HAANIYA.

HAANIYA.
Kamu baik-baik saja?



Baru beberapa jam tertidur, Hani kembali terbangun begitu merasakan sakit perut yang lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.


" Sayang." Panggil Narendra saat merasakan tangannya di genggam dengan begitu kuatnya oleh Hani.


Wanita itu membuka kedua matanya, yang sempat ia tutup kembali untuk menikmati rasa sakit itu. Melihat kepada Narendra yang kini sedang menatap khawatir kepadanya.


Hani menarik kedua sudut bibirnya, hingga terbentuk senyum indah di sana. Wanita itu merasa senang karena Narendra kini sudah baik-baik saja, wajahnya pun sudah tidak Semerah beberapa lalu.


" Perut aku sakit, Azzam." Jawab Hani, suara terdengar serak.


Mendengar jawaban istrinya juga melihat wajah Hani yang pucat, Narendra pun mencabut jarum infus yang terpasang di punggung tangannya kemudian menekan bekas tusukan itu dengan pelan agar tak berdarah.


Setelah yakin bekas tusukan jarum itu tidak berdarah, Narendra langsung berdiri dari duduknya, kemudian membungkuk untuk mengangkat tubuh Hani, lalu membawanya ke kamar yang ada di kabin pesawat itu.


Narendra membaringkan tubuh Hani dengan perlahan di atas ranjang. pria itu berbalik ingin keluar untuk bertanya kepada dua pramugari itu, apa ada obat atau apapun yang bisa membantu meredakan sakit perut istrinya.


Namun Hani menahan tangannya. " Jangan tinggalkan aku, temani aku disini." Pintanya sembari membawa tangan Narendra dan ia letakkan di atas perutnya." Aku masih bisa menahannya! Cukup elus saja perut atau pinggul aku sampai aku tertidur. Dulu bunda sering melakukan itu saat aku pertama kali datang bulan dan Lita yang meneruskannya ketika kita tinggal bersama, Jadi kamu tidak perlu khawatir." Jelas Hani.


Narendra pun terpaksa mengangguk kepalanya, kemudian berbaring di samping Hani dan melakukan apa yang di inginkan istrinya itu.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah menempuh perjalanan belasan Jam akhirnya pesawat itu tiba di bandara. Di sana Kai sudah menunggu mereka dengan sebuah mobil Ambulans.


Entah dari mana pria itu mendapatkan kabar tentang Sahabat-sahabatnya sehingga dia sampai menyiapkan mobil Ambulans segala dan begitu pesawat itu telah benar-benar mendarat dengan sempurna dan sang pramugari membukakan pintu pesawat, Kai langsung berlari masuk kedalam pesawat itu.


" Kamu baik-baik saja?" Tanya Kai saat melihat Narendra keluar dari kamar di kabin itu.


" Ya seperti yang kamu lihat." jawab Narendra.


"Tapi kata orang itu kamu dan Hani tidak baik-baik saja bahkan untuk berjalan saja sulit." Ucap Kai lagi.


" Nanti aku ceritakan, untuk saat ini kita harus membawa Hani ke rumah sakit dulu." sahut Narendra, pria itu awalnya keluar untuk meminta bantuan pramugari, untuk menghubungi Ambulans secepatnya, karena ponselnya ia lupa letakkan dimana.


" Ayo, aku sudah menyiapkan Ambulans untuk kalian." Ujar Kairan, Narendra pun mengangguk, Setelah itu ia kembali masuk kedalam kamar itu. Mengangkat Hani dari tempat tidur kemudian membawanya turun dari pesawat.


Pria itu lalu membaringkan tubuh istrinya di atas brankar ambulans yang di bawa Kai. Wajah Hani terlihat begitu pucat kedua kaki dan tangannya begitu dingin. Namun Narendra masih bisa tenang karena merasakan nafas Hani saat menggendongnya walaupun nafasnya berangsur-angsur melemah.