
Narendra menarik dirinya, memberi waktu untuk Hani, sementara dirinya mengambil sabun cair, menetes pada tangan Hani. " Usap pada punggungku." Titahnya, Hani pun mengusap punggung pria itu. Tidak hanya punggung karena Narendra sengaja menarik kedua tangan Hani yang berada di punggungnya, hingga membuat tubuh bagian depan wanita itu. Bertubrukan langsung dengan punggung Narendra. Pria itu bahkan bisa merasakan puncak gunung kembar yang bersentuhan langsung dengan punggungnya yang lincan karena telah di olesi sabun.
Rendra menarik kedua tangan Hani, membawa kedua tangan itu untuk mengusap dada bidangnya. Sebelum ia melepaskan satu tangan wanita itu kemudian menarik satu tangannya lagi dengan begitu lembut melewati sisi tubuhnya, agar Haaniya berpindah tepat di hadapan.
Ia kembali mencium bibir istrinya itu, yang kini sudah menjadi candu baginya. Rasa manis dari bibir Hani, membuat Narendra tidak bisa untuk berhenti. " Hmmmhfff." Hani, yang mulai kehabisan nafas memukul dada bidang Narendra dengan sedikit mendorongnya agar cium mereka terlepas. " Kamu mau bunuh aku." Ucap Hani kesal dengan nafas yang tersengal-sengal.
Bibir pria itu sudah seperti vakum cleaner, menghisap bibirnya tak kenal ampun, membuatnya kehabisan nafas. Disaat Hani menatap kesal kepadanya, Narendra justru tersenyum, sembari merapatkan tubuh mereka, sehingga Hani dapat merasakan, sesuatu yang keras dan panjang, melekat tepat di kulit perutnya, tanpa melihat! Hani bisa menebak seberapa panjang, ukuran benda itu. " Bukan aku yang membunuhmu! Tapi kamulah yang membunuh aku secara perlahan dengan keindahan kamu ini." Sahut Narendra, tangan pria itu dengan lancang menyentuh salah satu bukit kenyal milik Hani, kemudian memijatnya dengan begitu lembutnya. " Malam ini akan menjadi malam panjang untuk kita berdua." Lanjutnya berbisik, sebelum pria itu membungkuk tubuhnya untuk menikmati ujung dari bukit kenyal itu, bahkan ia tidak peduli jika harus menelan sedikit air shower yang masih menetes membasahi tubuh wanitanya, sebab pria itu tidak ingin kehilangan kenik-matan yang telah lama ia rindukan itu.
"Ahhh." Suara yang dapat menaikkan gairah Narendra menjadi berkali-kali lipat itu akhirnya lolos dari bibir Hani, membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan lebih dari ini.
Narendra melepas bukit kenyal itu dari bibirnya kemudian mematikan kran shower, setelah itu mengangkat tubuh Hani, membawanya keluar dari kotak kaca itu dan mendudukkannya di samping wastafel.
Pria itu kemudian mengambil dua buah handuk bersih yang terletak tidak jauh dari tempat mereka, memberi satunya kepada Hani, agar keduanya dapat mengeringkan tubuh satu sama lain.
Hani pun tidak menolak ia dengan senang Hati menerima handuk itu, kemudian mengusap rambut suaminya, perlahan turun kebawah hingga ia dapat melihat dengan jelas benda yang sejak tadi membuatnya merinding. " Ingin, mencoba menyentuhnya." Tawar Narendra, membuat Hani menautkan keningnya tajam.
Wanita itu tiba-tiba teringat akan pesan yang pernah di sampaikan mommy Mayang. Ketika Lita menceritakan jika Narendra juga memiliki kekasih. Hal itu membuat mommy Mayang tertawa geli. Bagi mommy Mayang, ketiga putrinya itu sudah masuk kategori sempurna tinggal mengatur mereka menjadi paket komplit saja, untuk pasangan mereka nanti. Jika suatu hari mereka sampai di selingkuhi, maka ia sebagai ibu gagal dalam mendidik putri-putrinya. Bagaimana tidak dia dapat menaklukkan berbagai macam pria yang datang kepadanya sampai, terkadang mereka lupa diri. Kenapa dia tidak bisa membuat putri-putrinya menaklukkan suami-suami mereka sendiri! Itu hal yang kecil menurut mommy Mayang.
' Wajah cantik, tubuh seksi tidak akan menjamin seorang pria untuk tidak mencari wanita lain di luar sana. Tapi jika kamu bisa memberikan pelayanan terbaik dia tidak akan mungkin mencari wanita lain. Kalian cukup pastikan dua kebutuhannya terpenuhi, Ranjang dan meja makannya. Cara memastikan kedua hal itu terpenuhi dengan baik, yaitu buat Dia menyukai masakan kamu, agar masakan diluar sana tidak dapat menggugah seleranya. Lakukan apapun yang dia inginkan di atas ranjang! Agar dia tidak mencobanya dengan wanita lain di luar sana. Jangan biarkan rasa penasaran dan coba-coba mengambil peranmu karena itu hanya akan menciptakan peluang yang akan membuatmu menyesalinya. Karena terkadang kita terlalu tinggi menilai diri kita hingga tak sadar menciptakan peluang untuk orang lain.' kata-kata itu terlintas di benaknya, membuat Hani tanpa sadar mengiyakan tawaran Narendra.
Padahal dia termasuk wanita pecinta dunia malam, minuman, merokok dan club merupakan rutinitas yang selalu dia lakukan tapi situasi saat ini sungguh benar-benar baru untuknya, dia butuh bimbingan lebih lagi. " Ah sial! Harusnya aku kursus di mommy terlebih dulu sehingga tidak harus sampai se-kaku ini." Gumam Hani dalam Hatinya.
"Aekkh, pelan-pelan sayang." Tegur Narendra, pria itu sedikit meringis karena Hani menyentuh Asetnya sambil meremas kuat aset itu. Entahlah antara gemas atau gugup dianya.
" Aku harus memulai dari mana?" Tanya wanita itu. Membuat Narendra bingung. Sungguh istrinya ini tidak tahu harus memulai dari mana. Dia selama Delapan tahun di luar negeri ngapain aja sih, bukannya di sana terkenal dengan pergaulan bebas. Lalu!
" Ah sudahlah, aku tidak mau kesempatan ini hilang." Gumam Narendra dalam hatinya, pria itu tidak ingin banyak berpikir dan bertanya-tanya di saat seperti ini. Pria itu langsung menuntun tangan Hani menggerakkannya naik turun, tidak hanya sampai disitu ia juga mengajarkan Hani, memanjangkan bendanya itu dengan mulut manis wanitanya itu. Hingga membuatnya mendapatkan pelepa-san yang sejak pagi ia tahan.
Setelah Narendra mendapatkan pelepa-san, Giliran Hani. " Mau apa?" Tanya Hani, ketika suami itu kembali mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya ke tempat semula, karena Hani sempat berjongkok untuk suaminya itu.
Narendra tersenyum. " Nikmati saja sayang, kamu akan menyukainya." Ucap pria itu. kemudian memberikan pengalaman pertama untuk, Hani ia bermain-main dengan lembah basah milik, istrinya itu hingga Hani merasakan sesuatu, yang pertama kali ia rasakan di hidupnya." Ini baru pemanasan kita lanjutkan ke intinya. "Ucap pria itu lagi, saat membiarkan Hani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, sebelum mereka melanjutkan permainan mereka. Karena Narendra tahu, ini pertama kalinya untuk Hani saat melihat dengan jelas lembah basah yang begitu terawat dan masih sangat rapat itu.
Drrrthtt.. drrrthtt...
Saat Narendra ingin mengangkat tubuh Hani ke kamar, ponselnya yang berada dalam sakunya yang terletak di lantai kamar mandi itu berdering di sertai getaran. " Angkat dulu." Ucap Hani, saat Narendra ingin mengabaikan panggilan itu dan melanjutkan permainan mereka di kamar.