
Selesai sarapan bersama Hani dan Narendra memutuskan untuk segera pulang, Narendra sempat menengok kepada Melly, tapi pria itu tidak sampai menyapa mertuanya itu, karena tidak ingin, Hani mengetahui keberadaan Melly. Sebab dia hanya ingin mommy mertuanya itu tahu akan perasaan Hani dan masih banyak yang harus di ketahui mereka, sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah di antara mereka tanpa ada yang perlu di tutup-tutupi.
" Kamu nggak kerja?" Tanya Hani, saat ini kedua tengah berada di jalan.
" Nggak, besok aja! Aku ngantuk banget, semalam belum tidur sekalipun, mana malam nanti aku masih harus menemani kai!, Kamu mau ikut kan nanti." Hani dengan cepat mengangguk kepalanya.
" Tapi, aku boleh aja Lita dan Ela kan, bosan cuma aku sendiri! Gimana kalau malam nanti Amna dan Nahla juga datang, bisa mati kebosanan aku, dengar ocehan mereka yang nggak penting." Jawab Hani panjang kali lebar.
" Terserah kamu aja sih! Selama kamu nyaman, lakukan sesukamu." Sahut Narendra, Hani hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.
Tak sampai 30 menit mobil yang dikemudian Narendra pun tiba di rumah orang tuanya.
Pria itu segera membuka kan pintu mobilnya dan keluar dari sana kemudian ia berlari kecil mengitari mobilnya itu untuk membuka kan pintu kepada Hani.
Setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah sambil berpegangan tangan. " Sayang kalian dari mana kenapa baru pulang?" Tanya Luna saat mendapati anak dan menantunya hendak melangkah menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
" Mama, mama dari mana?" Bukannya menjawab Narendra justru balik bertanya.
" Nggak usah ngalih in pembicaraan kalau di tanya." Sahut Luna sedikit sewot dengan putranya itu.
"Semalam itu kairan, mengalami kecelakaan terus aku sama Hani yang menemani dia, di rumah sakit karena kakeknya nggak mungkin menunggu Kairan di rumah sakit. Mama kan tahu sendiri kesehatan kakeknya Kai seperti apa." Jawab narendra tidak sepenuhnya berbohong, lagian dia juga tidak mungkin menceritakan jika semalam itu, sebelum menemani Kairan dia dan hani mencari hotel untuk mereka melakukan adegan pemersatu bangsa tapi gagal.
Nggak lucu sekali, apa kata mamanya, nanti. Memangnya Narendra bocah SD yang segala sesuatunya harus laporan dulu sama sang mama.
"Oh gitu! terus gimana keadaan Kai?" Tanya wanita itu lagi. Membuat narendra mende-sah pendek, sembari menatap tak suka dengan sang mama yang semakin kesini, semakin kepo-an sama kehidupan dia dan Hani. Bukannya mengurusi anak gadisnya yang tidak pernah pulang-pulang. Seperti bang Toyib, malah mengurusi nya dengan Hani.
" Ma! Udah ya aku sama Hani itu capek, kita ngantuk mau tidur! Kalau mama mau tau gimana keadaan Kai, langsung aja ke rumah sakit, sekalian jenguk KAI, jangan lupa bawah buah dan makanan, jangan ganggu kita Mulu." Ucap Narendra dengan sewotnya, sementara Hani hanya diam sambil menggeleng kepalanya.
" Dasar anak, durhaka! Kalau tau besarnya kamu kaya gini! Harusnya mama campurkan saja susu kamu dengan sianida." Ketus Luna.
" Telat." Jawab Narendra, seolah menantang sang mama.
Membuat Luna, semakin kesal kepada putranya itu. Kalau tidak ingat seberapa mahal Guci yang dia pajang tidak jauh dari tempanya berdiri, mungkin Luna sudah menerbangkan Guci itu ke kepala putranya.
" Ayo sayang, kita ke kamar! Jangan pedulikan mertua kamu yang kurang perhatian itu." Ajaknya sembari menarik tangan Hani itu bergegas pergi dari sana sebelum mendapatkan amukan dari mamanya.
Keduanya, bergegas ke kamar mereka, Meninggalkan Luna yang terus saja mengoceh, panjang lebar di belakang sana.
" Azzam, nggak boleh gitu sama mama." Tegur Hani, begitu mereka tiba di kamar mereka.
" Maaf sayang, lain kali nggak gitu lagi." Sahut Narendra, sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Hani dan memeluk wanita itu dari belakang. " Sayang mandi bareng yuk." Ajak Narendra, sembari mencium pundak Hani yang masih terbungkus bajunya.
" Hanya, mandi atau gimana?" Tanya Hani, sembari menahan dirinya. Karena saat ini, Narendra tidak hanya mencium pundaknya Saja.
Bibir suaminya itu sudah menjalar kemana-mana, begitu pun dengan tangannya. Bahkan di posisi seperti ini Hani dapat merasakan, adik suaminya yang mulai membengkak di balik celana yang di gunakan pria itu.
" Icip-icip, sedikit bolehkan." Tawarnya, suara pria itu mulai terdengar serak di telinga Hani.
" Baiklah, kebetulan aku juga udah gerah banget." Putus Hani, membuat Narendra sumringah, tanpa banyak bicara pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya, membawanya ke dalam bathroom, Sebab dia tidak ingin sampai di ganggu lagi, seperti sebelum-sebelumnya. Sebisa mungkin pria itu harus, memanfaatkan kesempatan yang dia punya.