
beberapa jam kemudian.
Rio dan Bianca akhirnya sampai di rumah mereka di Jakarta.
Rio memapah Bianca masuk kedalam Rumah.
rio mendudukan Bianca di sofa rumah.
"Lo pergi ke Kantor jam berapa?" tanya Bianca.
"harusnya sih sekarang, tapi gw kan CEO, jdi jam berapa pun juga gak papa" ucap Rio santai.
"Lo CEO, lo harus jadi contoh buat bawahan bawahan lo.. jdi sekarang, lo harus Dateng tepat waktu biar Bawahan bahawan Lo juga Bisa disiplin" ucap Bianca.
"tapi Lo?" ucap Rio mengkhawatir kan Bianca.
"Luna bakal kesini, tenang aja" ucap Bianca.
"ngapain Luna kesini?" tanya Rio.
"mau jagain gw" ucap Bianca.
"ada yang Lo mau omongin sama Luna?" tanya Rio.
"gak.. dia cuman mau ketemu gw, kebetulan gw juga butuh Yang nungguin gw kalo Lo pergi" ucap Bianca meyakinkannya.
"beneran?" tanya Rio tak percaya.
"beneran rioo" ucap Bianca.
Rio menatap Bianca curiga.
Bianca menghela nafasnya.
"beneran sayang" ucap Bianca.
seketika Rio Percaya dengan semua omongan Bianca.
"oke, gw percaya" ucap Rio.
"yaudah sana siap siap, ntar telat" ucap Bianca.
Rio mengangguk.
lalu ia berjalan Menuju kamar untuk bersiap siap menuju kantor.
..
Tak lama kemudian,
Rio turun dari lantai 2 menuju lantai satu.
Rio menghampiri Bianca.
"gw Pergi dulu ya, jaga diri, gak ush banyak gerak, jangan ngapa ngapain sebelum kaki Lo sembuh.. gw bakal Telfon tukang urut kesini buat urut Lo" ucap Rio
"gak ush.. gw udh lebih dulu nelfon tukang urut langganan Luna, kata Luna sih bagus" ucap Bianca.
"oh yaudah.. gw pergi ya" ucap Rio.
Bianca mengangguk dan melambaikan tangannya pelan.
Rio membalas lambaian tangan itu, lalu pergi.
tak lama setelah Rio pergi, Luna datang.
Luna mengetuk pintu utama, lalu membukanya dengan sopan saat Bianca teriak "Masuk Aja Lun"
Luna masuk dan menutup rapat Pintu nya kembali.
lalu ia berjalan menghampiri Bianca dan duduk disampingnya.
"kaki Lo kenapa bisa sampe kekilir gini?" tanya Luna.
"jadi, tadi tuh gw sama Rio main ke kebun teh.. terus gw jalan jalan Disekitar kebun teh itu.. gw liat ada puncak kebun teh, gw tuh pengen banget naik dan harapan gw bisa liat pemandangan dari sana. tapi pas gw lagi berusaha naik, gw malah kepeleset dan kaki gw kekilir" cerita Bianca.
"astaga, lagi pula Lo ngapain sih naik naik ke puncak gituu" ucap Luna.
"iseng" ucap Bianca.
"yaudah, gw telfon tukang urut langganan gw dulu ya" ucap Luna.
"Lo belom nelfon?" tanya Bianca.
"belum" ucap Luna.
"oh kalo gitu nanti aja.. kita ngobrol disini aja. ada yang mau Lo omongin kan?" ucap Bianca.
"tapi Lo yakin Lo gapapa? kaki Lo gak bakal kenapa Napa klo dibiarin gitu?" tanya Luna.
"engga, gw gak kenapa Napa, tenang aja" ucap Bianca.
"oh gituu" ucap Luna.
"jadi Lo mau bahas apa?" tanya Bianca.
"soal hubungan Lo sama Rio" ucap Luna.
Bianca menatap Luna heran.
"maksud Lo apa Lun?.. l-lo cemburu soal kedeketan gw sama Rio?" tanya Bianca heran.
"oh bukan gitu maksud gw.. gw seneng kalian berdua Udah Deket dan punya perasaan yang sama.. tapi masalah Tugas dari mamah nya Rio...." ucap Luna tak melanjutkan Omongannya.
"iya gw ngerti.. gw juga mikirin soal itu"
"gw udh bener bener sayang sama dia Lun" ucap Bianca.
"misi selanjutnya itu, ninggalin Rio... gw kayanya gak sanggup.. apa lagi gw tau Kalo Rio juga sayang sama gw, gw gak mau dia sakit hati, walau pun ninggalin Rio cuman untuk sementara, apa bisa jamin Rio bakal Ngejar gw?.. klo ternyata Rio gak ngejar gw, itu malah bikin gw sakit hati sendiri" ucap Bianca.
Luna mengerti dengan perasaan Bianca sekarang.
"Lo gak ush pikirin itu yaa.. biar gw yang cari solusi dari masalah ini" ucap Luna.
Bianca menatap Luna.
"makasih ya, Lo selalu ada buat gw dan selalu bantu gw" ucap Bianca.
"iya Bii, gw udh anggap Lo saudara gw sendiri.. Lo tenang aja ya.. semua bakal gw beresin" ucap Luna.
Bianca mengangguk.
"oh iya.. gw telfon tukang urut langganan gw ya" ucap Luna.
Bianca mengangguk.
tak lama setelah di telfon, tukang Urut langganan Luna pun datang.
Luna menyuruhnya mengurut Bianca dengan benar agar kaki Bianca kembali pulih.
tanpa basa basi, tukang urut Itu pun memijat Kaki Bianca dengan pelan dan lembut.
selesai diurut, kaki Bianca menjadi Lebih membaik dari sebelumnya.
"mba gak boleh ngerjain sesuatu yang berat dulu ya.. harus banyak istirahat biar cepat pulih" ucap tukang urut itu.
"iya Bu, terimakasih ya" ucap Bianca pada tukang urut wanita itu.
akhirnya tukang urut itu pergi setelah semuanya selesai.
"bii, Rio pulang jam berapa?" tanya Luna.
"kayanya bentar lagi" ucap Bianca.
"bii, klo gw tinggal Lo gimana? gw aada urusan mendadak" ucap Luna.
"yaudah gapapa, gw udh gapapa kok.. lagi pula Rio bentar lagi pulang" ucap Bianca.
"beneran?" tanya Luna.
"iya, udh sana pergi" ucap Bianca.
"yaudah, gw pergi.. jangan Ngapa ngapain dulu oke?!" ucap Luna.
Bianca mengangguk.
Luna pun akhirnya pergi.
..
malam hari.
bianca ingin ke kamarnya yang berada di lantai 2 itu, karena Ia sangat bosan menunggu Rio disofa.
namun saat ingin menaiki tangga, ia terjatuh karena kakinya belum sanggup.
"aww" ringis Bianca kesakitan di kakinya.
ia mendudukan dirinya di anak tangga, dan sedikit memijat Kakinya karena kesakitan.
Cklek..
pintu dibuka oleh seseorang.
Seseorang itu langsung berlari saat Melihat Bianca yang terduduk di anak tangga sambil memegangi kakinya.
"aduhh, Lo ngapain sih.. kan udh gw bilang, jangan banyak gerak" ucap Seseorang itu.
"gw mau ke kamar, rioo" ucap Bianca pada seseorang itu.
Rio pun dengan sigap menggendong Bianca ala bridal style menuju kamarnya.
dikamar.
Rio merebahkan tubuh Bianca dikasur.
"gw mau ganti baju, gak ush banyak gerak, gak ush so soan! masih sakit gini, gak pernah dengerin kata kata gw sih Lo!!" ucap Rio.
"iya iya bawel lo" ucap Bianca.
Rio pun pergi mengganti bajunya.
tak lama setelah itu, Rio keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.
ia menghampiri laci samping kasur dan mengambil Salep lalu ia duduk di Samping Bianca.
Ia membuka salep itu dan Mengoleskannya pada kaki Bianca yang sakit itu.
"udh si urut?" tanya Rio.
"udah" jawab Bianca.
Rio menutup kembali salep dan menyimpannya di laci kembali.
Rio berdiri dari posisinya dan Berjalan menghampiri kasur samping Bianca.
ia menidurkan tubuhnya, lalu menarik Bianca mendekat dengannya.
ia memeluk Bianca erat.
"udh, tidur aja.. besok pasti udah membaik" ucap Rio mengelus kepala Bianca.
Bianca tersenyum dan mengangguk.
Mereka tak lagi dalam percakapan.
mereka mengakhiri percakapan mereka agar cepat tertidur.
tak lama kemudian, mereka tertidur.
...----------------...