
Tapi siapa sangka saat tiba di sana Nahla semakin bertambah kesal, karena Hani juga ada di cafe itu bersama Narendra, ada Kairan dan Arga juga disana. Sementara Kevin, pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya saat Nahla meninggalkan meja kerjanya.' ngapain sih wanita itu disini? Nggak di kantor nggak di luar, selalu aja nempelin bang rendra.' Gumam Nahla dalam hatinya sembari menatap tak suka kepada wanita yang saat ini duduk di samping kanan Narendra sedang samping kirinya ada Arga.
"Ciih! Segitu takutnya sampai ngekorin terus bang Rendra." Sindir Nahla, sambil mendaratkan bokongnya pada kursi yang berada ttepat berhadapan langsung dengan Narendra walaupun terhalang meja di antara mereka, tak lupa wanita itu juga tersenyum menggoda kepada pria beristri itu.
Mendengar sindiran Narendra membuat Hani tersenyum menyeringai! Ketiga pria yang sejak tadi menemaninya, tentu saja menyadari hal itu tapi tidak dengan Nahla, wanita itu terlalu percaya diri untuk menyadari kepintaran Hani.
"Kayaknya, AC mulai nggak berfungsi nih." Sahut Kairan sembari menatap kesana-kemari, mencari letak pendingin ruangan itu.
"Nggak juga Kai, suasananya masih dingin! Belum terlalu panas juga." Arga pun ikut berkomentar saat menyadari sindiran sahabatnya.
"Tahu nih, dasar bangkai."
" Sialan gue robek juga tuh mulut." Umpat Kairan, pria itu hampir beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Nahla, namun Narendra dengan cepat menahan dirinya dan meminta Kairan untuk kembali duduk di tempatnya.
Bukan karena Narendra ingin membelah Nahla atau melindunginya! Tentu tidak, sama sekali. Narendra melakukan semua itu, karena tidak ingin ada drama dengan Dina nantinya, sebab gadis itu paling pandai memanfaatkan rasa bersalah ibunya untuk membuat masalah kecil menjadi besar lengkap dengan drama termehek-meheknya dan Narendra membenci akan hal itu, sebab jika hal itu sampai terjadi dia dan Arga sudah pasti akan terlibat didalamnya.
Selain itu, Narendra juga tahu dan kenal betul sosok Kairan sahabatnya. Pria itu paling benci dua wanita di muka bumi ini. Satu Lisa, dua Nahla. Kenapa dia membenci mereka, Karena menurut Kairan Lisa itu suka berbicara omong kosong untuk kepentingannya atau bisa di sebut munafik dan Nahla karena terlalu percaya diri dan gampang. Kedua wanita itu masuk dalam garis merah yang harus Kai hindari tapi keadaan membuat mereka masih berputar-putar di sekitar kedua wanita dedemit itu, Dan satu lagi pria itu mudah tersinggung jika di ejek seperti yang di lakukan Nahla barusan tapi anehnya, hal itu tidak berlaku untuk Ela. Mau separah apapun Ela mengejek serta mengatainya, dia justru dengan santai membalasnya. Mungkin karena Ela saudarinya. Entahlah biar waktu yang menjawab semua itu.
Narendra tidak sadar apa yang dia lakukan barusan membuat Nahla besar kepala? " Ya begitulah hati dia tahu harus melindungi pemilik tanpa perlu di minta." Ucap Wanita itu penuh percaya diri seraya tersenyum sombong kepada Hani.
Mendengar hal itu! Haaniya langsung menjawab." Percaya diri sih boleh! Tapi goblok jangan. Jangan goblok ya." Ucap Hani sembari menekan kata-katanya." Apa yang dia lakukan barusan belum tentu karena ingin membela kamu! mungkin saja dia ingin melindungi Kairan sehingga tidak terlibat masalah dengan kamu. Makanya jangan terlalu percaya diri ya cantik, apalagi goblok jangan sayang cantiknya." Lanjut Hani lagi
Membuat Kairan dan Arga kompak tertawa. Bedanya Kairan tertawa terbahak-bahak sementara agar menyembunyikan tawanya. Untuk Narendra sendiri pria itu hanya berekspresi datar, seakan membelah Hani namun tidak menunjukkan hal itu, ia juga tidak sekali pun melepaskan genggaman tangan Hani bahkan saat mencegah Kairan sekalipun.
"Nahla jangan kelewatan kamu ya." Bentak Arga sembari menarik tangan Nahla yang menunjuk-nunjuk wajah Hani. Walaupun mereka berpisah delapan tahu dan baru berjumpa lagi, tapi masa kecil mereka pernah bersama-sama tumbuh sebagai bagian keluarga. Tentu saja Arga tidak suka cara Nahla memperlakukan Hani seperti itu.
"Apanya yang kelewatan kak! Lagian yang aku katakan juga benarkan! Kakak jangan belain dia, harusnya yang kakak belain itu aku. Aku adik kak Arga bukan dia." Sahut wanita itu. Ia tidak terima di bentak oleh Arga.
"Dih, kamu terlalu lama bermimpi! Karena adik Arga sebenarnya itu Narendra, Naela dan Nayna! Jika yang kamu maksud adik angkat tentu saja itu Shana dan Shakir tapi bukan kamu, memangnya kamu siapa? Harusnya kamu bersyukur karena ibu kamu, kamu mendapatkan perlakuan baik dari mereka jangan ngelunjak jadi orang." Kairan pun tidak ketinggalan berkomentar, bahkan komentar pria itu bagaikan tamparan yang menyadarkan Nahla dari tidurnya, sementara Narendra! Pria itu masih diam. Membuat Hani menatapnya dengan kecewa walaupun ekspresi itu sengaja ia buat-buat.
"Sudahlah mungkin benar apa yang di ucapkan Wanita itu! Harusnya aku tidak berada disini." Ucap Hani tiba-tiba, sembari menghempaskan tangan Narendra, hingga membuat genggaman tangan pria itu terlepas dari tangannya.
Wanita itu dengan kasar meraih tasnya kemudian! Melangkah pergi meninggalkan mereka dan saat Narendra ingin mengejarnya. Hani sudah masuk kedalam taksi yang baru saja menurunkan Amna dan bergerak menjauh meninggalkan pelantar kafe itu. " Sial." Umpat Narendra.
"Rendra dia siap." Tanya Amna. Karena wanita itu tidak menghadiri pernikahan Narendra hingga ia tidak mengenal rupa Hani. Hanya mengetahui namanya saja dan segala kejelekan wanita itu. karena nama Hani merupakan topik yang paling sering mereka bahas saat bertemu.
" Haaniya istri aku." Jawab Narendra, Sebelum kembali melangkah masuk kedalam cafe itu. Meninggalkan Amna yang sok di belakang sana karena mengetahui seperti apa rupa Haaniya itu.
" Secantik itu! Apa mungkin yang di katakan Lisa selama ini benar Atau dia hanya iri kepada Hani." Pikir Amna seakan tak percaya wanita barusan adalah Hani, sebab wanita itu terlihat sopan berbeda jauh dengan yang selalu di ceritakan Lisa.
"Na! Baru sampai juga." Tanya Lisa, wanita itu baru saja turun dari taksi dan mendapati Amna tengah mematung disana." Hai kamu bengong?" Tanya Lisa sembari menepuk pundak Amna, hingga membuat wanita itu terkejut.
" Astaga Lisa, kamu buat aku kaget tahu nggak." Keluh Amna sembari mengusap dadanya.
"Lagian kamu sih? Ngapain bengong disini." Sahut Lisa tanpa perasaan bersalah sedikitpun, karena telah mengejutkan Amna." Ya udah, masuk yuk pasti Nahla dan yang lain udah nungguin kita." Amna pun mengangguk setelah itu mereka pun melangkah masuk kedalam cafe itu.