
Tap Tap Tap
Bunyi langkah kaki terdengar di koridor rumah sakit yang mulai terlihat ramai dengan calon pasien serta kerabat pasien dan beberapa tenaga medis berlalu-lalang untuk tuan mereka masing-masing termasuk ibu dua anak itu.
"Hani." Panggil seseorang membuat wanita itu menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati adik ipar sekaligus sahabatnya itu memanggilnya.
"El, kamu mau pulang?" Tanya Hani, Ela pun menjawab dengan mengangguk kepalanya." Kalau begitu temani aku." Lanjutnya, sembari menarik tangan adik iparnya itu untuk mengikutinya tanda menunggu persetujuan Ela.
Keduanya melangkah menuju ruangan dokter dimana dia telah membuat janji dengan dokter itu.
"Kamu belum mau menyerah juga, padahal kalian sudah Al dan Arend! Apa lagi yang kamu inginkan? Buat aku laki-laki atau perempuan sama saja." Ucap Ela membuat Hani menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wanita itu.
"Ya kamu benar El, laki-laki dan perempuan sama saja. Hal ini tidak akan mengurangi cintaku kepada Al dan Arend, mereka berdua tetap belahan jiwaku. Tapi aku iri sama kamu dan Lita, kalian bisa mendandani anak kalian berdua dengan pakaian model apa saja, kalian bisa menguncir rambut merah dengan model yang berbeda setiap hari sedangkan aku tidak bisa melakukan itu kepada Kedua putrakku_" Ucap Hani sembari memasang wajah cemberutnya.
"CK ck ck, sepertinya yang kamu butuhkan bukan seorang putri tapi mainan." Sahut Ela sembari menggeleng kepalanya.
" Terserah, sekarang temani aku." Ujarnya dan keduanya pun melangkah menuju ruang dokter tanpa Ela bisa menolaknya.
Setibanya di ruangan dokter Hani langsung di periksa dengan sebagian mestinya dan untuk kesekian kalinya, wanita itu harus menelan kekecewaan karena usahanya gagal lagi.
Padahal dia sudah rutin meminum obat penyubur kandungan yang di berikan oleh dokter bahkan semua pengamanan yang Narendra punya telah ia lubangi namun hasilnya tetap sama.
Pria itu terlalu sangat pintar menjaga agar istrinya itu tidak perlu hamil lagi. " Sabar Han, mungkin Tuhan belum ingin memberikan kalian kalian kepercayaan untuk saat ini." Ucap Ela menasehati Hani, agar wanita itu tidak terlalu kecewa dengan hasil yang pemeriksaan itu.
" Nggak ini semua karena saudara kamu itu." Sahut Hani terdengar kekanakan-kanakan namun Ela hanya menanggapinya dengan senyum kecil.
"Dia Hanya tidak ingin kehilangan kamu! Kamu tahu apa yang terjadi hari itu pada kamu, mempengaruhi semua orang termasuk hubungan mereka berdua." Ucap Ela.
" Ya aku tahu, tapi buktinya aku nggak kenapa-kenapa dan ada bersama kalian saat ini." Sahut wanita itu masih tetap pada pendiriannya.
"Terserah kamu saja, aku akan mendoakan terbaik untuk kalian." Ujar Ela. Wanita itu menyerah meyakinkan Hani karena dia merasa percuma berbicara dengan wanita keras kepala itu.
Setelah dari rumah sakit dan mengantar Ela ke rumahnya, wanita itu langsung menuju perusahaan suaminya. Dan di otaknya kini sudah tersusun rencana baru untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Setibanya di perusahaan Narendra, wanita itu langsung melangkah menuju ruangan ruang suaminya.
Tak butuh waktu lama, Hani kini sudah berada di depan ruang kerja Narendra, tanpa mengetuk pintu, wanita itu langsung memutar Handle pintu itu dan masuk begitu saja.
Dia meletakkan tasnya di atas meja kerja Narendra, membuat pria yang sedang sibuk itu menghentikan pekerjaannya. Sementara Hani melangkah ke belakangnya dan memeluk Narendra dari belakang sembari mencium pipi pria itu.
Narendra yang merasa tak puas dengan ciuman singkat Hani, memiringkan kepalanya dan menahan tengku Hani lalu membenamkan bibirnya pada bibir belahan bibir Hani.
"Kita liburan." Hani berkata di depan wajah Narendra setelah pria itu menyudahi ciuman mereka.
"Kamu gagal lagi, Honey." Tanya Narendra, pria itu selalu tahu apa yang di lakukan istrinya di luar rumah termasuk program hamil yang dia jalani di belakangnya.
"Hmmm, untuk itu aku butuh liburan, siapa tahu dengan begitu aku bisa memiliki ide baru untuk membuat kamu dengan suka rela menghamili aku." Jawab Hani membuat pria itu tertawa.
" Honey, itu tidak akan terjadi karena kita sudah memiliki Al dan Arend. Oke! Mereka sudah sangat cukup buat kita." Ucap Narendra sembari menarik untuk duduk di pangkuannya. "Kapan kamu ingin liburan?" Tanya Narendra ketika Hani hanya terdiam.
"Besok." Jawab Hani.
" Oke besok kita akan liburan, berdua atau berempat." Sahut Narendra sembari bertanya lagi.
"Berdua." Pria itu mengangguk dan tidak mempermasalahkan hal itu.
Dan keesokan paginya keduanya langsung berangkat ke Maldives setelah menitipkan Al dan Arend ke rumah Keluarga Xavier, atas keinginan kedua anak itu sendiri.
Al dan Arend yang tidak terlalu suka keramaian, lebih nyaman berada di rumah Melly dan Dion, bukan berarti mereka tidak suka ke rumah Luna dan Reval, keduanya suka juga kesana tapi tidak suka dengan keributan dan suara tangisan anak-anak di rumah itu, walaupun mereka sendiri masih anak-anak.
Di kediaman Xavier, Al dan Arend selalu di temani oleh Melly dan Dion, rasa bersalah Meraka kepada Haaniya, mereka tebus dengan menghabiskan waktu mereka untuk mengurus serta mencurahkan kasih sayang mereka untuk kedua cucu mereka.