan Dia tahu Haaniya memang memiliki hati selembut itu, sehingga dia mudah memaafkan! sayangnya untuk melupakan masih harus di pertanyakan pertanyakan lagi.
"Kevin akan menikahinya, itupun kalau dia mau dengan kevin dan berubah menjadi lebih baik. Tapi untuk aku, aku nggak peduli, karena aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia, aku hanya ingin fokus dengan kamu dan mereka." Narendra menjelaskan sembari mengusap perut Hani.
"Tapi Azzam_"
" Sstthhtt,"Narendra meletakkan jari telunjuknya pada bibir Hani, meminta sang istri untuk diam." Mulai sekarang, kamu harus memikirkan kebahagiaan kamu dan calon anak-anak kita, jangan pikirkan mereka, karena mereka belum tentu mikirin kamu. oke." wanita itu tidak langsung menyahuti dia masih terdiam sembari menatap dalam mata Narendra.
" Sayang kamu dengar aku kan?" Tanya Narendra, Hani pun hanya bisa mengangguk lemah, kemudian pria itu mengecup bibir Hani. " Baiklah aku akan menghubungi pengacara kita untuk membicarakan hal ini. Kamu mau aku panggilkan siapa buat menemani kamu disini?" Tanya Narendra lagi.
"Nggak usah, aku pengen istirahat."
"Aku panggil-in bunda ya!" Bujuk Narendra, pria itu tidak tega meninggalkan istrinya sendiri, takut jika Hani akan membutuhkan sesuatu.
" Nggak, aku pengen sendiri."
" Sayang, masa orang tua kita di biarin di luar gitu aja! Paling nggak izinin mereka masuk ya, buat nemenin kamu."
" Azzam aku nggak mau! Kamu mengerti nggak sih." Hani tetap keras kepala, membuat Narendra menyerah untuk membujuknya.
" Oke-oke jangan marah, akan aku suruh mereka untuk pulang." Ucap Narendra pada akhirnya dan pria itu pun meninggalkan Hani seorang diri di ruangan itu setelah membantunya kembali berbaring.
Esok malamnya Kai dan Ela datang berkunjung ke rumah sakit, mereka berdua berencana untuk menginap sekaligus menemani Hani dan Narendra di rumah sakit karena Ela libur dua hari.
Untuk Lita sendiri, wanita itu terus menjadi obat nyamuk untuk Hani dan Narendra.
Walaupun Hani sudah sering menyuruhnya pulang dan beristirahat di apartemennya. Tapi Lita selalu menolak, sehingga Hani pun menyerah membujuknya.
Keduanya pun sudah menandatangani surat perjanjian yang di ajukan Hani Setelah Narendra menghubungi pengacara mereka kemarin.
Untuk keluarga mereka sendiri, Hani belum ingin bertemu dengan mereka! Atau lebih tepatnya dia tidak ingin bertemu dengan Dion maupun Melly. Hanya saja dia harus tetap menjaga perasaan keduanya dengan menolak kedatangan Dian dan Ken! Begitu juga dengan Luna dan Reval.
" Selamat malam bumil lagi makan apa?" Sapa Ela, sembari menghampiri ranjang Hani, wanita itu sedang asyik menikmati cake yang baru saja di belikan oleh Narendra untuknya.
" Nih! Kamu mau?" Tawar Hani sembari menunjuk cake di tangannya, namun Ela justru menggeleng kepalanya.
Cake itu berlimpah dengan lelehan coklat dan yang pasti membuat kaum hawa semakin tergiur untuk mencicipinya, begitu pun dengan Ela.
Hanya saja dia baru habis makan malam dan sudah makan terlalu banyak makan manis-manis hari ini.
" Nggak sayang, buat kamu dan keponakan-keponakan aku aja yang makan." Sahut Ela.
Hani pun melanjutkan makannya, sementara Ela mendorong kursi roda Kairan agar pria itu bisa bergabung bersama Narendra yang sedang duduk di sofa.