HAANIYA.

HAANIYA.
Menurut kamu?



Nyatanya, walaupun Narendra melakukan segala sesuatu dengan baik, tapi Hatinya masih terbelenggu di tempat yang sama. Karena untuk berpindah hati itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Di luar sana sebagian orang mungkin, mudah melakukan hal itu. Tetapi Hani tidak, sekali pun dia sangat haus akan kasih sayang, Namun tidak mudah juga untuk dia berpaling Hati.


" Hmmmhfff, Harus sampai kapan Seperti ini." Ucapan Hani pada bayangannya, di cermin." Salahkah, jika aku berjanji untuk mengikhlaskan semua dan hidup dengan baik, tapi tidak untuk melupakan." Ucapannya lagi.


Tok tok tok..


" Sayang, kamu baik-baik saja." Mendengar ketukan pintu serta suara teriakan Narendra yang mengkhawatirkan dirinya, Hani pun langsung menyudahi ke gundahnya. Wanita itu membasuh wajahnya agar terlihat sedikit lebih segar. " Sayang.." panggilannya lagi.


Dan Hani pun langsung bergegas untuk keluar." Ya aku baik-baik, Saja." Jawab Hani, wanita itu memaksa bibirnya untuk tersenyum.


Namun sedikit banyak Narendra sudah belajar cepat untuk memahami gerak-gerik Hani.


Tanpa banyak bicara, pria itu menarik tubuh Hani kemudian memeluknya. Hingga membuat Hani membeku seketika. " Aku bukan percaya diri sayang! Tapi aku yakin, aku bisa bersaing dengan orang-orang yang mencintai kamu, bahkan saat ini aku siap jika harus bersaing dengan dia yang kamu cintai, sekali pun itu sulit namun aku akan terus berusaha sampai aku menjadi pemenang, bukankah saat ini aku sudah menjadi pemenang." Ucapnya dengan nada berbisik tepat di telinga Hani, membuat sudut bibir Haaniya tertarik keatas membentuk sebuah seringai, tapi seringai itu hanya sesaat saja.


Mungkin apa yang di ucapkan Narendra benar! Jika dia pemenang karena dia adalah suami sah nya, Hani. Tapi entahlah, hal itu masih akan sama untuk beberapa bulan kedepannya atau tidak.


" Jangan besar kepala kamu, Semua ini hanya sementara, bukankah kamu akan menceraikan aku dan menikahi wanita yang kamu cintai itu. Aku belum melupakannya Azzam." Sahut Hani, sembari mendorong tubuh Narendra, hingga pria itu mau tak mau melepaskan pelukannya. " Seorang suami, mengatakan dia mencintai wanita lain di hadapan istrinya, sehari setelah pernikahan mereka dan di depan semua anggota keluarga. Menurut kamu aku harus percaya yang mana. Kamu bersumpah dan mengatakan cinta hanya untuk aku yang dengar atau kata cinta yang kamu ucapkan untuk dia. Di hadapan semua anggota keluarga kita."


Pertanyaan Hani membuat wajah Narendra langsung memucat seketika. Pria itu tidak menyangka Hani akan menyinggung semua ucapannya waktu itu. Narendra bahkan sempat berpikir jika mereka sudah baik-baik saja. Nyatanya dia salah.


Ungkapan cinta dan ketulusannya, berharap dapat membuat seorang Hani, luluh. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.


" Sebenarnya aku ini istri, simpanan atau pelakor seperti yang di ucapkan wanita-mu?" Tanya Hani lagi.


"Haaniya_" Tegur Arga, bukannya dia tidak menyukai ucapan Hani atau ingin membela Narendra. Tapi dia hanya ingin mengingatkan mereka untuk tidak membahas masalah rumah tangga mereka di depan orang lain walaupun mereka bersahabat sekaligus satu keluarga namun tidak harus seperti ini.


Sementara Arga hanya bisa menatap iba kepada adik sekaligus sahabatnya itu begitu juga dengan KAI.


Sedangkan kedua wanita lain yang berada di ruang itu. Justru meneruskan makan mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka bahkan sempat-sempatnya bercanda di sela-sela makan.


Narendra sendiri, memilih menghampiri Hani, pria itu dengan tidak tahu malunya berbaring di samping Hani sembari memeluk tubuh istrinya itu dengan begitu eratnya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Hani..


" Maafkan aku, aku salah! Tapi kamu harus tahu jika aku tidak akan pernah menceraikan kamu." Ucapannya penuh keyakinan tapi tidak dihiraukan oleh Hani.


"Itulah Akibatnya, kalau punya mulut itu di jaga, pasang juga filter-nya. Kalau udah Gini pusing sendiri-kan."


" Naela." Tegur Arga.


" Untung dapatnya Hani, hatinya masih ada hello Kitty nya kalau aku, Hmmm. Langsung Ku pulangkan engkau ke emak bapak mu bang." sambungnya lagi, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Arga sekaligus teguran pria itu. Memangnya mereka bisa berbuat apa untuknya, ada Hani disini. " Kalau menurut kamu gimana Ta?" Gadis itu belum ingin menyudahi semuanya, hingga mengajak Lita untuk ikut berkolaborasi.


"Sebelum dia ceraikan aku. Aku duluan yang ceraikan dialah. Aku punya penghasilan! Laki mah apa atuh. Ingat laki-laki itu akan tetap berselingkuh jika memiliki banyak uang, karena itu sudah melekat dengan diri mereka, Tapi kalau wanita yang banyak uang, satu lelaki pun tidak dia butuhkan."


" Benar sekali, apalagi yang model teh celup kaya mereka ini." Sahut Naela sembari melihat secara bergantian Arga, Kai dan Narendra.


"Tenyata ucapan kalian bertiga itu sama ya! tidak ada manis-manisnya. " Ucap Kai.


Arga pun ingin menyahuti ucapan Ela, namun pintu ruang rawat Kai tiba-tiba di buka dari luar, membuat pria itu mengurungkan niatnya.


Tak lama masuklah Lisa Cs. Wanita itu langsung berlari kearah Arga dan memeluk tubuh pria itu.