HAANIYA.

HAANIYA.
Kok bisa?



" Lita dan Ela." Jawabnya sembari menunjukkan Layar ponselnya kepada Narendra.


Hani melakukan hal itu bukan karena takut Narendra curiga yang tidak-tidak, wanita itu, hanya tidak ingin banyak drama, kalau bisa di selesaikan dengan cepat kenapa tidak.


Sementara itu, Narendra Hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Pria itu tidak lagi banyak bertanya dan memilih berlalu dari Hadapan Hani menuju bathroom setelah mencium pipi Hani saat Wanita itu kembali fokus dengan ponsel di tangannya.


...\=\=\=\=\=\=\= ...


Tepat jam tujuh malam, Hani dan Narendra tiba di rumah sakit, dimana Kai di rawat, keduanya akan menunggu Kai, seperti janji Rendra kepada kakeknya, walaupun Pria itu memiliki banyak pelayan di rumah sang Kakek yang selalu siap, setia saat dia butuhkan. Tapi sebagai Seorang sahabat, Narendra menawarkan dirinya untuk menunggu Kai. Lagian Hani sendiri pun tidak keberatan. Hitung-hitung sedang beramal kepada Kai. Sebab pria itu sekarang adalah pria cacat yang wajar jika mendapat empati dari Hani dan sang suami.


" Sayang, mau makan dulu?" Tawar Narendra, keduanya saat ini tengah berjalan menuju ruang rawat Kai.


"Nggak deh! Emangnya kamu mau makan lagi?" Jawab Hani, sekaligus balik bertanya, karena sebelum mereka kesini, Narendra sudah makan terlebih dulu, sementara Hani belum sama sekali, wanita itu hanya menikmati jus buah buatannya sembari menemani Narendra makan. Sebab dia ingin makan malam bersama kedua sahabatnya.


Narendra dengan cepat menggeleng kepalanya seraya menjawab. " Nggak sayang! Tapi nanti kalau lapar bilang ya! Biar aku temani kamu, cari makan nanti." Narendra sungguh khawatir, karena istrinya itu hanya makan pagi tadi, saat keduanya makan di kantin, dia takut istrinya itu, sakit karena telat makan.


Narendra tidak tahu, saja jika nafsu makan Hani itu sangat buruk. Dia makan pun saat ingin saja. Seperti saat ini, dia ingin makan bersama kedua sahabatnya, tentu saja dia akan menunda waktu makan agar bisa makan bersama Lita dan Ela. Mau heran tapi ini Hani.


" Iya." Jawab wanita itu seadanya. Dan tidak terasa keduanya kini sudah berada didepan ruang rawat Kai.


Narendra langsung memutar handel pintu itu, tanpa mengetuk terlebih dulu! Toh dia yakin tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi sayangnya dugaan pria itu salah, hingga membuatnya salah tingkah sendiri. " Maaf kek! Aku pikir nggak ada orang." Ucap Narendra sedikit membungkuk, begitu pun dengan Hani.


" Nggak papa nak! Kemari-lah, kakek akan mengenal kan kalian kepada calon mertua Kai." Panggilannya, membuat sepasang suami istri itu pun mendekat. " Kenalin Ini Rendra sahabat Kai dan Yang cantik ini istrinya, saya sudah mengganggap mereka, seperti cucu saya sendiri, kalian tidak keberatan kan, Jika pembicaraan ini juga di dengar oleh mereka." Lanjut pria sepuh itu.Orang tua Samna dan Samna sendiri pun tidak dapat menolak, kehadiran Rendra dan Kai di sana.


Hampir dua jam mereka berbicara, pembicaraan itu mengarah pada pernikahan Samna dan Kai yang akan mereka lakukan segera, begitu pria itu keluar dari rumah sakit nanti.


Setelah pembicaraan itu selesai orang tua Samna dan Samna sendiri pamit pulang, di ikuti kakek Kai, setelah menitipkannya kepada Narendra dan Hani.


" Kai, kamu yakin mau nikah?" Tanya Narendra, begitu ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga saja.


" Mau gimana lagi Rendra! Keadaan aku udah kaya gini, mana Amna Hamil! Belum lagi, mengharapkan Ela seperti, punggung merindukan rembulan." Jawab Kai membuat sembari tersenyum getir.


Pria itu memang sudah lama menaruh Hati kepada Ela dan Narendra mengetahui hal itu, pria itu pun tidak dapat membantu banyak selain membiarkan semuanya mengalir dengan semestinya. Dia pun tidak membatasi Kai untuk mendekati Ela, semua itu sebagai bentuk dukungannya kepada sang sahabat, namun dia juga tidak bisa memaksa adiknya itu.


"Mungkin kalian bukan jodoh! Semoga segala sesuatunya lancar sampai hari H." Ucap Hani dengan tulus. Wanita itu pun sempat tersenyum masam mendengar jawaban Kai yang mengatakan Kekasihnya Hamil.


Ternyata bukan, Narendra saja! Kai pun sama saja dengan Narendra, apa mungkin Arga juga begitu. Kalau ia, bukankah seharusnya mereka menikah. Agar Lisa tidak sampai bernasib seperti Amna.


Memikirkan hal itu membuat Hani menjadi khawatir kepada saudari angkatnya itu, terlepas dari semua sikap buruk Lisa yang membuatnya dan sang mommy Jauh. Hani tetap memiliki kepedulian tinggi terhadap orang-orang sekitarnya.


" Kok bisa dia Hamil? Bukannya kalian udah dua bulan lebih marahan?" Tanya Narendra yang tahu betul seberapa renggang hubungan Kai dan Amna! Sebab Kai selalu berada disisinya, bahkan pria itu ikut menemaninya ke Bali dan mencari tahu apa yang terjadi pada Hani saat berziarah ke makam Keenan beberapa bulan lalu.


"Ya Gimana lagi Ren, kenyataannya gitu." Se-pasrah itu seorang Kai, sampai menerima begitu saja.