
Satu minggu telah berlalu setelah pertemuan antara Lisa cs dan Hani juga kedua sahabatnya di rumah sakit.
Malam itu Hani, Lita juga Ela terpaksa meninggalkan ruang rawat Kai satu jam setelah Lisa dan yang lainnya datang, mereka kembali ke apartemen. Karena terjadi sediki perdebatan di antara mereka, Ela yang tidak suka melihat Lisa bermanja-manja kepada kakaknya, langsung menegur Lisa, tapi siapa sangka ratu drama itu langsung berakting dan membuat drama yang memuakkan.
Hingga Hani yang sedang memejamkan matanya, langsung membuka kembali matanya, wanita itu beranjak duduk, kemudian menatap bergantian, pria-pria yang ada di ruangan Kai. Suasana hatinya yang buruk, semakin bertambah buruk saja dengan kehadiran dua iblis betina itu.
" Gini aja! Kalian memilih kita bertiga yang ada di sini atau dua wanita ular ini." Tanya Hani, sembari menunjuk Lisa dan Nahla." Tanpa perasaan iba, padahal beberapa saat yang lalu dia masih mengkhawatirkan saudari angkatnya itu. Namun mendengar ucapan songong Lita. Membuat perasaan itu hilang entah kemana. Bahkan Hani mengabaikan ocehan kedua wanita itu, yang tidak terima di Katai ular betina.
Wanita itu justru berhitung dalam hati, sampai hitungan sepuluh! Dan saat itu Tak ada Jawaban yang keluar dari mulut pria-pria yang ada di sana. Mereka hanya diam, sembari melirik satu sama lain begitu pun suaminya, membuat Hani menyeringai. Kemudian melompat turun dari tempat tidurnya. Meraih tasnya, yang dia letakkan di sofa. Lalu mengajak kedua sahabatnya. " Ayo Ela, Ta. Kita nggak di butuhkan di sini." Ujarnya, kemudian melangkah keluar ruangan itu di ikuti kedua sahabatnya.
Narendra yang melihat hal itu mencoba menahan istrinya untuk tidak pergi, namun Hani, segera menepis tangannya. Bagi wanita itu sepuluh detik terlalu lama untuk sebuah pilihan yang mudah, tapi pria-pria itu tak kunjung membuat pilihan, sehingga dia membantu mereka membuat pilihan.
Bahkan suaminya pun diam, seakan berat memilihnya dengan mantan tersayang nya itu.
Narendra masih terus mengejar Hani sampai di parkiran, namun wanita itu tidak mengindahkannya. Dia masuk kedalam mobilnya, yang di kendarai Lita ke rumah sakit tadi, kemudian berlalu pergi dari sana.
Saat Narendra mencoba menghadang laju mobil istrinya itu. Hani tetap menginjak gas, membuat pria itu hampir saja terlindas ban mobil Hani andai dia terlambat menyingkir sejengkal saja.
Dan sejak hari itu. Mereka aman-aman saja, saking Amannya hingga membuat Hani tidak banyak berbicara, kalau pun sampai dia mengeluarkan suaranya. Itu hanya " hmm, Hmmm dan hmm." Narendra pun sampai bingung harus dengan cara apa membujuk istrinya, padahal sudah satu minggu berlalu, dia juga sudah minta maaf tapi jawab yang dia dapat tetap sama dua huruf yang di susun menjadi satu kata.
Sedangkan Kai sendiri telah pulang ke rumah dan pria itu tengah semangat-semangatnya menyiapkan pernikahannya dengan samna, walaupun dia hanya duduk manis di atas kursi roda kemudian orang-orangnya yang berkerja.
Sementara dirinya masih harus berjuang mendapatkan maaf dari Hani," Sayang, sudah ya marahnya, aku nggak jawab! Karena aku merasa tidak berkewajiban menjawabnya. Itukan ruangan Kai, bukan aku sayang." Jelas Narendra, entah sudah ke berapa kalinya. Namun wanita itu tetep Diam dan hanya tersenyum mengejek. Keduanya saat ini tengah duduk di taman belakang, lebih tepatnya Narendra yang menyusul Hani, yang sudah lebih dulu di sana." Saya_"
" Siapa yang telpon Nay?" Tanya Hani, karena tumben saja! Orang tuanya meminta dia untuk pulang ke rumahnya. Padahal selama ini tidak ada datang untuk memintanya pulang setelah dia menikah. Mommy-nya ada beberapa kali datang tapi hanya untuk bertemu mertuanya kemudian pulang, kalau berbicara dengan hanya sebentar saja. Walaupun begitu mereka masih sering menghubunginya, terlebih untuk bundanya, bahkan wanita itu masih sempat-sempatnya menemuinya di sela-sela kesibukannya.
" Aiden, dia bilang ada orang yang mencari mbak ke rumah mbak dan mengaku teman dekat mbak. Untuk lebih jelasnya, mending mbak ke sana." Ucapannya. Karena Aiden tidak menjelaskan banyak hal, dia cuma minta untuk menyampaikan Seperti itu kepada Hani.
" Hah teman dekat? Siapa?" Tanya Hani. Namun gadis itu hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya. Karena dia benar tidak di beritahu siapa oleh Aiden.
Sedangkan Narendra hanya mencuri dengar tanpa berniat menimpali obrolan adik dan istrinya.
Walaupun dia sangat penasaran, siapa teman Hani yang mencarinya itu. Terlebih jenis kelamin teman istrinya itu. Jika wanita dia tidak masalah, tapi kalau pria.
'Nggak, Nggak mungkin Keanan! Keenan sudah meninggal dan dia sendiri memastikan hal itu saat berada di sana beberapa bulan lalu.' Narendra yakin informasi yang dia dapat sangat akurat. 'Sebenarnya berapa banyak sih Rahasia istrinya itu dan berapa banyak pria yang harus dia hadapi.' belum apa-apa Narendra sudah memiliki feeling, jika teman dekat istrinya itu adalah seorang pria.
" Iya terima kasih Nay, aku akan bersiap-siap untuk pulang." Ucap Hani membuat Narendra tersadar dari lamunannya. Ketika pria itu menatap kepada istrinya, wanita itu sudah melangkah jauh darinya.
" Sayang tunggu, aku ikut." Teriak Narendra. Dia pun segera berdiri, lalu berlari kecil mengikuti langkah istrinya.
...\=\=\=\=\=\=...
Sambil menunggu Haaniya, mampir juga di cerita aku yang lain. semoga kalian suka. terima untuk yang berkenaan untuk mampir.🙏🙏