HAANIYA.

HAANIYA.
Menjalankan Rencana.



Waktu berlalu dengan begitu cepatnya tidak terasa satu minggu sudah Hani berada di mansion Regan.


Selama 1 minggu di sana, Hani tidak pernah bertemu dengan Regan, pria itu di mana pun, Hani tidak peduli.


Dan bersyukur nya selama dia menjadi pelayan dia mendapatkan tugas untuk membersihkan lantai empat Mansion itu bersama sepuluh orang pelayan lain.


Di lantai empat itu terdapat ruang kerja! Ruang brangkas serta kamar pribadi Regan, Ruang keluarga yang bisa juga di gunakan untuk menerima tamu.


Berhubungan dia disini adalah orang baru, Hani di tugaskan untuk membersihkan ruangan keluarga dan area luar hingga balkon saja, tidak untuk ruang pribadi karena banyak berkas-berkas penting yang berada di ruang itu.


Satu Minggu berlalu, Hani selalu bersikap profesional sebagai seorang pelayan juga menunjukkan attitude yang baik saat berkerja, membuatnya semakin di percaya oleh madam Jenny.


Hingga dua orang yang tugasnya di lantai yang sama dengannya tidak bisa berkerja pada hari ini, dikarenakan yang satu izin keluar yang satunya lagi sakit.


" Malam ini tuan Regan akan kembali dari Indonesia! Pastikan kamar dan ruang kerjanya rapi! Jangan membuat kesalahan. " Ucap Madam Jenny kepada delapan orang sisanya yang bertugas di lantai Empat termasuk Hani.


" Baik madam! Tapi madam, Irene dan Elga yang bertugas membersihkan kamar tuan izin madam." Madam Jenny mengangguk paham, karena dia tahu betul gerak-gerik setiap pelayan di mansion itu! Hanya saja wanita itu terlalu naif saat dihadapkan dengan Hani yang terlihat polos dan jujur itu.


" Catherine, kamu bisa mengambil tugas Elga?" Tanya madam Jenny kepada wanita yang bernama Catherine itu, namun wanita itu langsung menunduk.


" Maaf Madam." Ucapnya, sebagai bentuk penolakan.


Semua pelayan di mansion ini, kalau tidak di tunjuk langsung, mana mungkin mereka mau membersihkan kamar tuan mereka. Sebab tuan Regan yang mereka tahu, tidak pernah menghargai nyawa orang lain termasuk pelayan di mansion ini.


Debu sedikit saja yang tertinggal, nyawa pelayan itu sebagai gantinya karena di nilai tidak becus dalam berkerja. Sebab dia mengaji mereka tinggi, jadi tidak ada salahnya jika dia melenyapkan mereka jika berbuat kesalahan, mau itu besar atau kecil hukumannya sama, mati.


" Lolita?" wanita yang di sebut namanya itu juga menolak. " Baiklah, Alice saya harap kamu tidak akan menolak." Hani langsung membeo saat madam Jenny menyebut nama samarannya, Dia menunjukkan ekspresi terkejut tapi dalam hatinya di sudah menunggu kesempatan ini, sejak pertama kali dia datang ke mansion ini.


" Nyonya, saya baru disini!" Seru Hani bermaksud untuk menolak.


Membuat Hani melengkungkan bibirnya samar, tidak ada yang tahu jika wanita itu sempat tersenyum.


Karena setelah menunggu Satu Minggu akhirnya, kesempatan itu datang dengan sendiri kepadanya.


" Baiklah Nyonya, saya tidak akan mengecewakan anda." Ucap Hani pada akhirnya.


Wanita itu kemudian membersihkan kamar Regan dengan semestinya di temani salah satu orang kepercayaan Regan.


Setiap orang di mansion itu begitu hati-hati sehingga Hani tidak punya celah untuk menjalankan rencananya, tapi sepandai-pandainya mereka pada saatnya pasti akan lengah juga.


Seperti saat ini misalnya, orang kepercayaan Regan itu sedang menerima telpon dari Regan, kesempatan itu di manfaatkan dengan baik oleh Hani.


Wanita itu ingat betul, Keenan pernah mengatakan jika Regan memiliki kebiasaan mengkonsumsi vitamin dengan rutin dan benar saja, Hani menemukan beberapa botol vitamin Regan dalam laci nakasnya. Kesempatan itu digunakan Hani untuk Menganti semua vitamin Regan dengan obat-obatan yang selalu dia bawah setiap saat.


Obat-obatan yang di ganti Hani adalah obat terlarang dengan dosis tinggi di setiap butirannya.


Tidak hanya vitamin saja, wanita itu juga meletakkan laptop Regan dilantai, kemudian mulai mengutak-atiknya, walaupun hal itu membuat dia bisa ketahuan, tapi Hani tetap mencoba Setelah mematikan koneksi yang terhubung dengan laptop itu.


Hani kemudian mengcopy semua data perusahaan Regan, dia akan mengirimnya kepada saingan bisnis pria itu dan semua bantuan yang Hani dapatkan selama ini dari saingan bisnis Regan yang sudah lama menginginkan kehancurannya.


Bersyukurnya Hani lebih dulu selesai sebelum orang kepercayaan Regan itu selesai menelpon.


" Maaf tuan, saya sudah selesai." Ucap Hani kepada orang kepercayaan Regan itu.


" Hmm." Pria itu bergumam sebagai jawaban, sembari mengerakkan tangan menyuruh Hani pergi. Wanita itu pun menurut dan pergi dari sana.