UNTITLED

UNTITLED
sakit perut



Kedua insan yang sedang duduk di balkon kamar mereka, juga dengan Rio yang sedang fokus pada indahnya langit malam ini.


"hah? indah gimana maksud Lo? di langit ga ada apa apa.. Bintang ga ada, bulan juga ga keliatan" ucap Bianca.


Rio mengalihkan pandangannya pada Sang istri.


"gw ga butuh bulan dan bintang buat liat keindahan langit, karena langit gw itu Lo" ucap Rio.


Bianca tertawa menutupi salah tingkah nya.


"Lo ko ketawa sih" ucap Rio.


"engga.. lucu aja" ucap Bianca.


Rio membuang mukanya kesal.


"ga asik Lo. gw pengen romantis juga kali kaya orang lain" ucap Rio.


Bianca tersenyum.


"tiap hari juga Lo romantis tanpa Lo sadar" ucap Bianca menatap langit gelap.


"Lo meluk gw, Lo ngelus kepala gw, Lo gandeng gw, Lo Selalu nyebutin kata 'sayang' buat gw, Lo selalu ngorbanin apapun buat gw.. menurut Lo itu ga romantis?" ucap Bianca.


Rio menatap Bianca.


"iya juga ya.. gw baru sadar kalo gw romantis" ucap Rio dengan senyuman nya.


Bianca hanya menggeleng.


"masuk yuk, dingin" ucap Bianca yang sepertinya memang kedinginan.


Rio menggandeng Bianca masuk kamar.


"Lo dinginkan? gw bikinin susu hangat dulu ya" ucap Bianca di balas anggukan Rio.


Bianca keluar kamar.


menunggu hingga hampir setengah jam.


Bianca Masuk ke dalam kamar membawa 2 gelas minuman dengan wajah pucat.


"ke dapur aja Lama banget bii" ucap Rio.


Bianca tak menjawab nya.


"Rio.. perut gw sakit" ucap Bianca.


Rio yang tadinya hanya duduk di sisi Kasur, kini langsung menghampiri Bianca.


Ia mengambil alih Kedua gelas di tangan Bianca dan menyimpannya di Meja samping Kasur.


Rio menuntun Bianca merebahkan dirinya di kasur.


lalu ia duduk di sisi Kasur sembari mengelus pipi Bianca.


"Lo pucet banget" ucap Rio.


Tangan Rio beralih mengelus perut Bianca.


"kita kedokter ya?" ucap Rio.


Bianca menggeleng.


"gw ga mau. ini cuman sakit perut biasa doang" ucap Bianca.


"beneran?" tanya Rio.


Bianca mengangguk tipis.


Rio menghela nafas sebelum akhirnya menyetujuinya.


"minum ya" ucap Rio menyodorkan gelas berisi susu hangat yang telah Bianca buat tadi.


Bianca menggeleng.


"nanti gw tambah mual" ucap Bianca.


Rio kembali menyimpan Gelas itu di meja.


"sebenernya Lo bisa kaya gini karena apa?" tanya Rio.


"gw ga tau. tiba tiba sakit aja" ucap Bianca.


Rio terlihat khawatir.


"kalo gw panggilan dokter?" tanya Rio.


Bianca menggeleng.


"gamau Rioo!"


"tapi gw takut Lo kenapa Napa.. gw pengen tau Lo sakit perut karena apa" ucap Rio.


"ini cuman sakit perut biasa Rioo, bentar lagi juga sembuh" ucap Bianca.


Rio menghela nafasnya.


"oh iya! gw baru inget kalo gw telat Datang bulan. mungkin ini sakit perut karena mau datang bulan" ucap Bianca.


Rio lega mendengarnya.


"yaudah kalo gitu.. gw lega" ucap Rio.


"Lo minum susu nya, gw udah bikin Lo" ucap Bianca.


Rio mengangguk.


"tapi Lo juga minum"


keduanya meminum susu hangat buatan Bianca itu.


"tidur yu, udah malem" ucap Rio.


Bianca mengangguk.


Rio merebahkan dirinya di kasur samping Bianca, ia mendekatkan dirinya pada Bianca dan memeluknya.


pelukan hangat dan Elusan tulus Rio berhasil membuat Bianca tertidur nyenyak hanya dengan hitungan detik.


..


"kalo masih sakit ya" ucap Bianca yang baru saja Terbangun dari tidurnya itu dan mengelus perutnya.


Ia ingin sekali membangunkan Rio karena rasanya ia ingin sekali makan, namun saat melihat wajah Rio yang terlihat pulas, ia jadi tak tega membangunkannya.


Ia hanya bisa menghela nafasnya.


Karena helaan nafas Bianca, Rio terbangun.


"kenapa?" tanya Rio yang baru saja terbangun.


"kok Lo bisa bangun?" ucap Bianca heran.


"iyalah, gw tidur bukan mati" ucap Rio.


"perasaan tadi Lo pules banget" ucap Bianca.


"gw pules, tapi gw masih bisa ngerasain Lo gelisah.. kenapa?" tanya Rio sekali lagi.


"gw laper banget" ucap Bianca.


Rio mengangguk dan bangun dari tidurnya. ia Menatap jam dinding yang terletak di atas pintu kamar.


"tunggu. ini masih jam empat pagi?" ucap Rio kaget juga bingung.


Bianca mengangguk.


"iya, emang masih jam empat" ucap Bianca.


Rio menatap bingung Bianca.


"Lo laper jam segini?" ucap Rio heran.


Bianca mengangguk kembali.


"tapi biasanya Lo ga pernah bangun jam segini, apa lagi buat makan" ucap Rio.


"gw gatau. pokoknya gw pengen makan!!" ucap Bianca.


Rio yang masih kebingungan itu hanya bisa menerima Permintaan sang istri.


"gw pesen di Luar ya" ucap Rio.


"engga, gw pengen Makan masakan Lo" ucap Bianca.


Rio semakin heran.


"masakan gw?"


"iyaa! udah ga usah banyak tanya" ucap Bianca.


Bianca bangun dari Tidur nya perlahan, dan menarik Rio keluar kamar menuju dapur.


se sampainya di dapur, Bianca hanya duduk di meja makan, sedangkan Rio ia suruh memasak.


Bianca tau bahwa Rio sebenarnya bisa memasak, walau hanya sedikit. Bagaimana pun, dia pemilik Restoran bintang lima di Jakarta.


terlalu memalukan jika Rio tak bisa memasak sedikit pun.


"Lo mau makan apa?" tanya Rio.


"yang Lo bisa. apapun" ucap Bianca.


Rio mengangguk. ia mulai memasak.


sekitar dua puluh lima menit, akhirnya makanan pun jadi.


Rio menatap Bianca yang sedang menyicip makannya.


"enak" ucap Bianca yang menikmati Makanan itu.


Rio tersenyum.


"yaudah abisin ya sayang" ucap Rio mengelus kepala Bianca dan di balas anggukan Bianca.


..


"perutnya masih sakit?" tanya Rio.


Kini sudah pukul tujuh pagi.


setelah Bianca makan, mereka tak tidur lagi.


Bianca mengangguk.


"kenapa ya" ucap Bianca.


"gw jadi khawatir lagi. Gw takut sakit perut Lo bukan karena telat datang bulan" ucap Rio.


"Engga. ini pasti karena mau datang bulan. Lo ga usah khawatir ya sayang" ucap Bianca mengelus pipi Rio.


Rio mengangguk.


setelah itu mereka mengobrol random Dengan tawa mereka.


...----------------...