HAANIYA.

HAANIYA.
Negara sejuta kenangan.



Setelah berjam-jam berada di pesawat akhirnya Hani tiba di tempat tujuan. Tepat sebuah negara yang mengajarkan dia sisi lain dari dirinya yang sekarang, sisi lain dari dunia gelap, dimana segala kejahatan di benarkan di dalamnya.


Di negara itu dia memiliki berjuta kenangan, mulai dari kenangan yang terindah sampai kenangan yang paling terpahit ada disini.


Dan di tempat ini juga, dia belajar sekaligus berkerja sebagai seorang mata-mata untuk Keenan. Mulai dari membuntuti seseorang, menyamar menjadi tamu penting, melacak orang hilang hingga mencuri data-data rahasia dari penguasa-penguasa yang berada di negara itu ada negara lain. dan masih banyak penting lainnya, seperti yang diinginkan pria itu. Tapi sayang semuanya hanya tinggal kenangan, sebab pria itu sudah mendapat tempat terbaik disisi sang pencipta.


Hani mengusap cairan bening, yang jatuh tanpa permisi dari kedua sudut matanya, bukan sesuatu yang baru jika mengingat pria itu mata dan hatinya akan kembali merasakan pedih.


Untuk mengontrol perasaannya sendiri, Hani menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembusnya dengan perlahan sebelum ia menghentikan Taksi yang lewat di hadapannya, saat dirinya berada di depan pintu keluar bandara.


Taksi itu pun berhenti sedikit jauh darinya, kemudian bergerak perlahan mundur sebelum Hani menggapai pintu taksi itu dan melangkah masuk kedalamnya.


Setelah Hani menyebut alamat yang ingin dia tujuh taksi itu pun kembali melaju membelah jalanan yang masih terlihat bagitu ramai padahal waktu telah menunjukkan pukul empat pagi. Karena di Negara itu seperti tak kenal tidur, sehingga malam atau siang terlihat sama saja.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh lima menit, akhirnya taksi itu berhenti di sebuah hotel. Yang ingin di tujuh Hani. hotel itu adalah hotel yang sama, yang disewa Regan dua tahun lalu untuk ucapan pernikahan mereka, sayangnya Keenan cepat datang sehingga pernikahan itu tidak terjadi, andai saja Keenan tidak datang mungkin saat ini pria itu masih hidup, walaupun dia tetap menjadi istri pria lain.


Entah kenapa Hani tiba-tiba merasa menyesal meninggalkan pernikahannya dengan Regan Waktu itu. Bukan karena dia senang menikah dengan Regan, Hanya saja dia berpikir. Andai waktu dia tidak pergi bersama Keenan, mungkin sampai detik ini, dia masih bisa melihat senyum di wajah pria itu walaupun statusnya sebagai istri seseorang. Dan pada akhirnya dia tetap menjadi istri pria lain yang membedakan semuanya, ia tidak dapat melihat Keenan untuk selama-lamanya.


" Ayo Haaniya, tidak ada gunanya kamu mengandai-andai sesuatu yang telah berlalu, karena hal itu hanya akan membuat kamu semakin merasakan sakit hati. Percayalah apa yang ditakdirkan tuhan jauh lebih indah dari rencana kamu." Ucapnya di dalam hati untuk meyakinkan dirinya sendiri jika semua akan baik-baik saja, sembari mendongak keatas, membiarkan air matanya jatuh dengan bebas.


Sesakit ini kah tuhan mengujinya, membiarkan dia mencintai tapi tidak dapat memiliki, membiarkan dia merindu tanpa bisa melupakan rasanya. Sungguh sangat menyiksa.


Setelah beberapa saat terpaku dalam perasaannya, Hani pun menyudahi semua itu. Ia mengusap kedua pipinya dengan kasar, menghapus jejak basah disana Sebelum melangkah masuk ke lobby hotel, berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, menghampiri resepsionis memesan kamar untuk dia menginap selama berada di sini.


Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Hani langsung menuju lift yang akan membawanya ke lantai 5 dimana kamarnya berada. Setibanya wanita itu di dalam kamarnya! dia langsung membersihkan dirinya sebelum berbaring sejenak di ranjang untuk menghilangkan jet leg nya serta menunggu datangnya mentari.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


" Kenapa bang? Pulang-pulang kok mukanya kelihatan cemas gitu." Tanya Luna, saat melihat anaknya yang baru pulang dalam keadaan yang sedikit berantakan dari biasanya.


" Nggak papa mah! Abang cuma capek aja, lagi banyak kerjaan di kantor." Jawab Narendra, walaupun ucapannya tidak sepenuhnya berbohong. Sementara itu, Luna hanya tersenyum mendengar jawaban Narendra sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


" Ya sudah, kamu ganti baju dulu sana habis itu turun kita makan malam sama-sama."


Pinta Luna kepada putranya itu dan Narendra pun hanya mengiyakan Sebelum ia meneruskan langkahnya ke kamar.


Didalam kamar, Narendra tidak langsung mandi dan berganti pakaian seperti yang di minta Luna, karena pria itu kembali mencoba untuk menghubungi Hani lagi, Walaupun hasilnya tetap sama saja.


Narendra tidak tahu saja, jika ponsel Hani saat ini di pegang oleh adiknya, Ela. Sedangkan Ela sendiri lupa untuk mengaktifkan ponsel Hani, setelah ia matikan Sebelum pesawat take off semalam. Sementara ponselnya mati dan belum sempat di cas. Karena setibanya di Jakarta, Ela langsung beristirahat, esok paginya wanita itu kembali berkerja dan dia harus menghadap kepala ruang karena dua hari ia absen tanpa keterangan apa-apa, itulah sebabnya kenapa Narendra tidak dapat menghubunginya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Narendra turun untuk bergabung bersama kedua orang tuanya dan Naina," Abang ngapain aja sih, lama banget nggak tahu apa cacing diperut aku sudah berdemo sejak tadi."Keluh Naina saat Narendra menarik kursi di sampingnya dan mendaratkan bokongnya disana.


" Maaf sayang! Tadi kakak terima telepon dulu. " Ucap Narendra setelah mencium pipi Naina berharap hal itu dapat mengembalikan mood sang adik, tapi yang terjadi justru wanita itu semakin bertambah kesal.


" Hiiisshh Abang! Naina itu bukan anak kecil lagi. Jangan di cium-cium, gitu." Kesal Naina karena terus di perlakukan seperti anak kecil padahal sebentar lagi usianya akan memasuki dua puluh dua tahun.


Hanya saja wajahnya yang baby face dengan tinggi hanya seratus lima puluh delapan centimeter, membuatnya terlihat jauh lebih mudah dari umurnya.


" Abang." Teriak Naina tidak suka, pasalnya sang kakak tahu dia kesal tapi sengaja membuatnya semakin bertambah kesal dengan mencubit kedua pipinya yang sedikit chubby.


" Narendra." Tegur Reval, Jika sang papa sudah memanggil namanya tanpa embel-embel Abang, berarti di harus berhenti dan Narendra masih mematuhi hal itu walaupun dia sudah beristri. Lagian sebagai seorang anak, mereka tidak punya batas waktu untuk menghormati orang tua. Mau sedewasa apapun mereka orang tua tetaplah orang tua.


Setelah Narendra berhenti menganggu Naina mereka pun mulai menyantap makan malam mereka di selip obrolan ringan, sesekali Reval akan bertanya soal perusahaan dan berbagai macam obrolan lainnya.