
Ditempat lain Narendra begitu gelisah memikirkan Hani! Ia tidak dapat mengabaikan keberadaan istrinya begitu saja. Dan perasaan cemasnya, membuat dia kembali mencoba untuk menghubungi wanita itu walaupun dia tahu, hasilnya akan sama saja! Namun Narendra terus mencobanya." Haani, kemana sih kamu." Gumam Narendra, begitu panggilannya kembali tidak di jawab oleh istrinya. " Aku harus mencarinya." Ucap pria itu, kemudian meraih kunci mobilnya, setelah itu berlari kecil keluar kamarnya dan saat ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia berpapasan dengan Luna.
" Mau kemana?" Tanya Luna. Sembari menelisik penampilan putranya itu.
" Aku mau cari Hani, ma." Jawab Narendra tanpa menatap kepada mamanya.
" Memangnya Hani kemana?" Tanya Luna lagi, namun Narendra tidak menjawabnya. karena dia sendiri pun tidak tahu keberadaan istrinya itu," Terserah kamu saja bang, yang terpenting mama sudah membantu sebisa mama, jika pada akhirnya kamu gagal! Jangan pernah salahkan orang lain. Mama cuma mau titip pesan ke kamu, wanita itu mahluk yang perasa, tapi mudah salah paham. Jangan sampai kamu menyesal." Lanjutnya berpesan Sebelum meninggalkan Narendra entah apa tujuan Mama nya berkata seperti itu, pria itu juga tidak begitu peduli yang terpenting saat ini, Haaniya.
Narendra pun meneruskan niatnya, mencari keberadaan istrinya itu, walaupun dalam benaknya, ia terus mengingat kata-kata Luna, mamanya.
Tempat yang di datangi yang pertama untuk mencari Hani adalah kediaman Xavier, orang tua Hani. Begitu Narendra datang dia langsung di sambut sikap dingin Dion. Karena pria itu masih sangat mengingat perkataan Narendra. " Ngapain kamu kesini?" Tanya Dion.
" Dad, aku ingin bertemu Hani."
" Hani tidak ada disini? Memangnya, Kau apakan lagi putriku Hingga dia tak pulang." Bentak Dion, pria itu menjambak kerah baju Narendra dan hampir saja menonjok wajah menantunya itu, sayangnya Melly segera keluar menahan tangan suaminya.
" Dasar breng-sek." Aiden yang ikut keluar bersama mommy-nya, karena mendengar bentakan dion. Langsung menonjok wajah Narendra, pria itu ingin memukul Narendra lagi tapi segera di tahan oleh Melly.
Putranya itu memang tidak bisa mengontrol emosinya jika sudah menyangkut saudari perempuannya. Bersyukur pada saat mereka menikah Aiden sedang traveling. Pria itu memang suka berkeliling sambil memotret tempat-tempat yang dia datangi. Sehingga ia jarang berada di rumah dan sulit sekali untuk di hubungi.
" Kamu, pikir lelaki di dunia ini cuma kamu seorang! Jangan merasa tinggi kamu, asal kamu tahu kalau kakak aku mau, aku bisa mendapatkan lelaki yang jauh, lebih dari kamu untuk kakakku. Jadi tolong, selagi aku masih baik! Tolong perlakukan dia dengan baik. Waktumu hanya enam bulan kan, manfaatkan waktumu itu dengan baik karena, saat waktunya tiba aku sendiri yang akan datang untuk menjemputnya dan akan aku carikan pria yang mau menjadikannya ratu, bukan mainan seperti kamu." Ancam pemuda itu, kemudian masuk kedalam rumah bersama Daddy-nya seperti yang di minta Melly.
Begitu mereka telah masuk Melly bertanya akan tujuan Narendra datang ke rumah mereka. Pria itupun menceritakan tujuannya, tak lupa alasan yang menyebabkan Hani belum pulang.
Waktu menunjukkan pukul satu malam saat Narenda tiba di apartemen Hani. Pria itu bahkan sudah berulang kali menekan bel apartemen itu, namun tidak ada tanda-tanda pintu apartemen itu akan terbuka.
" Haaniya buka aku tahu kamu ada didalam." Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu itu namun hasilnya sama. Jam di pergelangan tangannya kini telah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit. Itu tandanya sudah lebih dari lima belas menit dia berdiri disana.
Pria itu ingin menekan bel sekali lagi, tapi suara beberapa wanita yang baru keluar dari lift membuat ia mengalihkan fokusnya ke mereka dan dia langsung membulatkan matanya, saat melihat istri dan adiknya berjalan dengan sempoyongan, belum lagi pakaian mereka. Narendra langsung sakit kepala, melihat semua itu. " Haaniya, Naela." Teriak pria itu dengan nada membentak.
Namun ketiga wanita itu hanya menatapnya bingung, kemudian saling menatap satu sama lain dengan ekspresi yang berbeda-beda Sebelum berjalan ingin melewati Narendra begitu saja. Seakan mereka tidak mengenali pria itu.
Dan Lita lah yang lebih dulu melewati Narendra, membuka pintu apartemen itu kemudian masuk kedalam di susul oleh Naela, saat giliran Hani, pria itu langsung menarik tubuh istrinya itu. Memeluknya dengan erat, Sebelum ia sempat untuk masuk ke dalam apartemen. " Besok pagi kau akan berurusan dengan ku Ela. Malam tidurlah dengan nyenyak." Ucap pria itu kepada adiknya, Sebelum mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi dari sana, Tidak peduli seberapa keras Hani meronta-ronta dan memukul punggungnya meminta di turunkan, karena posisi Hani saat ini, tengah pikul layaknya karung beras.
" Lepaskan aku, atau aku akan meledakkan kepalamu." Ancam wanita mabuk itu, namun tidak di indahkan oleh Narendra, pria itu justru dengan sengaja memukul bokong Hani membuat Hani mengadu kesakitan. " Sia-lan, aku akan benar-benar membunuhmu! Turunkan aku sekarang juga." Teriak Hani sembari mengigit punggung Narendra, namun pria itu hanya membiarkan saja. Seakan gigitan Hani tidak ada rasanya.
Setibanya di parkiran, Narendra langsung menghempaskan tubuh Hani di mobilnya setelah membuka pintu mobil itu tentunya, tak lupa memakaikannya sabun pengaman, Setelah itu berjalan mengitari mobilnya dan masuk kedalam mobil itu bergabung dengan Hani.
Sepanjang perjalanan pulang mereka, Hani terus mengoceh, tidak hanya itu bahkan Hani tiba-tiba menangis dan menyebut nama Keenan, membuat Narendra tiba-tiba menginjak rem dan membuat tubuh mereka terhuyung ke depan. Hani terus berbicara tentang keenan dan bagaimana pria itu meninggalkan dirinya dengan rasa sakitnya.
Hal itu, membuat Narendra mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun ia tidak marah kepada Hani, pria itu justru memarkirkan mobilnya di jalanan yang sepi, kemudian melepaskan sabuk pengaman yang di pakai Hani, menarik tubuh wanita itu hingga berada di pengakuannya. " Harusnya, kamu tidak mencintainya, My lovely! Sebab dia melakukan semua itu karena aku membayarnya, sekaligus bentuk ucapan terima kasih atas bantuan yang pernah aku dan kai berikan." Ucap Narendra sembari mengusap lembut surai coklat milik Hani.
Ada perasaan bersalah saat melihat Hani seperti ini. rasanya dia ingin menceritakan semuanya! walaupun dia tahu Hani saat ini dalam keadaan setengah sadar dan tidak akan mengingat apa yang di katakan malam ini. " Harusnya aku mendengar kata-kata kai, dengan menyusul kamu, bukan mengirimnya padamu." Ucap Narendra lagi.