HAANIYA.

HAANIYA.
Bonchap 2.



Keinginan Hani untuk memiliki anak lagi, membuat wanita itu melakukan segala hal untuk mencapai tujuannya.


Seperti malam ini, misal Hani dengan sengaja membuat suaminya itu mabuk terlebih dulu, sebelum memulai percintaan panas mereka.


Agar pria itu mau melepaskan bibit-bibitnya didalam, karena selama ini ia selalu membuangnya mau dia pakai pengaman atau tidak pria itu tetap melakukan hal itu. Menyebalkan sekali rasanya, tapi sekarang tidak lagi lagi karena tiga hari terakhir mereka di Maldives Hani selalu melakukan hal itu, dia yakin usahanya kali ini pasti berhasil, walaupun dia harus sedikit kelelahan karena perbuatannya sendiri.


"Semenjak pulang liburan, bibirmu terus tersenyum! Apa aku melewatkan sesuatu Honey?" Tanya Narendra kepada sang istri yang sedang membantunya menggunakan dasi.


Ya dua hari yang lalu mereka telah kembali dari liburan mereka dan kini saatnya mereka kembali dengan aktivitas mereka masing-masing. Sih kembar Al dan Arend pun sudah di antar pulang Daddy dan mommy semalam.


Walaupun sejujurnya mereka tidak rela cucu mereka pulang, namun kedua anak itu terus merengek minta di antar pulang, bahkan Arend berani mengancam akan kabur kalau tidak di antar ketemu Hani. Dan mau tak mau mereka harus mengantar cucu-cucu mereka, walaupun Arend harus menerima sedikit sentilan dari Aiden karena ucapannya.


Hani yang di Tanya menggelengkan kepalanya." Apa aku tidak boleh tersenyum?" Tanya wanita itu, sembari mengerutkan keningnya.


" Bukan seperti itu honey, tapi senyuman kamu mengandung sejuta arti." Jawab Narendra, menarik dagu Hani lalu mencium bibir wanita itu dengan sedikit melu-matnya. "Rasanya masih sama dan selalu membuat candu." Lanjutnya setelah melepaskan tautan bibir merah.


" Apa kamu sedang menggodaku?" Tanya Hani lagi.


Membuat Narendra tersenyum, pria itu merapatkan dirinya dengan sang istri, mengusap punggung wanita itu lalu mengecup pundaknya yang sedikit terbuka."Bukan aku honey, tapi kamu yang selalu menggodaku! Setiap bersamamu, membuatku ingin_"


Bruk.


"Mami, papi." Arend membuka pintu kamar kedua orang tuanya dengan kasar. Anak itu berteriak memanggil mereka membuat Narendra menghentikan kegiatannya lalu menatap putranya itu tajam.


" Papi jangan liatin Arend kaya gitu! Arend takut." Anak itu langsung menghampiri Hani, memeluk kaki ibunya. "Mami, Arend dipelototin papi tuh." Tunjuknya kepada Narendra.


Satu lagi kehebatan Arend, selain pembuat masal, tukang ngacam dan jahil dia juga suka mengadu. Yang pasti Arend itu menyebalkan.


"Papi." panggil Hani, diikuti cubitan sayangnya. " Awas ya." Tunjuknya pada Narendra.


" Ayo sayang, kita sarapan! Papinya di tinggalin aja." Ajak Hani, kepada putra keduanya itu.


" Ayo mi, jangan dekat-dekat sama papi! Kalau perlu nggak usah di kasih makan." Hani ingin tertawa, kalau Arend sudah bertingkah seperti ini.


" Ya udah, nanti nggak papi kasih uang jajan kamu." Sahut Narendra tidak mau kalah. " Sekalian robot-robot yang papi beli buat kami, papa give away-kan untuk sepupu-sepupu kamu."lanjutnya membuat langkah anak itu terhenti.


Jika sudah seperti ini, Hani tahu perdebatan ayah dan anak itu akan panjang dan tidak akan ada yang mau mengalah jika dia tidak turun tangan menghentikan mereka berdua.


"Nggak bisa gitu dong Pi! Itukan Arend." Ucap anak itu tak terima.


"Tapi papi yang beli." Sahut Narendra.


"Terserah papi lah, uang-uang papi, papi juga yang beli jadi terserah papi mau kasih ke sia_"


" PAPI, AREND CUKUP." Teriak Hani, membuat perdebatan keduanya langsung berhenti. " Kita sarapan, Al udah tungguin di bawah."


" Iya mi, ayok." Narendra langsung menghampiri Hani dan dengan sengaja merangkul pinggang wanita itu.


"Papi lepas, jangan pegang-pegang ini mami aku." Hani menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan sungguh jika suami dan putra keduanya itu sudah saling menjahili seperti ini, akan sangat panjang.


Emosi Arend yang suka meledak-ledak membuat Narendra senang sekali mengusik Arend. Walaupun begitu ia sangat menyayangi Arend, semua yang di inginkan Arend selalu Narendra penuhi. Salah satunya tadi, Arend suka mengoleksi robot, mulai dari harga yang ramah di kantong sampai yang mampu membuat Kantong bolong pun ada di kamar Arend.


"Mami juga istri papi." Sahut Narendra tak mau mengalah.


"Tapi Arend lebih berhak karena anaknya." Hani memijit pangkal hidungnya, rasanya dia ini ingin berteriak.


"Kata siapa, papi yang lebih berhak, papi suaminya kalau bukan karena papi_"


"Diam Azzam, sekali kamu bicara tiga malam kamu tidur di luar." Bisik Hani, tidak sampai terdengar oleh putranya.


"Mami bisikin apa ke papi?" Tanya Arend.


" Bukan apa-apa sayang, ayo kita sarapan." Anak itu langsung mengangguk sembari membuka kedua tangannya, meminta di gendong.


Hani pun dengan senang hati menggendongnya seperti anak koala. Walaupun dia sudah mulai sedikit kesulitan mengendong Arend, karena anak itu sedikit tinggi dari anak umur lima tahun pada umumnya, belum lagi tubuhnya yang berisi, membuat Hani kesulitan.


" Arend sama papi, kasian maminya." Ucap Narendra, saat mereka akan menuruni anak tangga.


Dan Arend pun langsung berpindah pada Narendra, anak itu bahkan sudah melupakan perdebatannya dengan sang ayah tadi. Dan itu bukan sesuatu yang mengejutkan, sebab semenit mereka baik-baik saja, semenit kemudian mereka pasti akan berdebat seperti tadi.


" Selamat pagi Abang Al." Sapa Hani lalu mencium kedua pipi, putra sulungnya itu.


" Pagi mami." Balas Anak itu. Berbeda de Arend Al lebih tenang dan ramah hanya untuk maminya saja! Senyumannya pun hanya untuk Hani, Melly dan Luna. Lain dari itu dia akan menunjukkan ekspresi datarnya.


"Pagi Bang." Sapa Narendra sembari mengusap kepala putranya, karena dia tidak suka di cium siapapun, kecuali mami, hanya maminya saja yang belum menciumnya.


" Pagi." Balasnya singkat padat dan jelas. Membuat Narendra menggeleng kepalanya.


Entah dari mana datangnya sikap dingin dan introvert Alrick ini.