UNTITLED

UNTITLED
kabur



sesampainya di Hotel tempat acara itu berlangsung, Rio memarkirkan mobilnya di basement.


Bianca dan Rio Keluar mobil.


saat Bianca ingin menggandeng lengan sang suami, Rio malah berjalan terlebih dahulu dari Bianca.


Bianca berdecak kesal. ia berlari untuk berjalan di samping Rio. Bianca menatap kesal Rio yang menatap datar ke depan.


Ia menarik lengan Rio dan memeluk Lengan besar suami nya itu sambil menatap Rio dengan kesalnya. Rio menatap heran.


"Lo tuh ngambek nya kelamaan. gw cape didiemin tau ga" ucap Bianca tak lagi menatap Rio dan fokus pada jalanan depan.


berbeda dengan sang suami. Rio malah menatap Bianca dan tak fokus pada Jalanan depan.


Bianca menarik lengan Rio saat Rio tak fokus pada jalannya depannya.


Rio hampir saja menabrak Dinding penyangga basement.


"yang fokus makannya" ucap Bianca kembali berjalan sembari menggandeng Lengan besar sang suami.


..


"selamat ulang tahun ya pa Lucy" ucap Rio berjabat tangan dengan Lucy.


"terimakasih pa Rio. senang Kedatangan anda di acara ulang tahun saya ini" ucap Lucy.


Rio tersenyum.


"saya juga senang bisa menghadiri Acara bapa" ucap Rio.


"silahkan Duduk dan menikmati Hidangan disini" ucap Lucy mempersilahkan.


Rio berjalan masuk ke dalam ruangan acara, dan mencari dua tempat duduk untuk nya dan istrinya.


mereka berdua duduk saat menemukan dua tempat duduk kosong.


Suasana disana Begitu ramai, namun diantara kedua insan itu hening.


beberapa detik kemudian, seorang gadis Cantik menghampiri kedua insan itu.


"hai" sapa gadis itu.


gadis itu menyapa kedua nya, namun mata gadis itu tertuju pada Rio.


Rio tersenyum ramah.


"Ade nya Lucy ya?" tanya Rio.


gadis itu tersenyum dan mengangguk.


ia mengulurkan tangannya.


"aku Lili" ucap gadis itu.


Rio menerima uluran tangannya tanpa rasa bersalah terhadap istrinya yang menatap tajam keduanya.


Bianca menghela nafas kasar karena jengkel. Rio dan Lili mendengarnya.


Tangan Rio yang masih bertaut dengan tangan lili itu langsung terlepas saat Rio menyadari kejengkelan Bianca.


"aku boleh duduk disini?" tanya Lili saat Kursi di samping Rio itu kosong.


Rio menatap Bianca yang sedang menatap datar Ke depan, dan Mengacuhkan Rio.


"boleh" ucap Rio lagi lagi membuat Bianca kesal.


Lili dengan senyuman Nya itu duduk dan terus mengajak Rio mengobrol, hingga Rio lupa bahwa ia membawa istrinya bersama nya.


Beberapa Menit yang menjengkelkan hingga akhirnya suara Lucy di atas panggung membuat semua diam, termasuk Lili yang dengan gatal nya terus Duduk memepet dengan Rio.


"hadirin Yang berbahagia, juga saya yang sedang berbahagia merayakan acara ulang tahun saya. Terima kasih sudah datang ke Tempat ini untuk menghadiri acara saya ini. Disini saya hanya ingin menyampaikan sesuatu. Di hari yang berbahagia ini, saya Mempunyai kabar bahagia. saya akan membangun proyek Di Bali. Minta doanya semoga semuanya lancar. terimakasih" ucap Lucy panjang lebar Di atas panggung menggunakan mic yang ia pegang.


setelah selesai berpidato, Lucy Turun dari panggung dan mempersilahkan semua orang yang ada di sana menikmati hidangan yang tersedia disana.


"Ayo kita makan" ajak Lili pada Rio. hanya pada Rio.


"cih" ucap Bianca tanpa ia sadari.


Lili dan Rio menatap Bianca yang sedang membuang mukanya dengan tangan yang ia lipat di depan perutnya.


"kamu mau makan juga?" tanya Lili dengan sok polos itu.


"ga usah makasih. udah kenyang Liat cewe gatel ga tau diri " ucap Bianca menekan kata kata nya.


Rio membesarkan matanya tak percaya dengan ucapan Sang istri.


"Bianca!!" sentak Rio.


Lili hanya tersenyum. Ia hanya pura pura tak tau bahwa yang di maksud Bianca itu dirinya.


"ya udah kalo gitu. aku makan sama Rio ya" ucap Lili menggandeng tangan Rio untuk pergi mengambil makanan.


Bianca menendang kaki kursi karena kesal. Yang membuat ia kesal Karena Rio hanya diam saja dan mau di gandeng seperti itu.


Bianca mencela Lili dan Rio di dalam hatinya. semua bahasa binatang dan Bahasa tak pantas terlintas di pikirannya untuk kedua nya yang sudah jauh dari pandangannya.


baru kali ini Bahasa tak pantas itu terlintas Di pikirannya.


Bianca membawa tas nya dan Langsung berjalan pergi keluar hotel.


ia duduk di Trotoar tepat di depan gedung hotel itu. jalanan begitu sepi.


Bianca memencet nomor Kontak bernama ' kak Rey '.


"halo kak"


nada Kesal juga isakan Menahan tangis terdengar sampai sebrang sana.


[ bii, kamu kenapa? ]


Reygan panik dan khawatir.


" Kaka punya temen cewe di Bali gak? "


" namanya siapa? alamat nya dimana? Bianca Bosen. Rio lagi ada Acara soalnya "


ucap Bianca berbohong.


Reygan terdiam sebentar.


[ namanya sintia. dia temen Deket Kaka kok. anaknya baik, tulus lagi. kalo alamat Kaka ga tau. Kaka kasih nomor nya aja gimana? ]


" iya kak "


Reygan mematikan sambungan telfon itu dan langsung mengirimkan Kontak temannya itu pada Bianca.


^^^" kontak Sintia "^^^


"makasih kak"


^^^"bii. kamu naik apa kesana nya?"^^^


"aku bisa naik taksi. disini banyak kok"


^^^"yaudah. pulang nya minta jemput Rio aja ya"^^^


"iya"


Chatan merekapun selesai sampai sana.


Bianca memencet nomor Sintia yang sudah ia Simpan menjadi ' kak Sintia '.


Tak lama, Sintia menjawabnya.


[ halo, dengan siapa ya? ]


"halo kak. aku Bianca, Ade nya kak Reygan. Kaka temen nya Kak Rey kan?"


[ oh hai Bianca. Kaka udah sering denger cerita tentang kamu. ada apa? ]


"kak. sekarang Bianca lagi ada di Bali, tapi Bianca ga tau harus kemana. kata nya Kaka tinggal di Bali ya belakangan ini?"


[ oh iya bii. Kaka lagi di Bali. kalo mau kamu kesini aja. di rumah Kaka ga ada siapa siapa. Kaka kirim alamatnya ya ]


"iya kak. makasih ya"


Sambungan telfon pun di tutup. Bianca membuka chat Kontak Sintia dan Melihat alamat yang di kirim Sintia.


Alamatnya tak jauh dari tempatnya sekarang. ia memutuskan untuk Berjalan mencari alamat itu.


..


setengah jam berlalu, akhirnya Bianca menemukan alamat Sintia.


ia mengetuk pintu rumah itu.


seseorang membukakannya pintu.


"Bianca ya?" tanya Seorang wanita cantik.


"iya kak" ucap Bianca dengan senyum nya.


wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"nama aku Sintia" ucap Wanita itu.


"hai kak Sintia. Bianca seneng bisa ketemu Kaka" ucap Bianca.


Sintia tersenyum.


"me too"


"ayo masuk" ucap Sintia dengan tulus menggandeng tangan Bianca masuk ke dalam rumahnya.


Rumahnya begitu rapi dan bersih.


Bianca dipersilahkan duduk di sofa sedangkan Sintia pergi ke dapur untuk mengambilkan nya minum.


beberapa menit Kemudian Sintia datang dengan satu gelas teh hangat.


Sintia duduk di samping Bianca.


"bii" panggil Sintia dengan senyum tulus nya.


"kamu lagi ada masalah?" tanya Sintia peka dengan keadaan Bianca


Bianca terdiam.


"kok Kaka tau" ucap Bianca menatap Mata Sintia yang tulus.


"Kaka bisa liat keadaan kamu. Muka kamu yang lesu itu bisa kasih tau semuanya" ucap Sintia mengelus tulus Kepala Bianca.


Bianca tersenyum.


"kak. malem ini Bianca boleh ga tidur disini? maaf ya Bianca lancang, padahal kita baru aja ketemu" ucap Bianca.


Sintia tersenyum.


"boleh kok. Kaka seneng malah" ucap Sintia.


"makasih ya kak" ucap Bianca memeluk Sintia, dan Sintia menerima pelukannya.


"kaka siap denger cerita kamu kok. tapi kalo kamu belum percaya sama Kaka gapapa. lagian kita juga baru kenal" ucap Sintia.


Bianca tersenyum.


Sintia membawa Bianca ke kamar tamu yang berada di lantai Dua.


Ia juga membawakan Bianca baju ganti.


"makasih kak" ucap Bianca di balas senyuman dan anggukan Sintia.


Bianca pun Mengganti bajunya dan beristirahat sebentar.


...----------------...