
Indira berlari memasuki cafe yang kemarin malam disinggahi nya. Sedangkan pria itu sudah terduduk di kursinya, sekali lagi highellsnya berbunyi. Jika boleh jujur, ini pertama kalinya Indira menemui seseorang laki-laki yang membuat jantungnya berdegup
"Halo, sudah lama?" Tanya Indira, Remmy hanya tersenyum dan meminum kopi yang sudah dipesannya "Oh enggak, barusan aja kok"
Indira mengangguk mengerti dan memanggil waiterest, Remmy tersenyum memandangi gerak gerik dari Indira.
"Jadi ngajak ketemu mau bahas tentang apa nih?"
"Kamu tuh adiknya Ian?"
Indira mengangguk "Emangnya wajah kita beda? Banyak yang ngomong malahan kita mirip banget"
Remmy tertawa, dan menampilkan lesung pipi kanan "Well saya ga ngomong gitu sih, cuma kaget aja gitu" Indira tertawa "Indy, dia kayaknya masih kurang percaya juga kalo kamu arsitek"
"Indy?"
"Iya Indy, em yang ini" Kata Indira dan menampilkan foto Indy dengannya
"Oh, kenapa kok ga percaya gitu?"
"Dia ga percaya soalnya kamu pake baju kayak 80'an gitu, katanya profesi sama baju ga sama"
Remmy tertawa "Kata temenku sih juga gitu, saya punya temen kantor namanya Fardian dia ceplas-ceplos sih orangnya. Dan saya malah dibilang kayak opanya" Indira tertawa mendengar fakta yang diucapkan Remmy
Tidak lama makanan yang dipesan Indira sudah ada di hadapannya, begitu juga menu yang dipesan Remmy. Tidak ada yang bersuara, kecuali penyanyi malam di cafe ini
"Halo malam, apa kabar? Malam ini saya mau menyanyikan lagu yang kalo anak 90an pasti tau lagunya" lalu penyanyi tersebut memberi aba-aba kepada organis disampingnya
***The sun stops shining and the sky starts falling
And the world stops spinning and she's right here, she's right here stars stop twinkling
And the ocean is dry the wind stops blowing
And she's right here, she's right here
Come what may, come what will come whatever, she'll be right here still so when I get old, the world gets cold one thing I know
She's right here, she's right here
No matter what the world decides to throw at me
She's right here who I can depend on and just where she'll be said she's right here
She's right here, she's right here
She's right here
The fans stop screaming and the checks stop coming
The records stop selling and I'm right here, I'm right here my belly starts growing
And all my clothes don't fit no more
But I'm right here, I'm right here***
Indira menyanyikan lagu she's right here yang dinyanyikan oleh Ne-Yo, begitu juga Remmy beberapa kali pria itu mengangguk-anggukan kepalanya sambil bergumam menyanyikan sepenggal kalimat lalu meresap rokoknya dan sesekali meminum kopi.
"Kamu ngerokok mas?"
Remmy menghembuskan asapnya dan mematikan rokoknya di asbak "Kamu keberatan ya kalo aku ngerokok?" Indira menggeleng "Kenapa keberatan? Itukan pilihan masing-masing pribadi"
"Wah, kamu bikin saya terkesan" Indira meresap kopinya, dan tertawa "Aku bukan seumuran kayak Indy mas, umurku kalo kata mami udah tua"
"Nah iya, jujur saya kayak keberatan sih kita baru umur berapa udah dibilang tua"
"Ya kadang gitu sih, kata Indy masih untung Ian punya Kareen udah tua punya pasangan. Aku katanya masih sibuk ngurus kerjaan makanya ga punya pacar"
Mereka berdua tertawa "Oh iya, jabatan apa sih kamu di kantor?"
"Chef editor"
"Then how was your day?" Tanya Remmy, Indira menghela napasnya "Terrible"
Lalu mereka bercerita panjang tentang hari mereka masing-masing. Ditemani sang singer cafe menyanyikan berbagai macam lagu, mereka berdua bersenda gurau, seolah malam ini mendekatkan mereka.
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
Next?
Like ya