HAANIYA.

HAANIYA.
Perkara lagu



"Ya Gimana lagi Ren, kenyataannya gitu." Se-pasrah itu seorang Kai, sampai menerima begitu saja.


" KAI jangan bodoh ya jadi orang." Ucap Narendra, pria itu masih tidak terima jika kau harus menikahi Samna. Walaupun pria itu selama ini tidak pernah keberatan dan selalu mendukung hubungan keduanya, tetap saja. Untuk yang satu ini,Rendra tidak ingin Kai sampai gegabah.


Pria itu mencoba belajar dari kesalahan yang pernah dia buat. Dan tidak ingin sahabatnya merasakan hal yang sama.


" Apanya yang bodoh sih Ren, kamu nggak dengar apa kata dokter, aku ini bakalan cacat, memangnya ada wanita yang mau terima keadaan aku. "


" Tapi kamu belum berjuang_" Kai langsung tertawa.


" Hahhaha, Rendra, Rendra kamu lupa ya! Aku normal aja dia nggak mau apalagi kaya gini. Sudahlah Ren, kita lupain semua. Kalau pun dia mau dan bersimpati sama aku, aku nggak mau! Karena aku nggak dia terpaksa hanya karena kasihan atau apapun itu. Mungkin Amna, sudah jodoh aku dan kakek juga sudah merestui pernikahan. "


" Pernikahan? Pernikahan siapa?" Tanya Arga, pria itu baru saja datang. Sama seperti Rendra dan Hani dia juga tidak mengetuk pintu terlebih dulu.


Pria itu, menatap secara bergantian Narendra dan Kairan, yang mendadak diam saat di tanya.


"Kai dan pacarnya akan menikah!" Jawab Hani, karena kedua pria itu masih betah membisu dengan pikiran mereka masing-masing.


" HAAAH, serius?" Tanya Arga, yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Kairan mengangguk,"Ya! Aku akan menikah begitu keluar dari rumah sakit." Akunya, membenarkan jawaban Hani.


" Kok mendadak?"


"Sebenarnya bukan mendadak juga sih, karena sedari awal Amna ngebet banget, pengen kita cepet-cepet untuk menikah."Jelas Kai, karena memang seperti itu adanya, dan karena hal ini juga dia sampai marahan dengan KAI selama dua bulan ini.


Kai sendiri bisa aja, Langsung menikahi Amna kalau dia benar-benar cinta, saat tidak mendapatkan restu dari kakeknya. Tapi karena hatinya masih terbelenggu pada wanita yang sama dan belum berpindah sediki pun pada Amna, pada akhirnya dia hanya bisa membiarkan wanita itu marah hingga kejadian naas ini terjadi dan membuatnya cacat seperti sekarang ini.


" Selain itu, Amna juga sedang hamil sekarang." Ucapannya lagi, Namun Arga tidak begitu terkejut, karena dia tahu gaya pacaran mereka seperti apa. Dia dan Lisa pun begitu.


"Udahlah Azzam biarin aja, kalau keputusan Kai sudah seperti itu. Dan kalaupun dia keberatan karena mencintai wanita lain. Kok bisa bertahan sampai bertahun-tahun, romantis pula. Aneh aja kalian ini. " Hani hanya berbicara sepenuhnya, tapi sekali bicara benar sekali dan itu membuat mereka terdiam. " Dimana-mana tuh kalau cinta, ya perjuangin. Jaga juga perasaan orang yang kita saya, bukan mencari pelampiasan dengan tujuan menyakiti perasaan orang yang kita saya. Itu bodoh namanya." Sambung Hani lagi.


Sekali skat matt. Ketiga pria itu langsung tidak berkutik dan tidak bisa membatah. " Sayang _"


" Ren, kok nggak bilang, Ela mau kesini?" Tanya Kai. Begitu punggung Hani telah menghilang di balik pintu.


" Nggak tahu, Hani juga nggak bilang." Sahut Narendra, karena pria itu memang tidak tahu jika saudari kembarnya itu akan datang untuk menjenguk Kai.


"Bagus dong! Malam ini kita ramai. Soalnya Nahla, Lisa, Kevin dan Nino juga mau kesini." Sambung Arga. Membuat Narendra dan Kai, langsung pusing seketika.


"Mau ngapain sih mereka?" Tanya Kai, pria itu terlihat tidak suka dengan kedatangan Lisa cs.


"Buat tungguin kamu lah, kan besok weekend, gimana sih." Jawab Arga, pria itu menatap bingung kepada Kai, harusnya pria itu senang dong. Bukan bersikap seolah tertekan dengan kedatangan mereka seperti ini.


" Kalau tahu, banyak yang nemenin kamu malam ini, mending juga aku aja Hani pulang. "


" Jangan dong, mereka aja yang pulang!" Sahut Kai, tidak ingin di temani orang-orang seperti Lisa dan Nahla.


"Oh kita di usir nih?" Tanya Ela dengan mode judesnya, saat mendengar sepenggal ucap Kai, begitu wanita itu masuk kedalam ruang rawat Kai.


" Bukan, bukan kalian! Tapi Lisa dan Nahla. " Ela menatap tajam pria malang itu. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.


" Ela, nggak usah di hiraukan, Sini, pesanan aku mana? Udah lapar nih."


"Tuh di Lita." Jawabnya sembari melirik kepada Lita di belakangnya. " Eeh bangkai, kamu pikir, aku mau jenguk kamu gitu. Iihh Sorry-sorry aja ya, aku di sini karena di ajak Hani, jadi nggak usah sok-sokan ngusir, karena tanpa kamu minta pun aku juga akan pergi dengan senang Hati. " Ucap kepada Kai sembari mengikuti langkah Hani.


Namun ucapannya itu tidak membuat Kai tersinggung sama sekali, karena dia sudah terbiasa dengan kata-kata pedas itu.


Ketiga wanita itu kini duduk di lantai, beralaskan bantal sofa, mengelilingi meja sofa yang ada diruang itu. Setelah bergantian mencuci tangan di wastafel. Dan mulai menikmati hidangan makan malam mereka tanpa menghiraukan keberadaan ketiga pria itu.


" Sepi ya! Mending putra musik ah! Biar nggak sepi-sepi amat." Ucap Ela di sela-sela makan mereka, wanita itu kemudian meraih ponselnya dengan tangan kirinya. Memutar Lagu dari penyanyi Adele, All I Aks, untuk menemani makan mereka, tapi tanpa wanita itu sadari ia telah mengikis luka sahabatnya, Sendiri. Kata-kata dari lirik lagu itu membuat, Hani teringat akan Kenangan terakhirnya bersama Keenan malam itu. Hingga nafsu makannya langsung hilang seketika.


" Han_" panggil Lita yang menyadari akan hal itu. Namun Hani tidak menghiraukan panggilannya. Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk kedalam kamar mandi, tanpa mengatakan sepatah katapun.


Nyatanya, walaupun Narendra melakukan segala sesuatu dengan baik, tapi Hatinya masih terbelenggu di tempat yang sama.