
" Jika Samna menerimanya! Apa kakek akan merestui hubungan mereka?" Tanya Narendra, karena pria itu tahu, jika kai sudah sangat ingin menikahi Samna. Namun semua itu masih terhalang restu kakeknya.
" Kalau Samna bisa menerima keadaan kai yang sekarang, kakek akan merestui hubungan mereka." Ucap kakeknya Kai.
Narendra pun mengangguk paham. Sementara Hani hanya menyimak saja! Saat ini mereka sedang menunggu Kai dan Samna di depan ruang UGD, wanita itu juga ikut kecelakaan bersama Kairan tapi ia hanya mengalami luka ringan tidak separah Kai.
" Kamu lelah, sebaiknya kamu istirahat diruang rawat Kai, kakek sudah menyiapkan ruang VVIP untuknya. Dokter masih harus memastikan kondisi Kai terlebih dulu sebelum di pindahkan keruangan." Ucapannya pria paruh baya itu.
Sementara wanita yang menjadi kekasih dari Cucunya itu tidak begitu ia hiraukan. yang penting orang tua, wanita itu telah di hubungi. Untuk saat ini yang sang kakek hany ingin mengurus cucu semata wayang. Sebab keluarga yang dia punya hanya Kairan.
" Tidak kek, Hani masih bisa menahannya." Tolak Hani, dengan halus sembari menyuguhkan senyum termanisnya untuk pria itu.
" Terima kasih nak! Kamu adalah wanita yang baik, semoga hidup kamu di limpahi kebahagiaan." Ucap pria paruh baya itu dengan tulus.
" Dari mana kakek tau, kalau aku adalah wanita yang baik! Sementara kakek baru bertemu aku saat ini." Tanya Hani, bukan tanpa sebab dia bertanya seperti itu, karena Hani sendiri merasa dia tidak sebaik itu.
"Tatapan mata kamu begitu tegas saat menatap mata orang lain, tidak ada kebohongan di sana, tutur kata mu juga begitu sopan. Tidak seperti wanita di dalam sana, dari tatapan serta tutur bahasa sangat di ragukan. Tapi anak bodoh itu dan suamimu tidak dapat melihat hal itu." Lanjutnya menyindir Narendra.
Hani pun ikut menatap kepada suaminya itu. Sementara Narendra yang tiba-tiba, merasa di pojokan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sungguh obrolan mereka membuatnya merasa salah tingkah, seakan mereka telah berbuat dosa besar karena mengenal wanita-wanita seperti Nahla, Samna dan Lisa.
Bersyukurnya pintu ruang UGD itu segera terbuka, sehingga obrolan ini bisa cepat berakhir, jika tidak, entahlah mungkin Narendra akan semakin terpojok.
Dokter di bantu perawat keluar sembari, mendorong brangkar rumah sakit, dimana tubuh Kai, terletak tak berdaya di atas brangkar itu, untuk di pindahkan ke ruangannya. Bersamaan dengan datangnya orang tua Samna. Kakek nya Kai, bahkan tidak menyapa mereka dan hanya mengikuti sang dokter dan perawat yang telah lebih dulu mendorong tubuh Kai, di ikuti Hani dan Narendra.
Setibanya Kai di ruang rawatnya, Kakeknya langsung menitipkan cucunya itu kepada perawat jaga, ia harus pulang untuk beristirahat, kondisi kesehatannya, membuat dia tidak bisa berlama-lama di rumah sakit.
Narendra dan Hani yang mengerti hal itu, mengangguk paham dan membiarkan kakek pulang, toh mereka bisa menjaga Kai secara bergantian.
Setelah kakeknya Kai pulang. Narendra dan Hani duduk di sofa yang tersedia di ruang itu, sembari menatap kepada kai yang sedang tertidur karena pengaruh obat yang di berikan dokter.
"Kai sama Samna kenal dimana?" Tanya Hani, untuk memecah kesunyian di antara mereka.
"Kenapa." Bukannya menjawab, Narendra justru balik bertanya.
Narendra terdiam sesaat sebelum berkata. " Hubungan Kai dan Samna itu berawal dari kai yang ingin memanas-manasi wanita yang dia suka! Tapi malah kebablasan sampai seperti ini. Entahlah, dia sayang benar sama Samna juga aku nggak bisa memastikan hal itu." Ucap Narendra begitu ambigu. Pria itu terlihat begitu enggan menjelaskan hal itu itu lebih jauh kepada Hani.
Dan dasarnya Hani yang begitu peka, memilih mengalihkan pertanyaannya. " Kalau kamu, kenapa bisa sampai jadian sama Nahla." Tanya Hani sengaja mengalihkan pertanyaannya dan melirik sekilas pada suaminya itu. " Nggak usah jawab kalau kamu nggak mau jawab. Aku nggak akan maksa kok." Lanjutnya saat Narendra hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
Cukup lama suasana di ruang itu kembali hening, sebelum Narendra memutuskan, untuk menceritakan hubungannya dengan Nahla, yang berawal dari jebakan Lisa dan berlanjut dengan Nahla dan Kevin yang melakukan one night stand, kemudian berakhir dengan dia yang di libatkan dalam hubungan itu. Awalnya semua masih bisa berjalan normal, tapi sikap berani dan godaan Nahla, pada akhirnya ia berakhir sedekat itu dengan Nahla.
" Pernah melakukan apa aja berdua?" Tanya Hani lagi, setelah mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Ciuman dan make out!" Jawab Narendra. Hani kembali mengangguk kepalanya lagi, wanita itu terlihat santai tapi jantung Narendra serasa akan lepas dari tempatnya saat itu juga.
" Kenapa nggak sekalian aja, kenapa harus setengah-setengah." Tanya Hani lagi. Narendra paham dengan pertanyaan istrinya tapi dia memutuskan untuk menjelaskan lebih lagi. " Apa malam itu kamu juga melakukannya setengah-setengah dengan. Nahla." Kening Narendra mengerut, pria itu menebak jika malam yang di maksud Hani adalah malam pertama mereka tapi tak berani memastikan hal itu.
" Diamnya kamu aku anggap_"
" Tidak, kami hanya sempat berciuman! Saat Nahla ingin melakukan lebih aku langsung menghentikannya. "Sela Narendra sengaja memotong ucapan istrinya itu. " Aku berani bersumpah malam itu aku marah karena kamu tertidur sambil mengigau nama Kenan! Setelah aku tidak pernah melewati janji aku." Lanjutnya, berharap Hani mau mengerti.
Namun yang terjadi wanita itu, justru kembali diam. Tanpa memberi respon apa-apa ia tidak sadar hal itu membuat Narendra dilema sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=
Setelah obrolan mereka itu, Hani tidak lagi mengatakan apa-apa, wanita itu justru membaringkan tubuhnya di ranjang kosong tepat di samping ranjang Kai, karena ia sudah sangat lelah dan mengantuk.
Narendra pun tidak bisa memaksanya lagi, dia memberi waktu untuk Hani beristirahat.
Narendra berharap setelah Hani tahu semuanya, ia benar-benar mau menjalani pernikahan mereka dengan sebagaimana mestinya.
Karena Narendra sendiri pusing, jika setiap saat harus memikirkan Hani yang akan pergi darinya.
Begitu memastikan Hani Hani telah terlelap, pria itu menarik kursi kemudian duduk di samping Hani, mengusap kepalanya dengan lembut seraya berkata. " Sayang aku sudah berusaha jujur sama kamu, Tapi kenapa kamu semakin diam! Kamu membuat aku cemas dan takut. Katakan bagaimana aku harus membuatmu tetap disisi aku! jika kamu saja, hanya diam seperti ini." Ucap Narendra sembari mengusap lembut kepala Hani.
" Bagaimana kalau akhirnya dia tetap pergi?" Tanya kai yang baru sadar, membuat Narendra menengok tak percaya kepada sahabatnya itu. Dia baru saja sadar tapi sudah ikut campur urusan orang lain.