UNTITLED

UNTITLED
Uang suami istri



"pagi sayang" sapaan hangat dari bibir manis Rio Lalu mengecup Kening sang istri. Bianca yang baru terbangun itu hanya membalasnya dengan senyuman. "Lo mandi dulu ya, gw mau pesen makanan dari luar" ucap Rio.


"Lo udah mandi?" tanya Bianca.


"udah dong. kenapa? mau mandi bareng?" ucap Rio.


"engga nanya doang" ucap Bianca bangkit dari posisinya menuju Kamar mandi. badannya begitu lemas. hampir saja terjatuh, namun dengan cepat Rio menangkapnya. "aduh, kasian banget istri gw. maaf ya sayang" ucap Rio.


Rio menuntun Bianca menuju kamar mandi. "gapapa mandi sendiri?" tanya Rio yang khawatir takut terjadi apa apa pada Bianca. "gapapa, yaelah, gw bisa kali. gw Cuman lemes bukan lumpuh" ucap Bianca.


Rio mengangguk. ia keluar dari kamar mandi dan membiarkan Bianca mandi.


..


Kini pasangan itu sedang duduk di kursi balkon kamar sambil memandang Pemandangan laut yang terlihat jelas dari sana.


"mau kesana lagi gak?" tanya Rio.


"ga usah. Lo buang buang uang soalnya" ucap Bianca. Rio tertawa. "maaf. lagian Lo ga pernah minta uang gw kan? yaudah itu gantinya" ucap Rio.


"gw gak pernah minta uang Lo, tapi setiap makan, nginep kaya gini, masuk wisata, jalan jalan, semuanya Lo yang bayarin. ya sama aja lah" ucap Bianca.


"bedaa biancaa. uang bulanan, Lo ga pernah minta. tapi setiap hari Lo bisa Kasih gw makan. itu Lo beli bahan makanan dari mana?" Tanya Rio serius, karena ia masih benar benar bingung dari mana asal semua Bahan makanan yang selalu lengkap di kulkas rumah.


"pake uang gw. lagian cuman segitu doang gw juga bisa nanggung" ucap Bianca.


Rio menatap Bianca. "Lo gimana sih?! masa uang Lo, Lo pake buat itu?! uang Lo tuh harus nya di pake buat beli sesuatu yang Lo mau. bahan makanan, dan lain lain itu pake uang gw, uang gw juga buat Lo beli sesuatu yang Lo mau. gw gak suka Lo pake uang Lo buat Bahan makanan lagi" ucap Rio.


Bianca menghela nafasnya. "Lo tuh aneh" ucap Bianca.


"aneh apanya sih?!" ucap Rio.


Bianca menatapnya "iya aneh. kenapa Lo marah gw pake uang gw buat bahan makanan, padahal itu buat Lo juga kan" ucap Bianca.


"ya masa uang istri buat kebutuhan Rumah tangga. ga bisa lah. disini yang jadi suami siapa sih. gw kan? tugas suami tuh apa? cari nafkah dan Nafkahin istrinya. Lo istri gw, tugas Lo cuman Di rumah aja, habisin uang Gw buat foya foya. udah itu aja" ucap Rio.


Bianca menatap bingung dan juga heran "ga bisa gitu lah! masa Lo cape cape cari uang, tapi gw abisin buat foya foya" ucap Bianca.


"Lo gak pernah belajar soal rumah tangga ya" ucap Rio.


"dih, Lo kali yang ga pernah Belajar soal rumah tangga. masa Lo suruh istri Lo habisin uang Lo buat Foya foya?! aneh banget Lo" ucap Bianca.


Rio menatap Bianca kesal dengan bibir cemberut andalannya. "lagian Pekerjaan gw gak berat" ucap Rio.


"ga berat apanya sih? Lo pemimpin Perusahaan, terus punya Restoran besar yang harus Lo cek tiap hari. emang nya gw gak tau apa, kalo Lo tiap waktu makan siang selalu kesana buat cek Restoran, tapi Lo cuman sebatas cek doang. Lo ga pernah makan siang kan?! setiap Karyawan restoran Lo Nawarin buat makan disana, Lo selalu bilang ga punya waktu, harus cepet cepet balik ke kantor. gw tau semua" ucap Bianca.


Rio terdiam karena semua yang diucapkan Bianca benar.


"kalo gw tau dari awal, gw bisa bawa makanan tiap hari ke Kantor Lo" ucap Bianca.


"Lo tau dari mana?" tanya Rio.


Bianca mengulum bibirnya. "gw selalu ngawasin restoran dari cctv yang nyambung sama laptop gw. Dan setiap saat gw selalu cek Restoran lewat Laptop gw" ucap Bianca.


"kok Lo gak pernah bilang sama gw?" tanya Rio.


..


mereka melewati pagi hari dengan Saling berdiam Diaman. Rio tak suka cara Bianca yang selalu mengawasinya itu, Bianca juga Merasa bersalah. Rio mendiamkan Bianca sejak tadi, Bianca pun mendiamkannya, karena ia Takut Salah bicara atau salah perlakuan lagi.


Sepertinya kali ini Rio sedang benar benar kesal.


Bianca sudah meminta maaf berulang kali, namun diacuhkan Oleh Rio.


"Lo beneran marah sama gw?" tanya Bianca yang masih di acuhkan oleh Rio.


"maaf" ucap Bianca yang terus mengulang kata maaf itu.


Rio menghela nafasnya.


"gak usah minta maaf terus" ucap Rio tanpa menoleh ke arah Bianca.


Bianca cemberut. "terus gw harus apa? gw kan salah-" ucap Bianca terpotong oleh Rio. "Lo ga salah. udah ga usah minta maaf".


Bianca mengangkat bahunya. "terserah" ucap Bianca.


Rio kembali diam tanpa berkata satu kata pun.


"Rio, Lo tau ga sih. Kayanya gw pernah deh ketemu pak Luky sebelumnya" ucap Bianca mengganti topik pembicaraan.


"kapan" ucap Rio cuek.


"waktu gw belum Deket sama Lo. Gw tuh lagi jalan sama pak agra-" ucap Bianca kembali terpotong.


"jalan?! lo pernah jalan sama Agra?!!" ucap Rio.


"engga Rio, makannya dengerin duluu. gw jalan sama dia karena ada meeting gituu" ucap Bianca.


Rio menghela nafasnya, lalu terdiam membiarkan Bianca melanjutkan ceritanya.


"nah, waktu itu, ternyata kita meeting sama cowo paruh baya gitu. Waktu kita lagi meeting, tiba tiba ada cowo kayanya sebaya sama lo. dia ikut meeting kita, tapi gw gak ngobrol apa apa sama dia. cowo itu tuh pak Luky. tapi keliatannya Pak Agra sama pak Luky tuh Deket deh". "waktu itu gw izin ke toilet sebentar, pas sepulang dari toilet, gw liat Mereka kaya lagi bahas sesuatu yang penting gitu, tapi gw gak tau apa karena gw gak bisa denger" ucap Bianca.


Rio mengangguk. "bahas soal meeting gw, Agra, sama Luky kali".


Bianca menatap bingung. "tunggu. bukannya Lo sama pak Luky baru saling kenal ya?"


"awalnya Agra Mau ngajak gw Meeting sama Luky, tapi ga jadi karena Masalah waktu sama Lo itu" ucap Rio.


Bianca mengangguk mengerti. namun raut wajah nya terlihat khawatir.


"Lo mikir gak, kalo mereka deket, apa Luky juga sama kaya Agra yang kurang ajar itu?" ucap Bianca khawatir.


"kayanya engga. dia beda" ucap Rio.


Bianca hanya mengangguk.


Kini mereka tak lagi saling ber diam Diaman. Bianca dan Rio kini saling bicara walau jadi terasa canggung karena Masalah tadi pagi.


...----------------...