
Pesawat pun landing dengan selamat.
Bianca dan Rio mengantri untuk turun dari pesawat yang sudah berhenti dengan tepat.
Rio menggandeng sang istri karena disana begitu banyak orang. ia takut ia dan Bianca terpisah.
Rio dan Bianca mengambil koper dan barang barang mereka saat sudah berada di dalam Bandara.
"gw pesen taksi online ya" ucap Bianca.
"itu, di luar ada banyak taksi. kita pake taksi itu aja" ucap Rio.
"oh iya. yaudah" ucap Bianca.
Bianca dan Rio berlari agar Taksi disana tak habis oleh orang.
Bianca dan Rio tertawa Dengan kelakuan kekanak Kanakan mereka Berdua.
mereka mendapatkan 1 taksi yang tersisa disana.
sang supir membantu mereka memasukan koper dan barang barang mereka ke bagasi mobil, lalu Bianca dan Rio masuk ke mobil taksi itu.
Bianca memberi alamat Villa yang sudah ia pesan pada supir taksi itu. sang supir langsung menancap gas ke alamat Villa itu.
"bii, malem ini-"
"ga usah ngomong macem macem" bisik Bianca memotong pembicaraan Rio.
"cih, pede banget. maksud gw, malem ini gw mau pergi ke salah satu hotel. Deket Deket sini kok, soal kerjaan" jelas Rio.
"o-oh" ucap Bianca mengulum bibirnya.
"Lo mau? yaudah habis pulang aja ya" ucap Rio mengelus kepala Bianca.
"ih bukan gituu. gw kira Lo mau ngomong yang engga engga. kita kan lagi di taksi" ucap Bianca.
Rio tertawa tipis.
..
taksi itu berhenti di depan sebuah Villa yang Bianca beri alamatnya.
Bianca dan Rio turun dan mengambil koper juga barang barangnya di bagasi mobil, di bantu sang supir.
setelah itu Rio berterimakasih pada sang supir dan masuk ke villa itu.
Mereka Menghampiri tempat reservasi villa itu untuk mengkonfirmasi pesanan Mereka dari ponsel.
setelah dikonfirmasi, Bianca dan Rio diantar menuju Villa Di sana.
mereka sampai di luar villa pesanan mereka. petugas yang mengantarkan mereka pun pamit pergi.
Bianca terkagum pada keindahan Villa itu. Terdapat taman asri di depan villa mereka. Bentuk bangunan dan warna villa nya pun begitu unik.
Rio menggandeng Bianca masuk menuju bangunan villa itu. ia menggunakan kunci yang telah petugas tadi beri padanya.
Bianca dan Rio terkagum pada bagian dalam villa itu.
"waw, bagus banget. pantes aja mahal" ucap Bianca.
Rio menoleh.
"jangan ngomong gitu teruss. yang penting kan Lo seneng, bahagia. kan bahagia Lo bahagia gw juga" ucap Rio mengelus kepala Bianca penuh kasih sayang.
Bianca tersenyum lebar dan begitu manis.
"makasih ya sayangg" ucap Bianca Menggandeng mesra lengan Sang suami.
"sama sama sayangg" ucap Rio mencium sekilas kening Bianca.
..
malam hari.
Bianca merapikan Baju yang sedang Rio kenakan sekarang untuk pergi mengurus pekerjaan nya di hotel yang Rio katakan.
"Lo ga mau ikut? masa sendiri disini" ucap Rio.
"gapapa. gw sering di tinggal sama Lo dirumah. ga usah khawatir" ucap Bianca yang masih sibuk merapikan Dasi Rio.
"tapi ini beda. gw tinggalin Lo malem malem kaya gini. apa lagi ini bukan daerah Jakarta atau Bandung. ini Bali sayang" ucap Rio khawatir.
Bianca menatap Rio dan tersenyum tipis. ia Mengelus pipi Sang suami.
"tenang yaa. Lo kerja yang fokus, jangan pikirin gw terus" ucap Bianca selesai merapikan baju sang suami.
"udah rapi. ganteng banget" ucap Bianca.
Rio tertawa tipis.
"tapi beneran Lo gapapa?"
"iya gapapa. gw bisa jaga diri" ucap Bianca.
"beneran ya?!" ucap Rio.
Bianca mengangguk.
"sana pergi. Lo ga boleh terlambat. masa seorang Rio Rafael terlambat sih"
"gw bisa jadiin Lo alesan gw terlambat" ucap Rio tersenyum.
" 'maaf pa, saya terlambat. soalnya istri saya lagi manja banget sih. ga mau ditinggalin suaminya katanya' " ucap Rio.
"tapi gw gak manja" ucap Bianca cemberut.
"nanti malem Lo bakal Manja sama gw. liat aja nanti" bisik Rio.
"dih. gw gak bakal manja sama Lo! gw ngambek sama Lo!" ucap Bianca membuang muka.
Rio tersenyum gemas.
"yaudah sayangg. gw pergi dulu ya" ucap Rio mencium kening Bianca cukup lama.
"dadah sayang"
Bianca masih membuang mukanya, dan masih cemberut.
akhirnya Rio dengan ragu meninggalkan sang istri yang sedang kesal padanya itu tanpa meninggalkan satu patah kata pun.
Saat Rio sudah keluar dari bangunan itu, Bianca berlari menuju jendela dari kamarnya, dan menatap kepergian sang suami. ia cemberut.
"dia malah ninggalin gw tanpa Ngomong apa apa"
..
Bianca duduk di kursi yang tersedia di dekat kaca jendela balkon. menatap bulan dan bintang yang cahaya nya menembus kaca jendela itu.
Ia menghela nafasnya.
"Rio mana sih, lama banget. gatau apa istrinya nungguin?!"
memang Rio sudah hampir tiga jam tak pulang. sekarang sudah hampir jam sebelas malam.
Bianca ingin sekali menelepon nya, namun sang suami sedang bekerja, ia tak ingin mengganggunya.
ia sudah mengirimkan sang suami chat, namun Rio sendiri pun belum membalasnya, bahkan melihatnya pun belum.
"coba aja tadi gw gak ngambek, pasti gw bisa tau kapan dia pulang" ucap Bianca menyesal.
akhirnya Bianca menunggu Hingga pukul satu malam.
..
Bianca mendengar suara pintu utama terbuka. Ia berlari mendekati pintu kamar. saat pintu kamar dibuka, Bianca langsung memeluk Seseorang yang membuka Pintu itu.
"Rio!! Lo dari mana aja sih? Lo tau ga dari tadi gw nungguin Lo?! gw kangen sama Lo" ucap Bianca dalam pelukan hangat sang suami. ia mengetahui bahwa itu sang suami, karena Wangi parfum nya. juga naluri seorang istri yang sedang merindukan Sang suami.
Rio tersenyum. ia memeluk erat Bianca dan mengelus kepalanya.
"maaf ya lama. tadi gw harus meeting lama banget"
Bianca makin memeluk erat.
"setidaknya Lo baca chat gw kek"
"gw lupa tadi. gw gak bawa hp" ucap Rio.
Bianca melepas pelukannya. ia menggandeng Rio duduk di sisi Kasur.
Ia membukakan jas Yang Rio kenakan.
Bianca juga memberantaki rambut Rio yang tadinya begitu rapi.
bianca berjalan mengambil kaos polos berwarna hitam milik Rio.
ia kembali lagi duduk di samping Rio. Membuka satu persatu Kancing kemeja Rio dan membuka kemejanya. setelah itu ia memakaikan Kaos Hitam yang ia Ambil tadi pada Sang suami.
Bianca tersenyum menatap penampilan Rio sekarang.
"gw lebih suka Lo yang kaya gini". dengan cepat ia kembali memeluk erat sang suami.
Rio yang sedari tadi bingung, kini tersenyum dan kembali memeluk erat sang istri.
..
Rio mengajak Bianca untuk tidur. kini Rio dan Bianca memang tidur. ya, tubuhnya tidur namun jiwa nya masih terbangun.
Bianca terus memeluk erat Rio. Rio juga memeluknya juga mengelus kepalanya.
"Lo gak mau tidur bii? udah jam segini loh" ucap Rio.
"gak, gw mau meluk Lo terus" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"tuhkan apa gw bilang. Lo bakal manja"
"iya. gw tau. maafin gw kalo Lo ga suka" ucap Bianca ingin melepas pelukannya.
namun Rio menahannya, mengembalikan Posisi Bianca seperti semula.
"gw suka lo kaya gini. jangan dilepas"
Bianca kembali memeluk erat Rio.
namun lama kelamaan, matanya menyimpan kantuk yang begitu berat karena Pelukan dan Elusan sang suami begitu nyaman. Akhirnya Bianca tertidur.
Rio yang menyadari bahwa Bianca sudah tertidur, memeluk eratnya dan tertidur juga.
...----------------...