
Narendra melangkah masuk kedalam kamar mereka sembari membawa nampan berisi makanan untuk istrinya itu.
"Honey, kamu sedang apa?" Tanya Narendra ketika mendapati sang istri tengah berkutat dengan laptopnya.
"Melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan sejak keluar dari negara itu." Jawab nya tanpa menatap kearah Narendra sedikitpun.
Wanita itu begitu fokus dengan layar laptop yang berada di pangkuannya.
Narendra yang penasaran dengan apa yang di lakukan istrinya itu, meletakkan nampan di atas meja depan sofa kemudian, menghampiri Hani untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.
" Ini?" Ucap Narendra, pria itu sedikit terkejut dengan apa yang dia lihatnya. " Bagaimana bisa kamu mendapatkan semua data-data transaksi gelap dan surat-surat penting perusahaannya." Pria itu antara kagum dan tak percaya dengan apa yang bisa di lakukan istrinya.
" Walaupun Semua berkas-berkas ini terlihat menguntungkan aku, tetapi aku tidak akan se-picik itu untuk mengunakannya, aku hanya ingin memanfaatkan bukti transaksi gelap dan bisnis gelapnya untuk menahan dia tetap di negaranya itu." Sahut Hani, menjelaskan apa yang akan dia lakukan kepada Regan.
Wanita itu tidak bisa membunuhnya tapi dengan semua bukti salinan yang dia ambil Hari itu dapat memenjarakan Regan di negaranya.
Tidak hanya itu, dia juga akan mengirim semua bukti-bukti yang dia punya kepada badan intelijen negara, dimana Regan tinggal agar pria itu mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Dimana kamu menyimpan file itu, bukannya kita keluar kamu tidak membawa apapun?" Tanya Narendra ingin tahu.
" Aku sudah mengirimnya kepada orang kepercayaanku, sebelum kamu datang hari itu dan aku baru memintanya tadi. Sekarang sudah Selesai kita tinggal menunggu beritanya saja." Jawabnya.
Hani pun mematikan laptop itu dan mengembalikannya kepada Narendra. " Aku lapar, apa itu untukku?" Tanya wanita itu sambil menunjuk nampan yang diletakkan Narendra di atas meja.
" Ya! Makanlah." Ucapnya sembari mengusap kepala sang istri.
Hani pun turun dari ranjang itu lalu duduk di sofa, wanita itu menikmati makan siang, sembari di temani Narendra yang masih menatap bingung dengan semua kehebatan Hani.
berbeda dengan Hani yang justru menunjukkan ekspresi datarnya seolah tidak terjadi apa-apa.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Malam harinya Hani yang baru saja memejamkan matanya, kembali membuka kedua matanya, saat mendengar dering panjang dari ponsel-nya yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
Hani menaikkan kedua bahunya, wanita itu tidak tahu siapa yang menelponnya karena, id penelepon pun baru, hanya deretan angka yang ada pada layar ponsel itu tanpa nama.
" Abaikan saja." Ucap Narendra lagi, wanita itu pun mengabaikannya namun orang itu terus saja menelepon.
Sehingga hani pun mau tidak mau mengangkat panggilan itu. " Halo siapa ini?" Tanya Hani.
Wanita itu terlihat kesal namun, ia tetap bersikap ramah kepada peneleponnya. " Hai Haaniya, ini aku Lisa! Maaf apa aku menganggu waktu istirahat kamu?" Tanya wanita itu dari seberang sana.
Hani sedikit menjauhkan ponselnya untuk melihat layar ponselnya sebelum menempelkan benda pipih itu lagi pada daun telinganya.
" Siapa?" Tanya Narendra tanpa mengeluarkan suara hanya gerakan bibirnya saja.
" Tak masalah, kebetulan aku belum tidur." Sahut Hani. " Ada apa." Tanya Hani begitu to the points, karena tidak suka berbicara lama-lama dengan wanita itu.
"Lusa aku akan menikah? Kamu tidak ingin menemaniku, bukankah kita berdua adalah keluarga." Tanya Lita, membuat Hani memutar bola matanya malas.
Sejak melihat rencana dan wajah asli wanita itu, Hani begitu malas berinteraksi lama-lama dengan Lisa! bahkan menganggapnya saudara saja tidak, karena bagi Hani! orang yang tidak tahu berterima kasih seperti Lisa tidak pantas menjadi saudarinya.
" Maaf Lisa, kamu tahu sendiri aku baru Keluar dari rumah sakit dan dokter memintaku untuk beristirahat jadi aku tidak bisa kesana! Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu dan kak Arga." Ucap wanita itu tulus.
"Aku begitu mengharapkan kehadiran! tapi kamu malah berniat tidak datang." Wanita itu masih mencoba untuk membujuk Hani, walaupun dia tahu jawabannya tetap sama.
"Maaf, aku mengecewakan kamu! jika kamu tetap ingin bagian dariku ada di sana! maka aku akan mengirim Lita untuk menggantikan aku, tolong bersikap baiklah kepadanya." Ucap Hani kemudian mengakhiri panggilan itu secara sepihak tanpa ingin mendengar jawabannya yang mana membuat Hani semakin muak kepadanya.
Narendra mengusap punggung Hani saat menyadari kekesalan istrinya itu.
Semenjak Hamil, Hani memang gampang sekali kesal dengan sesuatu, ia lebih mudah terbawa perasaan tapi wanita itu tidak begitu saja mengikuti moodnya yang naik turun itu.
"Istirahatlah, abaikan wanita itu! jangan pedulikan dia." Ucap Narendra sambil memeluk Hani. " Kamu juga tidak perlu menyuruh Lita kesana." lanjutnya lagi.
Namun Hani justru menggeleng kepalanya. " Tidak Azzam, aku akan tetap meminta Lita untuk hadir mengantikan aku dan semuanya aku lakukan karena kak Arga bukan Lisa." Sahutnya.