
Pagi hari kemudian.
Bianca sudah terbangun, sedangkan Rio belum.
ia ingin pergi, tetapi Rio masih mendekapnya erat hingga membuat dia tak bisa bergerak.
Ia dari tadi membangunkan Rio, tetapi Rio tak bangun bangun.
"RIOO BANGUNN" teriak Bianca di telinga Rio.
Rio terbangun dan langsung menutup telinganya.
"Bii! Lo apa apaan sih?!" ucap Rio kesal.
"Lo kebo!! gw mau mandi, lepasin kek!!" ucap Bianca.
Bukannya melepaskan, ia malah makin mempererat Dekapannya pada Bianca.
"Nanti aja mandinya.. lanjut tidur aja sekarang sama gw" ucap Rio.
"Rio ihh! gw mau mandiii!" ucap Bianca kesal.
"Udh deh, mending Lo disini aja ngabisin waktu sama gw, jangan sama Luna!" ucap Rio.
"kok lo tau gw mau ketemuan sama Luna?" tanya Bianca curiga.
"iya lah.. Lo kan setiap hari libur selalu ketemuan sama Luna, bahkan Hari biasa pun Ketemuan.. emngnya bahas apa sih?" tanya Rio.
"kepo banget lo!! udh lepasin Rio" ucap Bianca memberontak.
"gak bakal gw lepasin" ucap Rio mempererat Dekapannya.
"astaga rioo! gw mau mandiii!" ucap Bianca.
"udh gw bilang, jangan ketemu Luna!" ucap Rio menegaskan.
"iya iya terserah Lo lah, sekarang gw cuman mau mandi aja" ucap Rio.
"bener?" tanya Rio Memastikan.
"iyaa rioo!" ucap Bianca.
"oke" ucap Rio.
Rio tak melepas dekapannya pada Bianca.
ia malah berdiri dan menggendong Bianca ala Bridal style menuju kamar mandi.
"eh eh Rio, mau ngapain?" Ucap Bianca menghentikan langkah Rio yang tinggal selangkah lagi memasuki kamar mandi.
"mau mandi lah" ucap Bianca.
"yaudah klo Lo mau mandi turunin gw, nanti gw mandi setelah Lo" ucap Bianca.
"apaan sih, mandi bareng aja kali" ucap Rio yang ingin melanjutkan Langkahnya, tetapi lagi lagi terhenti karena Bianca.
"rioo! TURUNIN GW!" ucap Bianca menegaskan.
Rio tak menghiraukannya dan kembali berjalan.
"Rio, gw gak mau mandi bareng!" ucap Bianca.
Rio pun mendudukan Bianca di bath up.
Rio ingin ikut masuk ke sana, tetapi Dengan cepat Bianca Menahan dan Menatap Mohon kepada Rio.
"pliss jangan sekarang" ucap Bianca.
Rio sudah tak tahan Jika harus terus menunggu, tetapi dia sangat Kasihan dengan Bianca.
"yaudah" ucap Rio dingin dan Pergi dari kamar mandi.
Rio duduk Di Kasur sambil memainkan hpnya.
.
.
.
15 menit kemudian.
Bianca teriak memanggil Rio dari dalam kamar mandi.
Rio menghampiri pintu kamar mandi itu.
"Apa sayang? mau mandi bareng?" ucap Rio.
"cih, gak ush aneh aneh!" ucap Bianca.
"terus apa?" tanya Rio.
"Gw lupa ambil baju, tolong ambilin dong, tapi jangan Buka apa apa lagi loh!!!" ucap Bianca dari dalam sana.
Rio tiba tiba mendapatkan ide.
"oke sayang" ucap Rio, lalu ia menghampiri Lemari baju Bianca.
Ia Membuka dan terpampang lah Banyak baju baju Bianca.
"yang mana?" tanya Rio pada Bianca.
"yang warna Biru gambar Bunga" ucap Bianca.
Rio mencarinya dan ketemu.
"gak ada bii" ucap Rio berbohong.
"masasih? perasaan tadi gw liat ada di situ" ucap Bianca.
"tapi gak ada" ucap Rio.
akhirnya Bianca keluar dan menghampiri Lemari nya itu.
tanpa bianca sadari, ia hanya memakai handuk yang dililitkan di dadanya.
Rio tersenyum karena misinya berhasil.
Ia menatap dari atas sampai bawah Bianca.
"ini apa!" ucap Bianca Yang baru saja membuka lemarinya.
ia menatap Rio yang sedang menatap tubuhnya.
ia baru menyadari yang ia pake itu hanya handuk.
Bianca dengan cepat menutup Mata Rio.
"mata Lo nakal!!!!" ucap Bianca.
Rio membuka paksa tangan Bianca yang menutupi pemandangan indah Di depannya itu.
Ia kembali Menatap Dari atas sampai bawah dengan senyuman.
"cantik" ucap Rio masih fokus pada Tubuh Bianca.
Dengan cepat, Rio menggendong Bianca ala bridal style dan menidurkan Bianca di Kasur.
Lalu ia merangkak ke Atas Bianca.
Ia menatap Bianca yang ketakutan.
ia pun tersenyum.
"l-lo mau ngapain Rio!" ucap Bianca ketakutan.
Rio tak menjawabnya dan masih menatap Pemandangan indah itu.
Setelah itu Rio Mencium kening Bianca, lalu pipi kanan, pipi kiri, dan Mencium sekilas bibir manis Bianca.
setelah itu, ia mengarahkan Bibirnya Pada Leher Bianca.
ia mencium dan menghisapnya, membuat Bianca menggeliat kegelian.
Lalu ia menatap Tanda Merah yang ia buat itu.
ia mengelusnya dan tersenyum.
setelah itu, ia duduk di kasur dengan senyum bahagia.
Sedangkan Bianca masih berposisi tidur karena ketakutan.
akhirnya Bianca ikut terduduk di kasur dengan Wajah masih ketakutan.
Rio menatap Bianca, dan lagi lagi tatapannya Berfokus pada tanda yang ia Buat.
ia kembali mengelusnya.
Bianca mengibas tangan Rio dengan kesal.
"Lo apa apaan sih tadi!!" ucap Bianca kesal.
"kenapa sih! gw cuman gitu doang emngnya gak boleh?!" ucap Rio.
"tau lah, gw mau pake baju dulu" ucap Bianca yang langsung berdiri dan berjalan menuju Kamar mandi.
"kenapa gak disini aja? biar gw bisa liat" ucap Rio.
"RIO MESUMM!!" teriak Bianca yang langsung berlari menuju kamar mandi.
Rio hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
.
.
.
Tak lama kemudian, Bianca keluar dengan pakaian yang sudah ia pilih itu.
Ia menatap sekitar, tak ada Rio.
Akhirnya Bianca menghampiri cermin nya dan Ia menatap Tanda Merah yang Rio buat tadi.
ia mengelusnya dan tersenyum.
Lalu tiba tiba ada seseorang yang Memeluk Bianca dari Belakang.
"kok senyum senyum? suka ya?" ucap Rio.
"a-apaan sih lo! engga lah!" ucap Bianca gugup.
"mau lagi gak?" tanya Rio.
Bianca belum menjawab, tetapi Rio langsung mencium Dan menghisap leher sebelah lainnya Milik Bianca.
Bianca menatap Kegiatan Rio itu dari cermin dan ia sedikit menggeliat kegelian dengan itu.
dan akhirnya leher sisi lainnya Itu menjadi merah juga.
Bianca menatapnya dari cermin.
"rioo, ini gimana ngilanginnya?" ucap Bianca takut ketahuan.
"ngapain diilangin? udh gitu aja, gw suka liat nya" ucap Rio.
Rio tiba tiba mencium pipi Bianca dan langsung pergi meninggalkan Kamar itu.
Bianca tersenyum sambil memegang pipinya yang tadi baru saja dicium oleh Rio.
Ia juga mengelus tanda merah yang baru saja Rio buat itu.
"Gw juga suka" ucap Bianca Sambil menatap cermin untuk melihat tanda merah di kedua sisi lehernya.
.
.
Bianca berjalan Ke lantai bawah.
terlihat Rio Sedang duduk Bersantai di ruang tv sambil menonton tv.
Bianca menghampirinya.
"Lo mau makan ap-" ucap Bianca terpotong karena Rio tiba tiba menariknya kepangkuan Nya.
Rio memeluk Pinggang ramping Bianca.
dan Menempatkan dagunya di bahu Bianca.
ia menatap Tanda yang telah ia buat tadi.
lalu ia kembali menciumnya, tetapi hanya sekilas.
"Lo mau makan apa rioo?!" Tanya Bianca.
"mau makan Lo" ucap Rio.
"gak usah aneh aneh.. cepetan mau makan apa?! gw mau masak nihh" ucap Bianca.
"gak ush.. gw udh suruh Sekertaris Lo bawain makanan buat kita berdua" ucap Rio.
"sekertaris gw? Tamara maksudnya?" tanya Bianca menoleh Ke belakang untuk menatap Rio.
"iya, siapa lagi" ucap Rio.
"Lo ngapain sih suruh dia bawa makanan, kan gw juga bisa masak!" ucap Bianca.
"gw mau Lo duduk disini, gak ush masak" ucap Rio.
"tapi kan itu kewajiban gw Rioo!" ucap Bianca.
"cih, so so an ngomongin kewajiban, kewajiban utama Lo aja gak Lo Kerjain" ucap Rio.
"kewajiban utama?" ucap Bianca bingung.
"iya.. kewajiban utama seorang istri itu Ngelayanin suaminya" ucap Rio.
"gw Masakin Lo kan namanya Ngelayanin" ucap Bianca.
"di atas ranjang maksudnya" ucap Rio.
Bianca ingin sekali menendang Rio, tetapi ia mengurungkan niat nya, karena tiba tiba Tamara berjalan Menghampiri Mereka dan mendorong Bianca yang berada Di pangkuan Rio.
Bianca pun terjatuh ke Sofa.
"Lo apa apaan sih?!" ucap Rio membentak Tamara.
"kalian yang apa apaan! ngapain pangku pangkuan kaya gitu?!!!" ucap Tamara kesal.
"Terserah Kita lah, kita udh suami istri!!!" ucap Rio.
Tamara tiba tiba Terfokus pada tanda merah di leher Bianca.
ia menghampiri Bianca dan mengelus untuk memastikan.
"i-ini.." ucap Tamara tak menyangka.
"iya, itu gw yang buat! kenapa?!" ucap Rio.
Tamara berusaha tenang.
Tamara Menyimpan Kantong berisi makanan yang ia bawa itu ke meja, dan langsung pergi keluar dari Rumah itu.
Rio membantu Bianca bangun, tetapi Bianca mengibas tangan Rio.
"apa gw bilang! gak ush so so an mau pamer Kemesraan Didepan Tamara! pasti gw yang kena!" ucap Bianca kesal.
"maafin gw ya bii" ucap Rio.
Bianca tak menjawabnya dan Langsung pergi ke kamar.
...----------------...
(like, komen, vote yaa.. Biar author makin semangat upnya)