
pagi hari kemudian.
Pagi ini tak ada Ocehan apapun dari Bianca.
Sejak tadi, Bianca hanya diam saja.
Bahkan saat Rio belum bangun Untuk Masuk kerja pun, Bianca tak memarahinya.
Benar benar tak ada sepatah katapun dari bibir Bianca.
Rio heran dengan perilaku Bianca pagi ini.
Rio juga kembali mengingat apa yang membuat Bianca marah padanya.
Dia Merasa, tak ada Apapun yang membuat Bianca marah.
"Lo kenapa?" tanya Rio sambil menyantap sarapan yang dibuat Bianca.
Bianca Tak menjawab bahkan tak melirik Rio sedikit pun.
Rio yang sedari tadi dibiarkan, menjadi kesal.
"Biancaa" Panggil Rio lembut.
Bukannya menoleh, Bianca malah berdiri dari kursi dan pergi tanpa menghabiskan sarapannya.
Rio hanya bisa menatap heran kepergian Bianca.
"dia kenapa sih?" Batin Rio bertanya tanya.
Rio pun berfokus pada Sarapannya dan langsung menghabiskannya.
Setelah selesai makan, Rio membereskan Meja makan dan menyuci piring bekasnya dan Bianca.
.
.
.
.
setelah selesai semuanya, Rio pun Pergi menyusul Bianca menuju Kamar.
Dikamar, terlihat Bianca sedang melamun dengan Raut wajah sedih dan matanya yang berkaca kaca.
Rio benar benar sangat heran dengan Bianca sejak tadi.
Ingin Rio bertanya, tpi Rio tau kalo nanti akan di biarkan lagi oleh Bianca.
Akhirnya Rio memutuskan untuk duduk menyender pada punggung kasur sambil menaruh bantal di Pahanya.
Rio menatap Bianca yang sepertinya sedang berusaha Untuk tak mengeluarkan air matanya itu saat tau bahwa Rio ada di sana.
"kalo mau nangis, nangis aja kali.. gw gak bakal ngelarang apa lagi marahin Lo" ucap Rio tanpa menatap Bianca.
Bianca menoleh dengan muka seolah olah tegar.
"maksud Lo apa?! gw gak Mau nangis kok.. gak ush sok tau deh" ucap Bianca berusaha tegar.
Rio menoleh dan menatap mata Bianca.
Rio mensipitkan matanya sambil menatap mata Sembab Bianca itu.
"lu mau boong sama gw? serius?!.. gak ada yang bisa boong sama gw bii" ucap Rio.
Bianca menatap Rio datar.
"Lo lagi kenapa sih? cerita kek sama gw, gw kan suami Lo" ucap Rio.
"gw gak akan pernah cerita soal privasi gw ke Lo!" ucap Bianca.
"seengganya kasih tau gw kenapa Lo diemin gw dari tdi.. apa gw ada salah sama Lo?" tanya Rio.
"engga" jawab Bianca yang langsung membuang mukanya.
"terus kenapa?" tanya Rio lagi.
"gw emng lagi gak mood ngomong aja!" ucap Bianca.
"gak! gw tau ada sesuatu yang Lo sembunyiin" ucap Rio.
"gak ada Rio! udh deh gak ush nebak nebak" ucap Bianca.
"gw gak nebak nebak.. Klo seandainya Lo emng gak mood ngomong, kenapa sekarang Lo mau debat sama gw? gw yakin sebenernya Lo itu bukan lagi gak mood ngomong, tapi Lo lagi ada masalah" ucap Rio yang berhasil membuat Bianca terdiam.
Rio menatap Bianca yang terdiam mematung dan tak bisa menjawab apa apa.
"oke! gw bener! Lo emng lagi ada masalah.. sekarang cerita sama gw" ucap Rio.
"gak gak gak! gw lagi gak kenapa Napa" ucap Bianca.
"cerita sama gw bii!!!" ucap Rio yang sepertinya benar benar ingin jadi tempat curhat terbaik untuk Bianca.
"gw gak bisa cerita sama Lo!" ucap Bianca.
"tapi kenapa?" tanya Rio.
"karena ini tentang-" ucap Bianca terpotong karena menyadari sesuatu yang hampir ia katanya.
"karena apa?" tanya Rio.
"gak! bukan apa apa" ucap Bianca.
"gw pengen Lo cerita sama gw sekarang!" ucap Rio ngotot.
"gw gak mau Rio! Lo gak ush maksa gw.. Lo gak usah seolah olah peduli sama gw" ucap Bianca.
"gw kaya gitu karena apa? karena gw peduli sama Lo! gw bukan sekedar pengen tau, gw pengen bantu Lo buat Nyelesain masalah yang lagi Lo hadepin sekarang" ucap Bianca.
"Lo mau bantu gw?" tanya Bianca.
Rio mengangguk dengan lembut.
"oke, tapi gw bakal kasih tau cara Lo bantu gw nanti" ucap Bianca.
"tapi kenapa harus nanti? kenapa gak sekarang?" ucap Rio heran
Bianca tak mau menjawabnya.
dia mulai kembali membiarkan Rio lagi.
Bianca berdiri dari kasur dan masuk ke kamar mandi sambil membawa pakaian Dan Handuk.
.
.
.
selesai Mandi, Bianca berdandan.
Setelah itu Bianca langsung berjalan keluar kamar tanpa meninggalkan Satu kalimat pun Pada Rio.
Dengan cepat Rio langsung menarik tangan Bianca dan menyenderkannya di tembok.
Ia mengunci kedua pergelangan tangan Bianca di Atas dengan 1 tangannya.
"Lo mau ngapain sih !" ucap Bianca kesal.
"Lo kenapa sih?! Lo mau kemana sekarang? kenapa gak ngomong ke gw dulu!! gw gak bakal izinin klo kaya gitu!!" ucap Rio.
"gw mau ketemu Luna" ucap Bianca dingin.
"gw anterin Lo" ucap Rio.
"gak! ini privasi! gw gak mau Lo Tau soal privasi gw!" ucap Bianca.
"bii! gw suami Lo dan Lo gak mau ngasih tau privasi Lo ke gw, sedangkan Luna? Luna Orang asing bagi Lo kan?! Luna orang Yang baru Lo kenal, kenapa Lo bisa seberani ini buat ngasih privasi Lo ke dia?!!!" ucap Rio.
"karena gw percaya sama dia!" ucap Bianca.
"sekarang lepasin gw!" ucap Bianca.
"gak" ucap Rio.
"Lepasin Rioo!" ucap Bianca kesal.
"kalo Lo gak mau Nurut sama gw oke!" ucap Rio sambil menatap dari atas sampai bawah Bianca.
"tapi ketemuan Lo sama Luna bakal ke undur" ucap Rio.
"m-maksud Lo apa?!" ucap Bianca takut dengan tatapan Rio pada Tubuhnya.
"Lo jangan macem macem ya Rio!" ucap Bianca ketakutan.
"engga, gw gak macem macem.. Gw pengen Lo Dapet Pahala.." Ucap Rio.
"dengan cara ngelayanin gw" bisik Rio.
Bulu kuduk Bianca seketika Berdiri.
Sangat merinding jika Rio sudah berkata Begitu.
"jangan apa apain gw! Lo gak ush Macem macem deh klo ngomong ya?! mau dosa Lo?!" ucap Bianca.
"setau gw, berhubungan klo udh nikah itu pahala tau" ucap Rio.
"i-iya gw tau, tpi Klo gw gak mau Tetep aja dosa" ucap Bianca.
"iya, Lo yang dosa karena Nolak permintaan gw buat Itu.. Gw tau soal agama Bii, Lo jangan Berani macem macem sama gw" ucap Rio.
Bianca tak menyangka ternyata Rio tau soal itu.
Rio menatap Bianca dengan penuh harapan.
Bianca hanya diam sambil ketakutan.
"Sekarang gw tanya sama Lo.. Emng Lo cinta sama gw sampe mau ngelakuin itu sama gw?" tanya Bianca.
"gak tau, gw gak tau sama perasaan gw.. Tpi gw mau ngerasain tubuh Lo" ucap Rio.
"klo Lo gak punya rasa sama gw, gw gak bakal mau Ngasih tubuh gw ke Lo!" ucap Bianca.
"Lo nolak?" Ucap Rio.
"b-bukan gitu!.. gw gak mau orang yang gak Punya rasa sama gw malah mau ngambil keperawanan gw" ucap Bianca.
Rio melepaskan Bianca.
Bianca langsung pergi.
Rio hanya diam saja.
.
.
.
.
Bianca pergi menemui Luna di taman.
Ternyata Sudah ada Luna disana sedang duduk sendirian.
Bianca Duduk disampingnya.
Luna menoleh ketika sang sahabatnya itu Datang.
"maafin aku ya kelamaan, tdi di larang sama Rio" ucap Bianca.
"gapapa bii.. sekarang kamu mau Ngomong apa?" tanya Luna.
"lun.. kayanya aku udh mulai sayang sama Rio" ucap Bianca menunduk.
"aku harus menghindar dari Rio, biar aku bisa ngehapus rasa ini" ucap Bianca.
"aku gak mau rasa ini malah makin dalem dan malah ngehambat misi kita" ucap Bianca
Luna mengelus Punggung Bianca.
"Bii.. klo kamu tersiksa sama misi ini, kamu gak usah terlalu maksain.. percaya sama hati kamu dan ikutin terus kata hati kamu" ucap Luna.
"gak bisa! aku harus hapus Rasa ini!" ucap bianca.
"aku bakal dukung apapun yang kamu Mau lakuin, tpi kamu juga jangan terlalu maksain oke?!"
Bianca mengangguk.
...----------------...
(like, komen, vote yaa.. Biar author makin semangat upnya)