HAANIYA.

HAANIYA.
Hani mengerti



"Silahkan mom." Ucap Narendra, setelah membuka pintu kamar mereka dan mempersilahkan Melly untuk masuk.


Melly pun melangkah masuk kedalam kamar itu


Sedangkan Narendra di tarik keluar oleh Luna." Ayo bang, biarkan mommy sama Hani ngomong berdua. Kamu temani mama." Ucap Luna.


Narendra pun hanya pasrah mengikuti langkah sang mama, berdebat pun dia tidak akan menang.


Sementara itu di dalam kamar Melly duduk di sisi ranjang tepat di samping Hani yang tengah tertidur.


Wanita itu mengusap kepala Hani dengan begitu lembut, takut akan membuat putrinya itu terganggu. Sayang.


Sayangnya Hani terlalu sensitif dengan pergerakan sekecil apapun, sehingga hal itu membuatnya terbangun. " Azzam," Panggilnya tanpa membuka kedua matanya. " Aku masih ngantuk." Sambungnya lagi.


" Ini mommy sayang! Bukan Rendra." Ucap Melly, membuat kedua mata Hani langsung terbuka sempurna. Wanita itu tidak langsung menengok kearah Melly karena pandangannya hanya lurus ke depan.


" Mommy ngapain disini?" Tanya Hani, Setelah ia terdiam cukup lama.


" Mommy kangen sama Hani, mommy juga ingin minta maaf." Jawab Melly, Hati nya sakit saat melihat Hani berbicara tapi tidak ingin melihat kearahnya.


" Kenapa mommy minta maaf sama Hani! Mommy nggak punya salah sama Hani." Ujarnya, walaupun berat namun pada akhirnya ia beranjak untuk bangun dari tempat tidurnya.


Hani bersandar pada kepala ranjang, wanita itu menatap kepada melihat tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


" Tapi nyatanya mommy salah sayang! Mommy secara nggak sengaja telah menyakiti kamu dan nggak memikirkan perasaan kamu." Melly berkata sembari meraih Kedua Tangan Hani, menggenggamnya dengan begitu eratnya. " Maafkan mommy, sayang." Wanita itu kemudian mencium punggung tangan Hani, berulang-ulang.


Melly menangis menyesali apa yang telah dia lakukan kepada Hani dulu.


" Mom, jangan seperti ini! Mommy nggak salah. Bukankah mommy sering berkata kalau Hani anak yang pintar, Hani punya segalanya dan Hani harus belajar mandiri, Hani sudah turuti semua itu, kenapa mommy harus menangis seperti ini, harusnya mommy bangga, setidaknya Hani tidak akan merepotkan kalian lagi." Ucapnya membuat tangisan Melly semakin menjadi.


" Hani mengerti kok, Lisa nggak punya siapapun sedangkan Hani punya kakek, Daddy, mommy, nenek dan bunda Dian yang sayang sama Hani. Mommy yang mengatakan itu setiap Hani minta waktu mommy. Dan dari semua yang pernah mommy katakan, mommy ingin Hani menjadi yang terbaik, benarkan? Sekarang Hani sudah turuti semua yang mommy inginkan, lalu apa lagi. Please Jangan menangis mom, Hani seperti ini karena keinginan mommy. " Melly semakin tidak bisa menahan diri, wanita itu begitu sulit menghentikan laju air matanya.


Tidak hanya sampai disitu, Hani terus mengeluarkan unek-uneknya, yang dia rasakan selama ini dan tanpa bisa ia tahan lagi.


Sejujurnya Hani sudah berusaha untuk menahan dirinya, agar tidak sampai menyakiti hati mommy-nya! Tapi semua itu keluar begitu saja dari bibirnya. Bahkan ia dengan terang-terangan mengatakan rasa bencinya kepada Dion. Membuat Hati Melly semakin Hancur.


Wanita itu berbicara dengan cukup tenang awalnya, tapi lama kelamaan ia terbawa perasaan hingga menaikkan volume suaranya dan juga ikut menangis bersama Melly.


Membuat Luna dan Narendra yang berada di luar begitu terkejut dan mereka pun langsung berlari masuk kedalam kamar di mana Melly dan Hani berada.


" Honey tenang ya." Ucap Narendra sembari mengusap punggung Hani, sementara Luna mengajak Melly untuk keluar dari sana, karena takut terjadi sesuatu dengan Hani dan calon cucu mereka.