
Narendra dan Kairan, mengenali Keenan saat keduanya menjadi perwakilan mahasiswa yang mengikuti pertukaran mahasiswa di fordham university yang berada di Manhattan. Saat kegiatan kampus mereka selesai. Kai mengajak Narendra untuk berjalan-jalan sekaligus mencari kesenangan di kota itu. menikmati indahnya dunia malam dengan harapan mereka bisa bertemu dengan Haaniya, karena dari yang Narendra dengan! Hani melanjutkan kuliah di negara paman Sam itu.
Setiap malam mencari dengan terus mendatangi tempat-tempat yang di datangi anak-anak muda untuk nongkrong dan melakukan aktifitas malam mereka. Narendra dan Kairan tak kunjung bertemu dengan gadis itu. maklum saja, paman Sam bukan negara yang kecil sehingga tidak ada istilah dunia tak selebar daun kelor.
Dan pada malam terakhir kedua pemuda itu disana, mereka tidak sengaja bertemu dengan Keenan yang hampir mati di keroyok lima orang pria bertubuh kekar, tak sebanding dengan tubuh jangkung pria itu.
Tanpa pikir panjang, keduanya langsung menolong Keenan walaupun mereka harus mendapat luka lebam yang cukup parah di wajah mereka, tapi setidaknya pria itu selamat.
Tidak hanya menolongnya, keduanya juga membawanya ke klinik dan menyembunyikan pria itu di kamar mereka tanpa sepengetahuan teman-teman mereka. sehingga Narendra tidak sengaja menemukan tanda pengenal Keenan, dari situlah di tahu siapa Keenan dan apa pekerjaannya. Selain itu Keenan juga bercerita, pria-pria yang menghajarnya adalah anak buah dari bos yang sedang mereka incar untuk menggali informasi dan sial dia di jebak rekannya yang berkhianat, bersyukurnya Narendra dan Kairan membantunya kalau tidak, entah apa jadinya pria itu.
Dan setelah bercerita panjang lebar tentang keenan, giliran pria itu bertanya kenapa Kai dan Rendra ada di sana, tanpa pikir panjang, Kairan pun menjawab jika mereka berada disana karena sedang mencari seseorang. disitulah awalnya Keenan mengetahui Haaniya, walaupun baru melihat di foto saja dan awalnya ia serius ingin membantu Narendra dan kai dengan mencari Hani, tapi setelah menemukan Gadis itu dan melihat ketulusan, keberanian serta kebaikannya Keenan tak bisa memungkiri ada rasa yang spesial untuk Hani. dia yang biasanya selalu mengirim informasi tentang Hani kepada Narendra, perlahan-lahan mulai jarang hingga Hani menerima perasaannya dan sejak saat itu Keenan tidak pernah mengirim informasi apapun kepada mereka, Keenan justru menghilang tanpa jejak begitu pun dengan Hani. Dan setahun sebelum Hani pulang, barulah wanita itu memberi kabar kepada orang tuanya. bahkan Narendra dan Kairan belum tahu jika Keenan sudah meninggal.
Tak heran jika Narendra begitu marah dan membenci pria yang bernama Keenan itu, apalagi ia mendengar sendiri Hani mengigau memanggil-mangli namanya, padahal wanita itu baru ia sah-kan menjadi istrinya.
" Aku tidak pernah membencimu Haaniya! Aku justru bahagia saat Oma Vio, berkata akan membawakan aku teman wanita yang akan menemani aku bermain sampai besar dan bisa tinggal bersama! tapi kenapa kamu terus menjauh dan tak mau berteman denganku! aku menganggu kamu agar kamu mau bermain lebih lama bersama aku tapi kamu tidak pernah datang lagi, setelah itu.aku pikir kamu marah dan membenciku." Ucap pria itu, sembari memeluk tubuh Haaniya yang telah tertidur lelap dalam pangkuannya. tangan Narendra bergerak menyingkirkan anak-anak rambut Hani yang menutupi wajahnya. " Katakan aku harus apa agar kamu tidak pergi lagi, katakan aku harus bagaimana agar kamu mau terus bersamaku. aku tidak mungkin menganggu kamu lagi, karena aku takut kamu akan pergi lagi." Tanya Narendra lagi, walaupun dia tahu Hani tidak akan pernah menjawab pertanyaannya.
Setelah lelah berbicara seorang diri, Narenda memutuskan untuk membawa Hani pulang, sehingga istrinya bisa beristirahat dengan nyaman.
......🌹🌹🌹🌹🌹......
Silau matahari yang masuk melalui celah tirai jendela mengusik tidur Haaniya, membuat wanita itu dengan perlahan mulai membuka kedua matanya dan tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya, akibat terlalu banyak minum semalam.
" Kepala kamu Sakit! nih minum dulu." Ucap Narendra, pria itu menghampiri Hani sembari menyerahkan segelas air putih beserta obat pereda rasa nyeri kepala Hani.
Tanpa banyak bicara, Hani meraih obat dan gelas itu, kemudian meminumnya." Terima kasih." Ucapnya seraya menyerahkan gelas itu kembali kepada Narenda.
Pria itu meletakkan gelas itu di atas nakas kemudian menarik bangku di meja Rias, Sebelum mendaratkan bokongnya disana. "Sudah merasa lebih baik?" tanya Narendra sembari menatap wajah istrinya itu.
" Syukurlah, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ucap Narendra to the point. Setelah semalam memikirkan mau dibawah kemana hubungannya dengan Hani, Tentu saja dia tidak akan pernah mau menceraikan Hani setelah enam bulan pernikahan mereka. Karena dia ingin menghabiskan waktunya bersama Hani, terserah jika wanita itu menganggapnya plin-plan atau apapun itu, yang pasti dia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
Apalagi kata-kata sang mama kemarin terus saja mengusik pikirannya, membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
"Apa yang kamu ingin bicarakan?" Tanya Haaniya, pada Akhirnya, sebab pria itu berkata ingin berbicara dengan dia namun setelahnya ia hanya diam dan melamun tak jelas.
" Aku ingin membatalkan perjanjian enam bulan kita_"
" Aku tidak akan bertanya, apa alasan kamu berkata seperti ini! tapi satu yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah mengubah pendirian aku. Lagian aku juga tidak punya alasan untuk tetap berada di samping mu. jadi aku mohon sama kamu, kita tetap pada perjanjian awal, Setelah enam bulan kamu dan hidupmu begitu aku dan hidupku tidak akan lebih." Tolak Hani dengan tegas.
Tegas Haaniya, membuat Narendra tidak dapat berkata-kata. "Apa kamu membenciku." Hanya kata itu yang terlintas di pikiran Narendra untuk penolakan Hani.
"Atas dasar apa aku membencimu! aku hanya ingin menjalani semuanya seperti kesepakatan awal, apa itu salah? Sudahlah aku mau mandi dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Narendra, Hani langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Hari itu, tidak ada yang beraktivitas di luar rumah, karena weekend, semua orang memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah, kesempatan itu digunakan Narendra untuk terus mendekati Hani, bahkan sikap pria itu sudah tidak se-ketus Sebelumnya. Namun semua itu Tidak akan semudah itu membuat hati Haaniya luluh.
"Hani, katakan aku harus apa! sehingga kamu mau menyetujui pembatalan perjanjian kita?" Tanya Narendra, saat keduanya hanya berdua di taman belakang.
"Kamu yakin ingin membatalkan perjanjian ini?" Tanya Hani, karena pria itu terus mengikutinya, layaknya anak Ayam yang mengikuti induknya.
"Tentu saja." Jawab Narendra dengan yakin.
" Buat Aku Nyaman dan mau bertahan disisi kamu."