
memiliki waktu hanya 10 menit untuk sampai di Pantai yang mereka tuju.
Bianca terkagum dengan keindahan Pantai.
"liat deh. bagus banget ya pemandangannya"
"gimana gw bisa liat, kalo tangan Lo nutup pandangan gw terus" ucap Rio yang sedari tadi hanya pasrah.
Bianca tersenyum. "sayangnya gw ga bakal biarin pandangan Lo Ngeliat pemandangan seindah ini"
"iya terserah Bianca aja. Rio nurut" ucap Rio tak mau Berdebat.
Bianca menarik tangan Rio menuju Bangunan Kecil di pinggir pinggir pantai. tempat beristirahat yang nyaman.
Bianca membuka pandangan Rio.
"Duduk" titah Bianca sembari menepuk Kursi sampingnya. Rio hanya mengikutinya.
"mana klien Lo" tanya Bianca.
"ga tau" ucap Rio.
Tangannya menjelajahi saku celananya saat Ponselnya berbunyi motif Chat.
"siapa yang chat? cewe ya" ucap Bianca.
"dih, bukann sayangg. ini Klien gw, katanya dia ga bisa Dateng, tapi anaknya bakal Dateng kesini buat gantiin kedatengan dia" ucap Rio.
Bianca mengangguk.
"yaudah tunggu aja"
Rio menyenderkan kepalanya di bahu Bianca.
"gw pengen liat Pemandangan Luar" ucap Rio.
Bianca merasa kasihan, namun ia lebih merasa kasihan jika Rio harus kembali menghadapi Kecemburuan Bianca seperti tadi pagi. harus membujuknya dari pagi hingga siang.
"gak. gak boleh. gw gak bakal izinin" ucap Bianca.
"kenapa sih Bii?" tanya Rio.
"karena gw sayang sama Lo" ucap Bianca.
"iya gw tau Lo sayang sama gw, dan gw juga begitu. tapi gw gak pernah Ngelarang larang Lo" ucap Rio.
Bianca menghela nafasnya.
"terserah Lo deh! kalo Lo mau liat pemandangan Indah sana! keluar! cewe cewe yang cuman pake bikini sambil berjemur disana pemandangan indah nya?"
Rio terdiam.
"g-gak gitu" lanjut Rio setelah terdiam sejenak.
Tiba tiba seseorang datang dan menyapa Rio Yangs sedang membelakanginya.
"halo, selamat siang pak Rio"
Rio dan Bianca menoleh ke arah suara itu.
Bianca yang tadinya terdiam, kini memancarkan senyum sopan pada seseorang itu.
Rio Menyapanya kembali.
"selamat siang pak, bapak ini anaknya pa Rudi ya"
Seseorang itu tersenyum.
"benar sekali. senang bertemu dengan anda, nama saya Luky" mengulurkan tangannya.
Rio membalas uluran tangannya.
"senang juga bertemu dengan anda, pa luky"
Rio mempersilahkan Luky duduk.
mereka mengobrol ngobrol sebentar hingga akhirnya Luky mengajak Rio keluar melihat pemandangan Laut.
Rio menoleh kearah Bianca yang sedang Duduk diam saja.
Bianca tak menoleh, padahal ia tau sang suami sedang menatapnya.
Rio mengerti dari raut wajah Bianca yang tak suka.
"maaf pa Luky, tapi sepertinya Saya gak bisa Kesana" ucap Rio.
Luky menatap heran. "kenapa?"
"gini pak Luky, sebenernya saya itu takut sama pantai" ucap Rio berbohong.
Bianca menoleh menatap Sang suami.
"ohh gitu" ucap Luky dan mengalihkan pandangannya pada Bianca.
"kalo begitu istri kamu aja yang saya ajak. boleh gak?"
Rio terdiam.
"emm-"
"saya gak suka pantai" ucap Bianca.
"o-oh gitu ya. jadi papah saya Salah Ngajak kalian ke pantai ya" ucap Luky.
"iya" ucap Bianca tanpa menatap Kedua lelaki itu.
"kalo begitu, gimana kalo saya ajak kalian ketempat lain?" tanya Luky.
Rio tersenyum sopan. ia berdiri dari duduknya dan menggandeng tangan Bianca.
"Tidak usah pak, tidak apa apa. saya Sepertinya harus cepat cepat Pulang, karena saya punya urusan lain"
Luky menatap bingung.
"o-oh gitu, yaudah"
Rio membungkukkan Kepalanya dengan hormat.
"permisi pak"
Rio cepat cepat masuk dan menangkap gas.
Mereka sampai hanya 7 menit, karena Rio mengendarainya begitu cepat.
sesampainya di villa, Rio menggandeng Bianca masuk dan duduk di sofa.
"kenapa sih? kok buru buru banget?" tanya Bianca.
"Lo tau ga sih, Dari tadi tuh Luky ngeliatin Lo terus" ucap Rio.
"ngapain sih ngeliatin Lo sampe kaya gitu. dia kan tau Lo istri gw. sampe ngajak Ke pantai berdua lagi" ucap Rio kesal.
"yaudah biarin" ucap Bianca dingin.
Rio menoleh.
"Lo kok dingin banget jawabannya. ga tau apa suami lagi kesel, lagi cemburu. bujuk kek, apa kek"
"emangnya gw gak kesel? gw lagi kesel tau gak sama Lo. Lo gak bujuk gw" ucap Bianca.
"yaudah deh terserah. kita saling ngambek aja" ucap Rio membuang muka.
"terserah" ucap Bianca pergi meninggalkan Rio.
Rio cemberut melihat kepergian Bianca.
"gw kira Mau bujuk. sebenernya kan aku gak mau marahan sama kamu sayangg" ucap Rio menyenderkan kepalanya pada punggung sofa.
..
Sore hari.
Rio ingin masuk ke dalam kamar, namun Sang istri tak membukakannya.
"sayang maaf, jangan ngambek dongg" ucap Rio sembari terus membujuk dan Mengetuk pintu kamar.
"sayangg"
"sayangg. Rio gak mau ngambek ngambekan sama Bianca"
"sayangg, Rio kangen. masa Didiemin sih"
Tiba tiba Bianca membuka pintunya.
"apasih, ganggu banget. berisik tau gak"
"Lo kenapa sih? gw gak ngerti kenapa Lo tiba tiba ngambek" ucap Rio.
Bianca ingin menutup pintunya kembali karena jengkel dengan pertanyaan Rio itu, namun Rio malah menahan Pintunya.
"jawab" ucap Rio.
Bianca menghela nafasnya jengkel.
"Lo tuh orang nya ga pekaan ya?! Lo ngerti ga sih, kalo cewe udah badmood, ya badmood aja ga ada alesannya. dan kalo cewe udah kesel, ya ga ada alesannya, Lo nanya kaya gini tuh bikin gw jengkel. Ngeliat muka Lo aja Udah Bikin gw kesel tau ga" Jelas Bianca panjang lebar dengan nada begitu kesal.
Rio menunduk.
"iya iya maaf Rio gak tau. gak bakal tanya tanya lagi deh. udah ayo maafan" ucap Rio mengulurkan tangannya.
"gak, gw males" ucap Bianca melipat tangannya di perut nya.
"yaudah ga usah kalo gitu" ucap Rio.
Bianca meninggalkan Rio masuk ke kamar tanpa menutup Pintunya membiarkan Rio masuk sendiri.
Bianca duduk di kursi samping jendela Kaca dan membaca buku disana.
Rio masuk, menutup pintunya dan menghampiri tempat tidur yang bersampingan dengan kursi Yang Bianca tempatkan itu.
Rio merebahkan Dirinya sambil menatap lekat Bianca.
"baca apa?" tanya Rio.
"novel" jawab Bianca singkat dan Masih fokus pada bukunya.
Rio hanya mengangguk.
"sayang, tidur yuk. Gak cape?"
"gak" ucap Bianca yang pandangannya masih tetap setia di Buku nya itu.
Rio merebut Buku Bianca dan melemparnya ke sembarang arah. Ia menarik Tangan Bianca membuat Bianca jatuh ke kasur.
Rio memeluk Tubuh Bianca erat.
"gw selama ini sabar loh ngadepin Lo yang Marah terus dan diemin gw terus. Gw punya batas kesabaran" ucap Rio menatap lekat Bianca.
Bianca Menghela nafasnya.
"ya ya ya terserah"
Tatapan Rio yang tadinya Tajam dan menakutkan, kini ia menatap heran dan bingung pada Bianca.
"dih, kok Lo ga takut sih gw gituin tadi" ucap Rio.
"Lo ngomong gitu cuman biar gw takut? basi sayang" ucap Bianca Melepas pelukan Rio, namun Rio menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Tapi gw bisa beneran marah loh" ucap Rio.
"ntar juga Lo nyesel marahin gw. gw udah hapal sama karakter Lo" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"kalo gitu, jangan bikin gw marah Biar gw gak nyesel" ucap Rio.
"liat Lo nyesel dan Mohon mohon sama gw itu kebahagiaan gw, jadi jangan Larang gw. karena gw bisa liat dari mata nyesel Lo, kalo Lo itu tulus" ucap Bianca.
"terus kadang nyesel Lo itu gemesin" ucap Bianca.
Rio tertawa.
"emang paling bisa deh bikin gw salah tingkah" ucap Rio mengelus kepala Bianca.
...----------------...