
keesokan hari kemudian.
Bianca sudah bersiap² untuk Pergi kekantornya,atau bisa dibilang Perusahaan suaminya.
Dia menyelempang tasnya yang biasa dia bawa.
"Mau kemana Lo?" ucap Seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya,iya! dia adalah Rio.
Rio melihat Bianca sudah sangat rapi dan siap untuk pergi.
"menurut Lo?" ucap Bianca sambil membuka handle pintu kamarnya ingin pergi.
dengan cepat,Rio menghampiri Dan menahan bianca.
"apaan sih!" ucap Bianca memberontak,karena tangannya di tahan dengan erat.
"tunggu in gw,Lo harus pergi sama gw!" ucap Rio.
"gak! apaan sih.. Lo sama gw cuman sebatas Sekertaris dan bos doang di kantor,gak usah macem² deh!" ucap Bianca masih berusaha melepaskan Tangannya dari genggaman Tangan Rio.
"tapi dirumah,Lo sama gw itu suami istri!lagi pula hari ini Agra akan datang ke kantor,gw gak suka dia deket² sama lo" ucap Rio yang berhasil membuat Bianca terdiam.
"Lo tunggu disini,gw mau siap² dulu.. klo Lo kemana²,gw bakal Kasih pelajaran sama Lo!" ucap Rio yang langsung pergi bersiap².
Sebenarnya Bianca tak memedulikan apa yang dikatakan Rio barusan,tetapi dia Langsung teringat akan Misinya disini.. ya! misi dia merenggangkan hubungan Tamara dan Rio.
Bianca merasa,Belakangan ini Rio terlihat sangat tak suka Jika Bianca dekat dengan Agra.
entah apa yang membuat Rio tak menyukai nya.
tiba² terlintas ide di kepala bianca.
.
.
.
.
.
Rio dan Bianca sedang berada di Mobil.
Suasana hening sebelum Bianca mulai berbicara.
"gw turun di Deket kantor aja" ucap Bianca.
"gak usah.. di kantor aja" ucap Rio yang tetap memandangi jalanan sambil menyetir.
"gw gak mau!" ucap Bianca.
"bodo amat" ucap Rio dingin.
.
.
.
.
mereka sudah berada dekat kantor.
"turun gw sekarang,atau gw loncat!" ucap Bianca yang sudah siap dengan tangannya yang memegang handle mobil.
Rio pun memberhentikan mobilnya dan Membiarkan Bianca turun disana.
.
.
.
.
di kantor.
Semua karyawan menatap dan membungkukan badannya pada Rio saat dia baru datang.
Rio tak menghiraukannya dan berjalan biasa menuju Ruangannya.
saat Rio membuka Pintu Ruangannya,Rio mendapati Tamara yang seperti sedang mencari sesuatu.
"kamu ngapain?" tanya Rio sambil menghampiri Tamara.
"e-eh sayang.. aku lagi Beres² in Ruangan kamu sayangg" ucap Tamara Mengeles.
Rio percaya,dan dia langsung duduk di Bangkunya.
ia membuka laptop nya dan memulai mengotak atik Laptopnya.
Tamara pun pergi ketika melihat Rio yang sedang serius dengan laptop nya.
.
.
.
.
Cklek..
pintu ruangan Rio dibuka oleh seseorang.
"pak,ada tamu" ucap Sekretarisnya ,dan juga bisa dibilang istrinya.
Rio berdiri dari bangku nya dan menghampiri Bianca.
"siapa?" tanya Rio.
"pak Agra" ucap Bianca.
"Kalo begitu,kamu ikut saya" ucap Rio yang langsung menarik Tangan Bianca.
.
.
terlihat Agra yang sedang duduk di sofa tempat menunggu di lantai lobby.
Rio Menggandeng Tangan Bianca menuju Agra.
Betapa kagetnya Bianca saat mendapati tangan Rio menggenggam tangannya.
Bianca berusaha melepaskan Tangannya dari genggaman Rio,tetapi Rio menggengam ya terlalu erat.
"pak,apa²an sih! lepasin tangan saya!" ucap Bianca memberontak.
Rio tak menghiraukannya,dan malah semakin erat menggenggam tangan lentik Bianca.
saat sudah berada di depan Agra,Rio malah menarik pinggang Ramping Bianca,hingga Bianca dan dia tak berjarak.
Agra yang melihatnya seperti kepanasan karena mendapati Rio dan Bianca tak berjarak itu.
Agra menghampiri Rio dan Bianca.
"Halo pa Rio" ucap Agra sambil berjabat tangan dengan Agra.
"halo pa Agra" balas Rio pada Agra.
Agra menatap Bianca yang seperti sedang berusaha melepaskan Tangan Rio dari Pinggang nya.
"Saya ingin mengajak bapa mengobrol tentang Kerjasama kita" ucap Agra.
"baik,kalo begitu kita mengobrol di Ruangan saya" ucap Rio.
.
.
.
.
.
Diruangan Rio.
Rio dan Agra sedang mengobrol membahas tentang kerja sama mereka.
Bianca Yang sedari tdi ingin pamit pada Rio untuk kembali ke ruangannya,ditahan Oleh Rio.
seakan² Rio ingin Bianca menemaninya di sana yang sedang sibuk mengobrol dengan Agra.
Bianca Hanya duduk terdiam sambil mendengarkan mereka mengobrol soal kerja sama itu.
mau bagaimanapun,Bianca harus lebih memahami Apa yang akan mereka bahas dan mereka rencanakan soal Kerja sama mereka.
Agra tiba² menatap Bianca yang sedang serius mendengarkan pembahasan Mereka itu.
"bagaimana Bianca?apa kamu setuju?" ucap Agra tiba².
Rio mengerutkan keningnya.
"maaf pak,tapi yang bekerjasama dengan Bapak itu saya,bukan Bianca" ucap Rio.
"saya hanya ingin mendengar pendapat Bianca,karena Saya lihat,Bianca sangat mahir soal Kerja sama ini.. saya sangat kagum pada Bianca saat dia presentasi di ruangan Meeting kemarin" ucap Agra sambil melemparkan senyuman pada Bianca.
Bianca hanya membalasnya dengan senyuman tipisnya.
.
.
.
.
.
sudah 1 jam mereka mengobrol.
bukan tentang Kerjasamanya saja,mereka sering saling menyindir soal Bianca.
Bianca hanya diam sedari tadi,karena dia bingung harus bagaimana.
dia ingin sekali keluar dari neraka itu,tetapi Rio selalu menahannya dengan alasan² yang tidak masuk di akal.
"Pak,kalo begitu saya Pergi dulu ya..masih ada yang harus saya urus" ucap Agra berpamitan Pada Rio.
sebenarnya bukan itu alasannya,dia hanya sudah muak beradu sindir dengan Rio.
"baik pak,hati² ya" ucap Rio yang senang saat Agra berpamitan.
Rio juga sudah muak dengan adu Sindir itu.
Agra pun keluar dari ruangan Rio.
Kini Rio dan Bianca hanya berdua disana.
dengan Rio yang masih memegang Pinggang ramping Istrinya yang sekarang sedang menjelma menjadi sekretarisnya.
"pak,bisa tolong lepaskan Pinggang saya?!" ucap Bianca yang sudah muak akan kelakuan Rio itu.
Rio pun melepaskan pinggang Bianca.
"saya kembali ke ruangan Dulu" ucap Bianca sambil menundukkan Badannya,setelah itu ia langsung pergi.
.
.
.
.
selang beberapa menit Bianca pergi,Tamara datang dengan Wajah datanrnya.
Ia langsung duduk di pinggir Rio.
"kenapa?" tanya Rio yang bingung dengan Tamara yang datang tiba² dengan wajah datarnya.
"kenapa sih kamu Harus megang² tangan Bianca!mana sampe nahan pinggang nya lagi!" ucap Tamara kesal sambil melipat tangannya di dada.
"kamu tau dari mana?" ucap Rio heran.
"tadi aku gak sengaja liat di lobby.. emang kenapa sih harus gitu banget!" ucap Tamara cemberut.
"aku cuman gak suka aja liat Agra Sok deket²in Bianca" ucap Rio.
"kamu cemburu sama Agra?" ucap Tamara kesal.
"dih,ngapain juga cemburuin dia.. gak guna!" ucap Rio.
"yaudah lah gak usah bahas itu, kita bahas Tentang kita aja" ucap Tamara sembari mengikat tangannya di lengan Rio.
Rio tak mempedulikannya dan pergi ke depan laptop nya untuk kembali mengerjakan kerjaan kantornya yang tdi terpotong karena kedatangan Agra.
.
.
.
.
.
.
(like,komen,vote yaa..biar author makin semangat upnya)