
" Aku bosan mendengar perjanjian lagi dan lagi tidak bisakah kalian menjalani pernikahan kalian dengan normal saja." Lita pun turut menimpali.
"Justru karena aku ingin menjalani pernikahan yang normal! Makanya aku buat perjanjian dulu kalau dia nggak sanggup ya udah, nggak papa aku bisa menghidupi diri aku sendiri dan Mereka." Ucap Hani sembari mengusap perutnya.
" Jangan menyimpulkan sesuatu sendiri! Sebaiknya kamu berbicara dengan Abang Rendra terlebih dulu! Walaupun aku tak suka kamu dengannya tapi sebagai sahabatnya aku akan mendukungmu selama itu dapat membuat kamu bahagia." Sahut Ela.
Wanita itu kemudian meletakkan potong buah apel yang telah selesai dia potong-potong itu depan Hani, kemudian beranjak dari duduknya. " Aku, akan memanggilnya agar kalian berdua bisa berbicara dari hati ke hati dan semoga Abang setuju dengan perjanjian yang kamu ajukan." Lanjutnya, sembari melangkah meninggalkan lita dan Hani.
" Ya apa yang di katakan Ela memang benar kalian harus berbicara. Ingat jangan memendam suatu sendiri katakan kepadanya dan belajar mengunakan bahunya karena aku tak akan selalu ada lagi untukmu, sayang." Ucap Lita. Wanita itupun bergerak turun dari ranjang Hani saat melihat Narendra masuk. " Tolong mengerti dia." Ucapnya lagi kepada Narendra.
Setelah itu dia meninggal Hani dan Narendra berdua di ruang itu.
Begitu Lita pergi, Narendra menghampiri Hani, kemudian duduk di tepi ranjang Hani dan menatap wajahnya yang masih terlihat pucat.
" Bagaimana perut kamu, sayang! Masih sakit?" Tanya Narendra sembari mengambil potongan buah dari tangan Hani kemudian memasukkan kedalam mulutnya.
" Azzam, itu bekas gigitan aku." Protes Hani, namun pria itu hanya tersenyum.
" Tak masalah aku menyukainya, sayang." Sahut Narendra." Apa yang ingin kamu katakan? Tadi Ela bilang ada yang ingin kamu katakan kepadaku." Lanjutnya, bertanya.
"Aku Hamil." Hani sedikit gugup, sehingga dia bingung harus memulai pembicaraan mereka dari mana dan dia pun mengatakan sesuatu yang sudah di ketahui Narendra.
" Ya aku tahu! Mereka anak-anak kita! Mereka sehat dan saat ini berusia 13 Minggu." Jelasnya.
"Lalu bagaimana dengan kamu dan Nahla."
Hani pun dengan cepat mengangguk kepalanya. " Tentu saja, kamu menceraikan aku dan memilih dia hari itu, aku tidak akan melupakannya." Jawab Hani, tanpa melihat kepada Narendra sedikitpun.
Narendra yang memang tidak ingin berlarut-larut dalam masalah mereka ini langsung mendekat dirinya semakin dekat dengan Hani, kemudian mengambil piring berisi potongan buah itu dan menaruhnya di atas nakas.
" Azzam aku belum selesai."
" Nanti di lanjutkan lagi, sekarang kamu lihat mata aku." Ucapnya sembari menahan kedua pipi Hani, agar wanita itu melihat kepadanya.
"Aku tidak pernah menceraikan kamu sayang! Kamu tahu itu dan aku hanya memanfaatkan Nahla, bukankah sudah pernah aku katakan sebelumnya. Kamu istriku Haaniya, hanya kamu satu-satunya dan selamanya akan seperti itu." Ucap Narendra dengan penuh keyakinan.
Pria itu menatap Hani dengan penuh cinta dan tidak ada keraguan sedikitpun . Manik hitam itu memancarkan ketulusan dan Hani pun menyadari hal itu.
" Kamu ingin aku tetap menjadi istri kamu?" Setelah semua ini, Hani masih bertanya. Tentu saja jawabannya iya.
"Tantu saja! Aku sangat ingin kamu tetap menjadi istri aku."
Hani mengangguk kepalanya. " Tapi aku punya syarat untuk itu."
" Apa? Aku akan mengabulkannya untukmu! Asalkan itu bukan perceraian." Tanya Narendra penuh tekad.
" Hargai aku, itu saja Syaratnya, percuma kalau kamu bilang cinta sayang dan bersikap manis ke aku tapi kamu nggak bisa hargai dan menghormati aku sebagai istri kamu. Aku tidak bermaksud sombong Azzam! Kamu akan tetap menjadi kepala keluarga dan aku akan mengikuti semua keinginan kamu sebagai kepala rumah tangga tapi jangan sekali-kali kamu mengulang kesalahan kamu dengan tidak menghargai serta menghormati aku. Azzam kamu ganteng, aku juga cantik. Kamu bisa berpenghasilan aku juga dan aku melakukan itu sejak di bangku sekolah. Aku sudah terbiasa mandiri. Sekali saja kamu mengulanginya aku tak akan kembali dan aku ingin ini sebagai perjanjian tertulis kita." Ucap Hani Narendra pun mengangguk menyetujui apapun yang dikatakan Hani.
Alasan Hani meminta Hal ini karena sikap Narendra sehari setelah pernikahan mereka itu sangat melukai harga dirinya dan dia kembali mengulang hal yang sama sebelum mereka berpisah, walaupun menurut Narendra itu cuma candaan atau apapun tetap saja, kehormatan dia sebagai seorang istri serasa di injak-injak dan Hani tidak ingin hal itu terulang kembali, untuk itu dia mengajukan perjanjian seperti ini, sebagai syarat rujukan mereka berdua dan dibuat hitam di atas putih.