
Haaniya terdiam dan tidak dapat berkata-kata, pandangannya tidak berpindah sedikit dari Narendra. Dia memilih Diam bukan karena dia membenarkan ucapan suaminya, yang berkata dengan pedenya jika ia mengetahui seperti apa dirinya. Sikap Narendra itu, dinilai terlalu arogan dan sok tahu, karena Haaniya berani bertaruh tidak ada yang mengenali dirinya melebihi Lita. Lita itu sudah seperti bayangan Hani, kemana pun wanita itu pergi, Lita selalu ada di sisinya dan sesungguhnya lelaki di hadapannya ini hanya menunjukkan kebohongannya saja.
" Dari mana kamu tahu tentang, aku! mommy, bunda, Ela atau Lisa? Siapapun yang kamu pilih di antara mereka, itu hanya akan menunjukkan kebohongan kamu." Sahut Hani, wanita itu berbalik menunjuk wajah Narendra, sama seperti yang Narendra lakukan pada dirinya.
" Kamu menilai aku sebodoh itu! Haniya-Haniya, satu hal yang harus kamu tahu aku tidak pernah bertanya tentang kamu kepada dan mereka sendiri yang menceritakan kamu kepada aku." Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada Hani, pria itu langsung berjalan ke arah pintu yang terus di ketuk dari luar dengan tidak sabaran.
" Sebentar_"Ucap Narendra.
Ceklek.
Begitu pintu itu terbuka, seorang wanita langsung melempar dirinya ke pelukan Narendra, Hani kenal siapa wanita itu! dia wanita yang sama yang Hani tendang waktu itu dirinya. Dialah Nahla
" Bang Rendra! Nala benci sama Abang." Ucap Nahla Sambil terisak dalam pelukan Narendra dengan tangan kanan yang terus memukul-mukul dada bidang pria itu, sementara Narendra sendiri hanya membiarkannya sambil mengusap punggung wanita alay itu, " Bang Rendra udah janji loh, mau membatalkan perjodohan ini tapi kenapa bang Rendra, tetap Nikahin dia. Abang sengaja kan tugaskan Nala, keluar kota supaya bisa menikahi wanita itu." Tunjuk-nya kepada Hani, yang masih mematung di tempatnya.
" Sayang, dengerin Abang ya! Ini tidak akan berjalan lama! Hanya sebentar! kamu juga harus tahu, adanya dia, tidak akan mengubah apapun di antara kita! karena yang Abang cinta cuma Nala." Ucap pria itu, sengaja mengecup bibir Nala di depan mata istrinya.
Berharap wanita itu akan merasa cemburu! tapi yang terjadi! Hani justru bersikap sebaliknya, wanita itu bahkan merasa jijik dengan sikap Nahla, yang terlalu berlebihan plus sedikit murahan.
" Tapi Abang sudah menikahinya." Rengekannya lagi, tidak terima dengan kenyataan itu.
" Abang akan menceraikan dia secepatnya dan akan menikahi Nala Setelah itu, Abang janji! Nala percaya kan sama Abang." Bujuk Narendra, sembari mengusap kepala Nala kemudian merapatkan kepala Nala ke dadanya.
" Bagaimana jika Abang tergoda sama dia! Dia aja lebih cantik dari Nalha. Nala takut." Serunya, kembali menangis dengan tersedu-sedu, membuat Hani memutar bola matanya malas.
" Nala tidak perlu takut! Karena Abang juga tidak akan Sudi menyentuhnya. Percaya sama Abang."
Tanpa di sadari Narendra, Hani justru tersenyum smirik, seraya bergumam dalam hatinya." Semoga kamu tidak menjilat ludah kamu sendiri."
" Benar?" pria itu mengangguk kepalanya " Tapi Nala akan percaya jika Abang mau temani Nala tidur malam ini dan tinggalin dia sendiri disini." Ucap Nala lagi, sembari menatap tidak suka kepada Hani yang sejak tadi hanya menunjukkan ekspresi datarnya.
Narendra pun ikut melihat ke arah Hani Setelah itu, kembali menatap wajah kekasih hatinya. " Baiklah, apapun untuk kamu sayang! tapi harus berjanji nggak boleh sedih lagi, apalagi cuma karena dia." Narendra melirik Hani dengan ekor mata. " Ayo sayang kita tinggalin dia sendiri di sini. Dan pasangan no akhlak itupun meninggalkan Hani seorang diri, di kamarnya.
BRUUKK.
Pintu kamar hotel itu kembali terbuka dengan kasar. " Hani." Hani mengangkat wajahnya, menatap kepada dua orang sahabatnya, yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Ela dan Lita. " Hani, apa yang dilakukan kakakku dan Nala kepadamu?" Tanya Ela khawatir.
" Apa mereka menyakiti kamu?" Lita pun ikut mengkhawatirkan keadaan Hani sembari memeriksa tubuh Hani takut ia mereka menyakiti fisiknya, Hal itu membuat Hani tidak untuk tidak tertawa.
" Astaga Lita, Ela! Sepertinya kalian harus mengenal aku lagi deh." Ejeknya, kedua orang itu langsung mendengus tak suka." Apa aku terlihat selemah itu?" Lanjutnya, tanpa menghentikan tawanya. Sehingga Lita dan Ela semakin kesal kepadanya, disaat mereka khawatir tapi Hani justru tertawa, namun mereka berdua tidak dapat meninggalkannya begitu saja.
" Kamu tahu, kamu itu menyebalkan! Kalau kamu tidak apa-apa! Kenapa kamu sampai duduk di lantai seperti ini. Membuat orang khawatir saja." Ujar Neala.
" Tau nih."
" Cup cup kesayangan aku, kalian berdua baik sekali." Hani mencubit dagu kedua wanita itu secara bergantian, kemudian memeluk tubuh mereka sekaligus. " Aku hanya lelah, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku! Oh iya, malam ini kakak kamu kan menghabiskan malam pertama bersama kekasihnya! Apa kalian berdua mau menghabiskan malam pertamaku bersama disini! Kita party." Lanjutnya sembari menaik-turunkan alisnya.
" Oke, siap takut." Jawab kedua wanita itu.
Setelah sepakat, Ela pun memesan beberapa minuman, cemilan dan tak lupa! sebungkus nikotin! malam itu ketiga menghabiskan waktu berpesta dengan sebenar-benarnya. minum, berjoget dengan musik dari ponsel dan menghisap nikotin untuk menenangkan pikiran mereka inilah batas kenakalan mereka. Karena mereka belum pernah terjerumus ****- bebas! jika di tanya kok bisa padahal mereka tubuh dan besar di lingkungan itu dan setiap anak-kan punya rasa ingin tahu! apa ketiga gadis itu tidak ingin tahu.
Jawabnya, tentu saja ingin! tapi mommy Mayang selalu menekankan kepada mereka untuk tidak terjerumus kesana! walaupun dunia wanita itu disana, tapi dia tetaplah seorang ibu yang menginginkan masa depan terbaik untuk anak-anaknya dengan tetap menjaga kehormatan mereka. bersyukur ketiga gadis itu, penurut sehingga mommy Mayang tidak kesulitan untuk mengingatkan mereka.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Di waktu yang sama dengan ruang kamar yang berbeda, sepasang kekasih tengah melepas rindu dengan saling berciuman, setelah beberapa hari tidak bertemu.
Lidah mereka tarpaut saling membalas satu sama lain." Mmhhh,." Perlahan ciuman sang pria berpindah pada leher jenjang wanitanya, sekaligus menyingkap baju dan kain penutup bukit kembar itu keatas. Hingga memberi sih pria akses untuk menjelajahi bukit kenyal itu.
Sementara sang wanita tidak tinggal diam tangannya turun ke bawah, melepas kancing dan menurunkan resleting celana pria itu, untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah mulai keras didalam sana, kemudian mengusapnya naik turun dengan sedikit pijatan lembut.