UNTITLED

UNTITLED
demam



beberapa hari berlalu setelah terakhir Rio dan Bianca bertemu.


hari ini adalah hari terakhir mereka di Bali, Besok mereka akan pulang kembali ke Jakarta.


Pagi sekali, Rio terbangun karena dering Ponselnya yang begitu menggangunya.


Ia Tadinya ini mematikan Panggilan itu, namun saat ia melihat nama kontaknya ' punya gw ' , ia Langsung terbangun dari posisi tidurnya dan duduk menyender di Punggung Kasur.


"halo bii"


[ halo Rio, maaf menggangu. ini Sintia, temen Kaka nya Bianca, Reygan. ]


"Sintia? temen Reygan?" bingung.


"terus Bianca nya mana?"


[ boleh ga kamu kesini sekarang juga? nanti aku jelasin semuanya. Bianca lagi demam tinggi ]


Rio membelalak.


"demam?!! astaga yaudah gw kesana sekarang. kirim alamatnya"


Tanpa menunggu persetujuan dari Sintia, Rio mematikan sambungan telepon nya.


Ia berlari keluar villa hanya Membawa ponselnya dan kunci mobilnya.


di perjalanan, ia sedikit menyasar Karena Begitu paniknya mendengar soal kabar Bianca itu.


sampai pada akhirnya, dua puluh lima menit Rio habiskan Di perjalanan juga beberapa kali tersasar. Akhirnya ia sampai di depan gerbang rumah Persis alamat yang Sintia beri lewat Nomor Bianca.


Rio masuk ke dalam gerbang rumah itu, lalu ia mengetuk pintu utama rumah itu.


Tanpa lama, seorang wanita cantik membuka pintunya.


"dimana Bianca?!" tanya Rio dengan tak sopan nya karena panik.


"ayo, aku Anter" ucap Sintia mempersilahkan Rio masuk, dan ia Mengantar Rio menuju kamar di aman Bianca berada.


..


"di minum dulu" ucap Sintia yang baru saja datang dari dapur membawakan Secangkir teh hangat untuk Rio.


"thanks" ucap Rio singkat.


ia meminumnya sedikit, lalu menyimpan cangkir itu di meja nakas samping kasur.


"Bianca kenapa? kok bisa sampe demam setinggi ini?" tanya Rio sembari mengelus punggung tangan Bianca yang masih tertidur pulas.


Sintia menghela nafas pelan.


"Sejak kejadian Kamu sama dia ketemu, pulangnya dia tiba tiba nangis. dia cerita semuanya sama aku. sejak hari itu, Bianca ga mau makan padahal udah ber kali kali aku tawarin. bahkan sampe hari ini dia belum mau makan. malem malem, Aku selalu denger dia nangis. bahkan kaya nya dia gak tidur semaleman karena nangis terus selama berhari hari ini. terus tadi Pagi, aku bawa sarapan untuk dia, tapi aku denger kalo dia sebut nama kamu terus. aku samperin dia kesini, dan Aku kaget karena Badan dia panas banget. dan maaf banget karena aku lancang Buka hp Bianca dan nelepon kamu" ucap Sintia panjang lebar.


Rio menatap Bianca. ia mengelus kepala Sang istri.


"maafin gw ya bii" ucap Rio, lalu ia mencium pucuk kepala Bianca dengan ketulusan.


Sintia tersenyum melihatnya. Ia bisa merasakan dan melihat ketulusan terdalam di diri Rio untuk Bianca.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


...


...


10 detik.


mata Bianca terbuka.


Pemandangan indah lah yang Ia lihat pertama.. Wajah tampan sang Suami.


Sintia dan Rio Tersenyum lega dan bahagia.


"akhirnya kamu bangun juga Bii. Kaka takut tau kamu kenapa kenapa" ucap Sintia mengelus lengan Bianca.


Bianca Tersenyum mengangguk. "Bianca gapapa".


Kali ini Sintia yang mengangguk.


"yaudah, aku keluar ya. kalian butuh waktu buat ngobrol" ucap Sintia yang langsung meninggalkan mereka berdua di kamar itu. ia menutup rapat pintu kamar itu.


Bianca mengalihkan pandangannya pada Rio yang sedari tadi menatap nya sembari mengelus kepala Bianca.


"ssshhtt"


"Engga, engga.. semua ga bener. Semua yang gw bilang waktu itu ga bener. semua nya ga bener sayang" ucap Rio mengelus pipi Bianca.


Bianca hanya diam saja.


"gw marah"


"gw marah sama Lo. kenapa Lo ga makan? kenapa nangis terus? gw izinin Lo Tinggal disini, tapi gw ga izinin Lo sakit. Kenapa Lo sakit?! ga usah selalu pikirin omongan omongan Ga guna gw bii" ucap Rio.


Bianca menghela nafasnya.


"maafin gw ya" ucap Bianca tanpa menatap wajah Rio.


"maaf apa lagi? Lo ga salah, ga ush minta maaf!!" ucap Rio.


"maaf karena gw sakit. maaf karena gw ga bisa Lepasin gitu aja Omongan omongan Lo yang Lo bilang ga guna itu dari pikiran gw" ucap Bianca.


Rio menatap Bianca.


ia menidurkan kepalanya di perut Sang istri tanpa melepaskan tautan tangannya pada Bianca.


"badan Lo panas banget bii" ucap Rio di Atas perut bianca.


Bianca tersenyum Tipis.


"iya. gw ga tau kenapa bisa panas gini. padahal Tadi malem gw ngerasa dingin banget" ucap Bianca.


Rio kembali ke posisinya.


ia mengecek suhu Badan Bianca.


"udah mendingan. gw beli makan buat Lo ya" ucap Rio berdiri dari Kasur. Rio ingin melepas Tautan tangannya, namun Bianca menahannya.


"disini aja. gw butuh Lo, bukan makanan" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


ia kembali duduk di sisi Kasur dan mengeratkan tautan tangannya pada Bianca.


Rio mengangguk.


"mau makan apa sayang? pesen online aja ya" ucap Rio.


Bianca mengangguk.


"apa aja" ucap Bianca.


Rio mengeluarkan ponselnya dan Memesan online makanan kesukaan Bianca.


"udah" ucap Rio di balas anggukan Kecil Bianca.


Rio menatap Bianca dengan senyum tipisnya beberapa detik. Hingga akhirnya Bianca menarik Rio tidur di sampingnya.


Rio tersenyum.


ia membawa Bianca kedalam pelukannya.


ia mengelus kepala Bianca.


"gw pengennya Tidur sama Lo, bukan makan" ucap Bianca.


"iya sayang, Gw juga kangen peluk Lo" ucap Rio.


Bianca tersenyum.


"besok pulang ya?" tanya Bianca di balas anggukan Rio.


"tapi kalo Lo masih sakit, kita pulang nya nanti aja" ucap Rio.


kini Bianca yang mengangguk.


Tak lama kemudian, pasangan Itu tertidur pulas di Dalam pelukan keduanya.


Sintia datang dan tak sengaja melihat mereka.


ia tersenyum melihat begitu mesra nya Pelukan Mereka, begitu nyamannya Bianca di dalam pelukan Rio, begitu Tulusnya tangan Rio yang masih bergerak mengelus kepala Bianca.


Sintia masuk perlahan dan menyimpan nampan berisi makanan Untuk Bianca yang telah Rio pesan online itu. baru saja datang tadi, dan Sintia langsung menyiapkannya.


Ia keluar kamar dengan hati hati, dan menutup kamar pun dengan hati hati agar kedua insan yang sedang tertidur pulas itu tak terbangun karena suara langkah Sintia dan Suara pintu tertutup.


...----------------...