UNTITLED

UNTITLED
perselisihan



keesokan hari kemudian.


cuaca hari ini mendung, namun tak hujan.


Luna sejak pagi sekali menelfon Bianca dan mengabarkannya bahwa ia akan Kerumah bianca.


kini Rio dan Bianca sedang duduk santai di Ruang santai.


Seharusnya hari ini Rio pergi ke Kantor, namun ia tak mau.


Ia ingin dirumah saja, karena katanya diluar udaranya cukup dingin.


"kalo Lo gak ke kantor terus gimana sama karyawan karyawan Lo?. gw udh pernah bilang kan, Lo sebagai CEO tuh harus jadi pemimpin bawahan bawahan lo" ucap Bianca.


"gw mau kekantor, tapi Lo ikut dan temenin gw" ucap Rio.


"gak bisa, gw ada janji sama Luna. Luna mau kesini" ucap Bianca.


"suruh aja Luna ke kantor kalo gitu, lagi pula kantor gak terlalu jauh dari rumahnya kan?" ucap Rio.


"tapi kalo ternyata Luna udh di jalan dan ngelewatin Kantor gimana?" ucap Bianca.


"yaudah, gak ush jadi ketemu" ucap Rio.


"gak bisa gitu lah rioo.. gw udh sering ngebatalin rencana Luna buat ketemu gw, jdi kalo sekarang gw batalin, gw gak enak sama Luna" ucap Bianca.


"yaudah undurin aja" ucap Rio lagi.


Bianca menatap heran, mengapa Rio bertingkah seperti ingin sekali Bianca ikut.


"Lo kenapa sih? biasanya juga gw gak ikut" ucap Bianca.


"hari ini gw mau Lo ikut" ucap Rio.


"tapi gw kan punya rencana gw sendiri" ucap Bianca.


"batalin aja.. lagi pula gw itu suami Lo, apa salah gw minta Lo temenin gw Ke kantor!" ucap Rio.


"Lo tuh gak boleh egois.. gw emang istri Lo, tapi kita berdua punya hidup dan rencana masing masing" ucap Bianca.


Rio menghela nafas.


"yaudah kalo Lo gak mau ikut gw" ucap Rio yang langsung berjalan pergi keluar tanpa mengganti bajunya.


Bianca masih menatap heran pada pintu utama yang terbuka lebar dimana tempat Rio pergi.


"dia kenapa sih?!" ucap Bianca bertanya tanya sendiri.


tak lama setelah itu, Luna datang.


Luna datang dengan kebingungan, karena biasanya pintu utama Rumah itu tak pernah terbuka selebar ini.


Luna juga heran karena ia melihat Bianca yang terduduk seperti banyak sekali pikiran.


Luna masuk dan duduk di samping Bianca.


"Lo kenapa?" tanya Luna.


Bianca menoleh kearah sumber suara itu.


"eh lun, kapan Dateng?" tanya Bianca.


"baru" jawab Luna.


Bianca mengangguk mengerti.


Luna menatap Bianca yang wajahnya itu sangat lesu.


"ada masalah lagi sama Rio?" tanya Luna.


Bianca mengangguk.


"sekarang gini.. kalo Lo emang ada masalah kecil sama Rio, selesain secepatnya. kalo Emang ini masalah besar, coba ngertiin Keadaan Rio dulu, terus selesain baik baik" ucap Luna.


"gw punya 2 masalah sama rio. yang pertama ini masalah kecil, tdi dia marah karena gw gak bisa ikut dia ke kantor.. tpi kalo yang kedua, gw gak tau ini masalah kecil atau besar, tapi..." ucap Bianca tak melanjutkan.


"kalo Lo masih bingung tentang masalah Lo, cerita ke gw" ucap Luna.


Bianca menghela nafas.


"yang kedua.. kemarin gw lagi lagi nolak dia. tapi masalahnya, kali ini gw ngerasa sakit banget liat Rio kecewa, gw harus gimana?" ucap Bianca.


"menurut gw, kalo masalah kedua itu susah cari solusinya kecuali Lo udah siap. nah sekarang mending Lo urus masalah pertama Lo. Lo cari Rio dan minta maaf sama dia, ikutin apa yang dia mau sebagai pengganti tentang masalah kedua" ucap Luna.


Bianca mengangguk mengerti.


"makasih ya lun udah ngasih saran. gw seneng banget bisa cerita ke Lo" ucap Bianca.


"gw juga seneng Lo Mau cerita ke gw, artinya Lo percaya sama gw" ucap Luna.


"yaudah sana Susul Rio sebelum diambil cewe lain" ucap Luna.


Bianca tersenyum tipis.


"yaudah kalo gitu, gw pergi ya" ucap Bianca.


"gw juga pulang ya" ucap Luna.


mereka pun akhirnya saling berpamitan dan pergi ke arah yang mereka tuju masing masing.


..


Bianca sampai di kantor Rio.


ia menanyakan Rio pada karyawan karyawan di kantornya, namun mereka tak ada yang tau Rio kemana.


"cari suami tercinta?" ucap seseorang dari belakang Bianca.


"pa Agra?" ucap Bianca.


"hai Bianca.. udah lama gak ketemu, kemana aja? sejak ungkapan soal hubungan kamu dan Rio, kamu jadi jarang keliatan di kantor ya" ucap Agra.


"saya sibuk pa, jadi gak bisa ke kantor" ucap Bianca.


Agra tertawa.


"Sibuk apa? sibuk bikin anak sama pa Rio? haha emangnya Rio bisa kasih anak Buat kamu" ucap Agra.


Bianca sangat kesal dan tak suka jika Rio di rendahkan seperti itu.


"maksud bapak apa ya?! kok bapak ngomong kaya gitu?!" ucap Bianca.


"benerkan? liat, kamu belum hamil sampe sekarang.. atau emang kalian gak pernah ngelakuin" ucap Agra.


"pak, bapak gak berhak ikut campur sama Rumah tangga saya" ucap Bianca.


"saya gak ikut campur, itu emang kenyataan kan?" ucap Agra.


"saya gak suka Bapak jelekin Rio kaya gitu" ucap Bianca.


"liat pa Rio, istri kamu bela kamu mati Matian kaya gini, sedangkan kamu malah ngilang, huh kasian" ucap Agra.


"pa! kalo bapak gak ada urusan sama saya, gak ush ngajak ngobrol saya!" ucap Bianca.


"aduh, cantik cantik kasar yaa.. padahal saya rekan bisnis suami kamu, harusnya kamu bisa menghargai saya" ucap Agra.


"bapak udah keterlaluan.. saya gak bakal terima kalo bapak jelek jelekin Rio kaya gitu!" ucap Bianca.


"saya gak ada maksud apa apa Bianca.. saya cuman mau nawarin, kalo seandainya Rio gak bisa kasih anak Buat kamu, saya bisa kok" ucap Agra tersenyum licik.


"maksud bapak apa ya?!" ucap Bianca.


Agra tiba tiba menarik Bianca ke belakang gedung Kantor Rio.


disana ada ruangan kosong, Agra membawa Bianca kesana.


Agra melempar Bianca.


lalu tersenyum licik dan mendekat pada Bianca.


"pa, bapak mau ngapain?!" ucap Bianca ketakutan.


Agra membuka kancing kemeja nya satu persatu.


Agra mendekat dan memojokkan Bianca.


Bianca sangat ketakutan.


ia tak menyangka Bahwa Agra sebejat ini.


Bianca menangis dan kini hanya Rio yang ada dalam pikirannya.


Agra tertawa melihat ketakutan Bianca itu.


saat Agra mendekat dan lebih dekat dengan Bianca, seseorang mendobrak pintu ruangan itu dan menendang Agra hingga tersungkur.


saat Agra melihat siapa itu, ia tertawa.


"oh pa Rio" ucap Agra sambil menyeka ujung bibirnya.


"jangan macem macem sama Bianca!" ucap Rio.


"saya bermaksud baik. kalo bapak gak bisa kasih Bianca anak, biar saya yang kasih dia anak" ucap Agra.


Rio tak tahan mendengar ucapan Agra barusan.


Ia langsung menendang Agra hingga kembali tersungkur, lalu ia memukulinya hingga Agra pingsan.


Polisi datang dan membawa Agra yang pingsan itu.


Rio berjalan mendekati Bianca yang terduduk sambil menunduk dan terus menangis.


Rio melutut di depan Bianca, lalu memeluk Bianca.


Ia mengelus kepala bianca dengan tulus.


"maafin gw gak bisa jaga Lo" ucap Rio.


Bianca tak menjawab dan Terus menangis.


Rio menyeka air mata Bianca dan kembali memeluknya.


Rio menjadi sangat merasa bersalah tentang apa yang terjadi barusan.


"kalo mau pergi, kabarin gw.. gw takut Lo kenapa Napa bii" ucap Rio.


Bianca masih tak mau berkata apapun dan masih menangis.


Rio menggandeng Bianca untuk pergi dari ruangan itu.


Rio membawa Bianca ke ruangannya dan menenangkannya yang sedari tadi masih terdiam menangis.


Rio terus mengelus kepala Bianca agar Bianca merasa tenang.


Bianca menyender di bahu Rio saat ia sudah merasa lebih tenang.


"udah ya gak ush dipikirin" ucap Rio lalu mencium kening Bianca.


Rio menyuruh Bianca tidur agar tak terpikirkan Tentang itu lagi.


Elusan lembut Rio membuat Bianca tenang dan tertidur.


...----------------...