UNTITLED

UNTITLED
Seakan ingin pergi



siang menjelang sore, Bianca dan Rio menghabiskan waktunya di kantor.


Rio tidak mengerjakan Pekerjaannya, melainkan hanya duduk sambil terus Menenangkan Bianca yang masih teringat soal kejadian tadi.


Seseorang tiba tiba dengan lancangnya masuk tanpa mengetuk bahkan meminta izin.


"Tamara! apa apaan sih?!" ucap Rio pada seseorang itu, ternyata itu adalah Tamara.


"pak Rio! kenapa kalian malah menjebloskan Pak Agra ke penjara? dia Rekan bisnis yang buat Perusahaan ini berjalan lancar loh" ucap Tamara.


"dia emang pantes dipenjara" ucap Rio.


"lalu bagaimana dengan perusahaan ini kedepannya?!" ucap Tamara.


"kamu ini bukan siapa siapa, gak usah ngajarin saya tentang perusahaan ini.. saya tau mana yang baik dan mana yang buruk" ucap Rio.


"pak! saya emang bukan siapa siapa, tapi kalo bapak gak ada, saya yang kerjakan semua. jadi saya lebih tau dari pada bapak" ucap Tamara yang langsung pergi dari ruangan Rio itu.


"cih" ucap Rio.


"kayanya apa yang dibilang Tamara tuh bener deh. Semenjak Agra ikut campur sama Perusahaan ini, perusahaan ini jadi lebih baik" ucap Bianca.


"bii, sebaik baiknya Agra soal perusahaan ini, dia tetep bejat dan gw gak mau Lo Minta gw buat bebasin dan Terima dia jadi rekan bisnis kita" ucap Rio.


"siapa juga yang mau nyuruh Lo Bebasin Agra. dia udah keterlaluan" ucap Bianca.


"tau gak sih Lo. masa tadi dia jelek jelekin Lo, kesel banget gw" ucap Bianca.


"jadi Lo bertengkar sama dia karena Lo belain gw?" tanya Rio.


"iya" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"emang dia ngomong apa sama Lo?" tanya Rio.


"dia jelek jelekin Lo, katanya Lo gak bisa kasih gw anak" ucap Bianca.


Rio tertawa kecil.


"kenapa Lo gak bilang aja kalo sebenernya Lo yang gak mau gw buatin anak" ucap Rio.


"b-bukan gituu.. g-gw bukan gak mau, gw belum siap" ucap Bianca.


Rio mengangguk.


"iya gw tau" ucap Rio.


Rio menuntun kepala Bianca untuk menyender di bahu nya.


Ia mengelus kepala Bianca yang sudah menyender di bahunya.


"Lo udah gak kepikiran soal tadi lagi kan?" tanya Rio.


Bianca mengangguk.


"iya, gw udah lumayan tenang" ucap Bianca.


"oh iya, gw mau nanya sama Lo" ucap Rio.


"hm?" ucap Bianca.


"tadi pas gw nyelamatin Lo, Lo kok diem aja? kenapa Lo cuman duduk sambil nunduk?" tanay Rio yang masih penasaran soal itu.


Bianca sedikit tertawa sambil membayangkan kejadian tadi.


"Lo mau tau?" tanya Bianca.


"iya" ucap Rio.


"gw kaya gitu, karena gw kira itu cuman khayalan gw doang. karena waktu itu, dipikiran gw cuman Lo doang.. entah kenapa, tapi waktu itu gw bener bener gak bisa apa apa selain nangis dan berharap Lo Dateng nyelamatin gw, tapi setelah gw pikir pikir lagi, kayanya gak mungkin, soalnya gak ada siapapun yang liat gw sama Agra.. tapi kenyataannya, Lo Dateng nyelamatin gw sama kaya apa yang ada di pikiran gw" ucap Bianca.


Rio mengangguk mengerti.


"kenapa Lo berharap gw Dateng dan nyelamatin Lo, padahal ini kantor.. Lo bisa aja Berharap seseorang yang Dateng dan nyelamatin lo" tanya Rio lagi.


"udah gw bilang, cuman Lo yang ada dipikiran gw waktu itu" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"yaudah, lain kali kalo ada di Situasi kaya gitu, Lo jangan terus berharap gw yang bakal Dateng.. gw gak bakal selamanya bisa ada buat Lo Bii.. Lo harus usaha buat bebas dari keadaan mengancam kaya tadi, dan Lo harus tetep berharap sama Seseorang yang ada disekitar sana, karna gak selamanya gw ada disekitar Lo" ucap Rio.


"Lo kok ngomong gitu?" tanya Bianca.


"ya karena gw pengen Lo jangan selalu berharap sama gw" ucap Rio.


"tapi kenapa Lo harus ngomong kaya gitu? seakan akan Lo bakal pergi ninggalin gw" ucap Bianca.


Rio terdiam.


"kita gak tau kedepannya kaya gimana bii.. gw cuman mau, walau seandainya gw gak ada disamping Lo, Lo harus tetep waspada dan bisa jaga diri" ucap Rio.


"Lo bisa gak sih gak usah ngomong kaya gitu?! gw gak mau ya Lo ninggalin gw. gw gak bakal terima omongan Lo yang ini!!" ucap Bianca marah.


"gw gak tau kedepannya bakal kaya gimana.. tentang hubungan kita, tentang omongan Reygan waktu itu, tentang rumah tangga kita, tentang Kita.. gw gak bisa tau semua itu kedepannya.. gw cuman berharap, Lo bahagia dan tenang " batin Rio.


Bianca menatap Rio yang sedang melamun itu.


"Rioo.. Lo kenapa ngelamun? Lo lagi ada pikiran? Lo kenapa sih?.. tentang omongan Lo yang tadi, maksud Lo apa?!" ucap Bianca menatap Rio.


Rio menghela nafas.


"engga, gak kenapa Napa.. kita pulang yu, udah sore" ucap Rio menggandeng Bianca dan membawanya pulang.


"tunggu" ucap Bianca menggantikan Langkahnya, dan membuat Rio pun menghentikan langkahnya.


"kenapa?" tanya Rio.


"gw mau liat Agra di kantor polisi" ucap bianca.


"buat apa?" tanya Rio.


"mau liat aja" ucap Bianca.


"gak deh, ntar Lo di apa apain sama dia, gw gak mau" ucap Rio.


"rioo, pliss.. kali ini aja" ucap Bianca membujuknya dengan wajah manisnya.


"haish, yaudah ayo.. Lo bikin gw gak tega sama ekspresi manis Lo" ucap Rio menggandeng Bianca.


Bianca tersenyum.


..


mereka sampai di Kantor polisi.


setelah mereka mengobrol dan bertanya pada polisi yang tadi mengurus agra, akhirnya mereka mengetahui bahwa Agra sudah dimasukan ke sel tahanan.


Rio dan Bianca diajak melihat Agra di sel tahanan itu.


Rio menatap Agra penuh dengan kebencian, sedangkan Tatapan Bianca penuh dengan tanda tanya.


"kenapa tadi dia mau lakuin itu ke gw? waktu pertama kita Deket, dia kaya orang yang baik.. kenapa dia jadi beda? " batin Bianca.


Rio melirik Bianca yang sedang menatap saksama Agra.


"bii, Lo natap dia gitu banget.. Lo suka sama dia? Lo mau selingkuh dari gw? astaga" ucap Rio.


"apaan sih Lo.. gw cuman bingung aja, padahal waktu pertama gw dan Agra deket, dia keliatannya baik.. kok sekarang jadi beda" ucap Bianca.


"dia itu bohongin Lo soal kepribadian nya.. dia mau deketin Lo biar Lo suka, terus dia mau mainin Lo" ucap Rio.


"masasih? tapi sikap dia manis banget pas awal, tpi akhirnya.." ucap Bianca.


"emangnya gw gak manis?" tanya Rio.


"Lo tuh nyebelin di awal, manis di akhir" ucap Bianca berhasil membuat Rio tersenyum salah tingkah.


"Tapi kadang masih suka nyebelin" ucap Bianca.


"gw gak nyebelin, Lo nya aja yang suka mulai" ucap Rio.


"yayaya terserah Lo" ucap Bianca.


"udah yuk, pulang" ucap Rio sambil menggandeng Tangan Bianca mengajak nya pergi.


merekapun akhirnya memutuskan untuk pulang.


...----------------...