HAANIYA.

HAANIYA.
Kamu bagaimana?



" Entahlah dia belum cerita kerja dimana! Lagian aku juga nggak tanya." Jawab Hani, tidak ingin memberi tahu yang sebenarnya jika Lita itu berkerja di hotel miliknya yang ada di sana.


Mendengar jawaban Hani membuat Narendra sedikit kecewa namun, pria itu mencoba bersikap biasa-biasa saja.


" Oh gitu." Hani mengangguk.


Setelah itu keduanya pun terdiam sembari menunggu Lita selesai dengan ritualnya di dalam sana.


Begitu Lita selesai dan keluar dari kamar mandi, mereka pun meninggalkan ruangan itu, Narendra meminta Hani untuk mengunakan kursi roda, karena masih khawatir dengannya, namun Hani menolak hal itu sebab dia merasa,dia sudah baik-baik saja.


"Azzam, Aku ingin mengantar Lita kebandaraan! boleh ya." Pinta Hani begitu mereka melangkah masuk kedalam lift yang akan membawa mereka ke area lobby rumah sakit itu.


" Sayang, Aku bukannya ingin melarang kamu! Tapi kamu tahu sendiri, kamu itu baru keluar dari rumah sakit, sebaiknya kamu istirahat dulu di apartemen." Ucap Narendra begitu pelan sembari mengusap kepala Hani.


Didalam Lift itu tidak hanya mereka saja, ada beberapa pengunjung rumah sakit lainnya, sehingga Narendra sengaja mengecilkan volume suaranya.


"Benar yang di katakan Azzam, Han! aku bisa sendiri ke bandara, kamu istirahat aja di apartemen. Ingat kamu harus menjaga keponakan-keponakan aku ini dengan baik." Sahut Lita mengusap perut Hani dengan sayang.


" Ta_"


" Nggak-nggak, aku nggak mau di antara sama kamu ke bandara! Aku bisa sendiri. Nanti kalau aku sudah sampai di Bali, aku langsung hubungi kamu." Tolak Lita Sengaja tidak ingin mendengar alasan apapun dari bibir sahabatnya itu.


" Kamu mah gitu! Padahal aku masih kangen sama kamu, balik sini aja ya Ta! Jangan jauh-jauh." Ucap Hani terdengar begitu manja.


" Sayang jangan gitu, nanti kalau kondisi kamu dan anak-anak sudah benar-benar baik! Kita akan sering-sering mengunjungi Lita, aku janji." Bujuk Narendra, Hani pun hanya bisa mengangguk kepalanya lemah.


Ting.


Pintu lift itu terbuka, mereka pun segera keluar dari dalam lift itu dan langsung menuju parkiran di mana sang supir sedang menunggu mereka.


Setibanya di parkiran, Narendra langsung membuka pintu mobilnya untuk Hani keduanya duduk di jok tengah, sementara Lita menemani sang supir di depan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Hani dan Narendra baru saja tiba di apartemen pria itu. Setelah meletakkan barang-barang Hani dari rumah sakit di atas meja.


Pria itu kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sofa itu. Kemudian menari tangan Hani, hingga wanita itu duduk di pangkuannya.


" Kamu mau tanya apa?" Hani pun balik bertanya. Wanita itu kini melingkarkan kedua tangannya pada leher Narendra dengan kedua paha yang sedikit terbuka dibawah, agar posisi duduknya nyaman.


" Siapa pemilik Grend secret?" Tanya Narendra, pria itu sebenarnya sudah lama mengetahui pemilik hotel itu tapi dia diam dan menunggu Hani mengatakan ya' sebenarnya.


Karena orang-orang yang berkerja di sana, adalah orang-orang kepercayaan Hani. Dino tangan Kanan Hani berkerja di hotel itu dengan jabatan tinggi, pengacara Hani juga pengacara yang selalu tampil kesana-kemari jika ada yang ingin berurusan dengan hotel itu.


Belum lagi Hani selalu memikirkan ruangan terbaik di hotel itu, entah yang ada di Bali maupun yang ada Jakarta.


Dan alasan itu cukup untuk Narendra mengetahui semuanya. " Ya Aku pemiliknya, aku bangunan gedung kosong itu dengan di bantu oleh kak Dino dan Kakaknya, Yang kini menjadi pengacara aku, selalu itu ada beberapa orang kepercayaan kakek Xavier yang ikut membantu hingga bisa seperti sekarang." Jelas Hani tanpa ada yang ingin dia tutup-tutupi lagi.


" Dan Lita pemimpin grand secret yang ada di Bali." Tebak Narendra, Hani pun mengangguk kepalanya.


" Apa yang ingin kamu tahu lagi dari aku?" Tanya Hani.


" Tidak ada! Itu saja." Jawab Narendra sembari mencium bibir istrinya itu.


" Kalau kamu bagaimana?"


" Aku punya perusahaan sendiri dan perusahaan dari papa. Sedangkan perusahaan keluarga Sanjaya. Hanya saham kita yang ada di sana. Kak Arga akan menjadi pemimpin perusahaan itu, kamu tidak keberatan dengan hal itu bukan?" Jawab Narendra sekaligus menanyakan pendapat Hani.


" Tidak sama sekali! Aku tahu kak Arga orang yang bertanggung jawab juga cerdas, Hanya saja_" Hani menjeda ucapannya karena tidak ingin Narendra salah menilai pendapatnya.


" Dia salah memilih pendamping! Kamu takutkan Lisa akan memanfaatkan posisi dia yang sekarang?" Hani pun dengan cepat mengangguk kepalanya. " Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, Aku masih ada di belakang kak Arga untuk membantunya sekaligus mengawasi mereka."


...\=\=\=\=\=...


Narendra Azzam Sanjaya.



Haaniya Dianly Xavier.