
Pagi itu Hani memilih pergi ke hotel, selain karena ada pekerjaan yang harus ia lakukan bersama kak Dino dan Lita siang Nanti Hani juga butuh tidur, walaupun hanya sejam.
Dan disinilah dia, tertidur di sofa ruang kerja Dino setelah menelan beberapa butir pil obat tidur. " Kapan dia datang kak?" Tanya Lita kepada Dino, Sebab keduanya baru selesai melakukan meeting dengan staf hotel pagi itu dan hendak membahas lebih lanjut hasil meeting mereka hari pagi ini di ruang kerja Dino.
" Kakak juga nggak tahu, kalau ada dia disini! pagi tadi, pas sampai di hotel kakak langsung ke ruangan meeting, nggak sempat masuk ruang ini, soalnya berkas-berkasnya udah kakak bawah pulang juga semalam." Jawab Dino apa adanya, Sementara lihat mengangguk kepalanya. " Tunggu sebentar." Pintanya, kemudian berjalan ke arah ruang pribadi, di mana ada tempat tidur dan segala keperluannya jika ia pada akhirnya hanya ia harus menginap di hotel, ruangan itu masih tergabung dengan ruang kerjanya.
Pria itu mengambil selimut bersih dari dalam lemarinya, kemudian membawa selimut itu keluar untuk menyelimuti tubuh Hani. Setelah itu ia duduk pada sofa singel, hal yang sama pun di lakukan Lita. Sehingga keduanya duduk saling berhadapan sementara Hani berada di sisi kanan dan kiri mereka.
Kening Dino, mengerut saat kedua matanya tidak sengaja menangkap, botol kecil yang berada di atas meja dengan isi yang masih tersisa setengah. "Jangan berpikir yang aneh-aneh kak! Itu hanyalah obat tidur." Jawab Lita tanpa di tanya ketika ia menyadari arah pandangan Dino. "Jika dia meminumnya, berarti dia sudah sangat-sangat lelah dan sangat membutuhkan istirahat." Lanjutnya lagi, menjelaskan tanpa diminta.
"Apa sebesar itu peran seorang Keenan dalam hidupnya?" Tanya Dino, walaupun ia tidak pernah bertemu dengan Hani selama delapan tahun, namun semua yang Hani lakukan di luar sana, dia mengetahuinya. Entah kabar itu cari sendiri atau kedua wanita itu yang memberitahukan keadaan mereka dimana pun mereka berada.
"Sangat kak, Karena keenan hadir di saat dia membutuhkan perhatian, kasih sayang serta kenyamanan yang seharusnya dia dapatkan dari keluarganya. Jadi ketika hal baik dan kebiasaan itu direnggut dalam sekejap dari dirinya ya beginilah dia. Jatuh sejatuh-jatuhnya." Jawab Lita, dengan tangan yang terulur mengusap lembut rambut Hani. " Andai mereka tahu se-hancur apa dia saat kehilangan! bahkan Aku masih ingat dengan jelas bagaimana histerisnya dia saat jasad keenan di turun ke tempat peristirahatan terakhirnya. Andai saat itu Regan percaya tidak sibuk mencari, Ivanna di dalam air. mungkin kita tidak akan pernah berkesempatan untuk melihat prosesi pemakaman Kenan. Intinya yang dia butuhkan saat ini itu perhatian dan kasih sayang dari mereka."
Dino mengangguk kepalanya lagi, pria itu ikut menatap kepada Hani yang masih terlelap dalam tidurnya. "Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya kepada bunda, siapa tahu hal itu dapat membantunya." Tanya Dino.
" Awalnya aku juga berpikir begitu Kak, Aku ingin memberi tahu keadaannya kepada mereka setelah beberapa hari berada disini! Tapi kakak tahu sendiri-kan, baru sehari dia di rumah mereka sudah menjodohkannya. Bayangin gimana sakitnya jadi dia, dia berharap pulang bisa di sayang-sayang serta di perhatikan oleh bunda dan mommy-nya. Tapi yang terjadi justru berbeda. Dia sangat merindukan kasih sayang mereka! Tapi sepertinya mereka lupa akan hal itu. Hanya karena dia tidak pernah mengatakannya! Tapi sebagai orang tua- kan mereka harusnya peka dong." Dino, tidak dapat berkata-kata lagi, karena apa yang di katakan Lita itu, memang benar.
"Kalau tahu pada akhirnya gitu, mending nggak usah pulang aja!" Ucap Dino, Karena kesal dengan keluarga Haaniya. Gadis itu dulu paling ceria saat tuan Xavier memperkenalkan dirinya kepada Dino. ia juga banyak bercerita tidak seperti sekarang. ngomong seperlunya saja. pipinya yang chubby sudah tidak ada lagi walaupun hal itu tidak mengurangi kecantikannya.
" Kalau boleh jujur, waktu itu dia nggak mau pulang kok! cuma aku yang maksa." Sahut Lita.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain, tempat di perusahaan milik keluarga Sanjaya. Narendra terus mencoba untuk menghubungi Haaniya, namun wanita itu tak kunjung menjawab panggilannya. " Haadeh udah capek-capek bujuk sih Naela! panggilannya malah nggak di jawab! sebenarnya dia kemana sih." Tanya Narendra pada dirinya sendiri.
Pasalnya sudah berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Hani, tapi wanita itu tidak sekali pun menjawab panggilannya. Pesan yang dia kirim saja belum di baca.
Di saat pria itu tengah sibuk dengan di lemahnya karena sang istri, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. pria itu menatap kearah pintu dan mendapati Kairan disana. " Ngapain ke sini? tadi Arga, sekarang kamu! kalian nggak punya kerjaan apa?" tanya Narendra sedikit sewot dengan kehadiran salah satu sahabatnya.
" Justru karena aku dapat kabar dari Arga! kamu sedang seperti ini, makanya itu aku datang untuk menghibur sekaligus menikmati buruknya suasana hati kamu."Ucap Kai, membuat Narendra hanya bisa mengeleng kepala sembari memijit pelipisnya. " Harusnya kamu bersyukur punya sahabat seperti aku, yang rela meninggalkan pekerjaan dan kekasihnya untuk menemani kamu! kurang baik apa aku." Sambungnya lagi.
" Ciih menyebalkan, hal seperti ini kamu sebut baik? baiknya dimana coba?" Tanya Narendra. Moodnya yang sedang rusak semakin bertambah rusak dengan kehadiran Kairan.
"Baiknya aku dimana itu nggak penting! sekarang mending kamu ceritain masalah kamu, siapa tahu aku punya solusinya." Desak Kairan. " Tentang Haaniya." Tebak Kairan, saat Narendra tetap memilih diam.
Mendengar nama istrinya di sebut! nyatanya tak membuat Narendra membuka mulutnya untuk menceritakan alasan yang membuat moodnya buruk hari ini.
Namu hal itu tidak membuat Kairan kehabisan ide, pria itu justru mengalihkan topik dengan membicarakan hubungan Narendra dengan Nahla. " Oh iya bagaimana hubungan kamu dan Nahla?"Tanya Kairan sembari menekan salah satu tombol telpon yang berada di sudut meja kerja Narendra." Nala, kopi dua dong, seperti biasa ya! ingat nggak pakai lama." Perintah Kairan kepada Nahla yang berada di meja kerjanya, kemudian mengakhirinya begitu saja, setelah mengatakan maksud nya.
Melihat sikap sahabatnya itu, Narendra hanya mampu mendengus, bukan tak ingin marah! karena pria itu sudah sering melakukannya. hanya Saja ucapannya tidak pernah didengar oleh Kairan, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, selalu seperti itu.