UNTITLED

UNTITLED
Bandung



Rio berfokus pada jalanan ramai di depan.


Bianca yang sedang duduk di sampingnya itu terus meliriknya.


Rio menyadarinya, namun ia tak menanggapi nya.


Bianca cemberut kesal karena tak dapat tanggapan apapun Dari sang suami.


"Rio, Lo tuh nyadar, tapi kenapa gak noleh atau apa gitu? bikin kesel aja" ucap Bianca memasang wajah kesal sambil melipat lengannya.


Rio melirik heran.


"apasi sayangg, kamu mau apa?"


Bianca tak menanggapinya. ia membuang muka ke arah luar jendela mobil.


Rio tersenyum melihat kekesalan yang terpampang jelas di wajah sang istri, pipinya merah kesal membuat Rio gemas.


"heyy, mau apa?" tanya Rio sembari merangkul Bianca lalu mencium pipi Bianca saking gemasnya.


Bianca menoleh dengan bibir cemberut andalannya.


ia melepaskan Rangkulan sang suami dan menyimpan telapak tangan Rio di stir mobil.


"nyetir yang bener"


Rio mengangguk, ia kembali berfokus pada jalanan ramai di depan.


Bianca mengalungkan dan memeluk lengan Rio, lalu menyenderkan kepalanya di Bahu Rio.


Rio tersenyum.


"ohh, mau ini ternyata Bianca tuhh"


Bianca mengangguk.


Rio mengelus kepala nya dan mencium keningnya.


"ga malu ada kak Rey?" tanya Rio.


"engga. emangnya kenapa? lagi pula Kaka lagi Tidur" ucap Bianca sembari mempererat pelukannya pada lengan Rio.


"kalo Kaka nya Bangun gimana?"


"ya gapapa, emangnya ga boleh gw kaya gini"


Rio tersenyum "boleh sayangg"


lalu mengelus kepala Bianca.


"nyetir yang bener, nanti ketabrak"


..


pada pukul 1 siang, akhirnya Mereka sampai di Bandung.


"mau beli sesuatu buat mamah gak?" tanya Bianca.


"gak usah lah. buat bunda aja" ucap Rio.


Bianca menghela nafasnya.


"Lo boleh kesel, tapi jangan kaya gituu. dosa tau"


Rio tersenyum paksa dan membuang mukanya berfokus pada jalanan.


"terserah Lo"


Bianca memainkan Rambut Rio sambil mengelus kepalanya.


"jangan kesel terus sama mamah. kan nanti kita juga bakal bahas ini"


Bianca mencium pipi Rio.


Rio menoleh.


"yaudah, gw gak bakal kesel lagi sama mamah, tapi Lo cium lagi yang sebelah sini" ucap Rio menunjuk pipi sebelahnya.


"cih, Lo tuh yaa" ucap Bianca mencubit gemas pipi yang Rio tunjuk, dan menciumnya.


"Astaga, mesra aja terus dimana mana" ucap seseorang yang ada di belakang membuat Rio dan Bianca menoleh.


"sirik aja Lo kak" ucap Rio.


"kak, mau beli sesuatu buat bunda sama ayah ga?" tanya Bianca berusaha mengalihkan Topik.


"iya boleh. tapi biar Kaka aja yang beli, kamu sama Rio cari buat mertua kamu" ucap Reygan di balas anggukan Kepala Bianca.


Rio berhenti di pinggir jalan pasar tempat Makanan makanan khas Bandung.


Reygan turun dan mulai mencari makanan untuk bunda dan ayah nya.


"mau parkir dimana?" tanya Rio.


"di hatimu, ya di tempat parkir lah sayangg" ucap Bianca mencubit gemas hidung Rio.


Rio tersenyum.


ia membawa mobil itu pada Tempat parkir yang tak terlalu jauh.


setelah mendapatkannya, Rio memarkirkannya.


Mereka berdua langsung berjalan pergi dan mencari makanan yang mamah suka.


"mamah suka apa?" tanya Bianca.


"suka papah" ucap Rio.


Bianca menatap Rio.


"mau gw sentil?"


Rio tersenyum.


"aku suka apa? suka kamu"


"dih, aku kamu" ucap Bianca merasa jijik.


"udah yang bener, jangan bercanda"


"ga bercanda sayangg" ucap Rio.


"yaudah gw jawab Sesuai pertanyaan"


"mamah suka apa? mamah suka bolu"


"papah suka apa? papah juga suka bolu, tapi yang rasa Susu aja. kalo yang lain ga suka"


"anaknya suka apa? anak nya suka Bianca"


Bianca menatap Rio sambil tertawa Kecil baper.


"Lo apa apa di pake gombal ya"


"engga gombal! itu fakta" ucap Rio.


"yaudah kalo gitu. sekarang kita cari bolu buat mamah, terus cari bolu susu buat papah, habis itu cari Bianca buat anak nya" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"anaknya sih udah punya bianca. jadi ga usah di cari lagi"


Bianca menggelengkan kepalanya dan bibirnya masih menampakan Senyum manis kebaperan.


"udah ah jangan di lanjutin, nanti ga jadi-jadi Beli makanan buat mamah papah"


"yaudah ayo beli makanan buat mamah papah" ucap Rio menggandeng mesra Bianca menuju toko bolu yang ada disana.


..


Tok Tok Tok.


Pintu di buka oleh wanita.


wanita itu menatap mereka bertiga dengan kaget.


"loh.. Bianca, Rio, kok disini?. Rey, kamu bawa Anak sama mantu mamah kesini?" ucap Laras menampakan Senyum bahagia.


Bianca, Rio dan Reygan menyalimi punggung tangan Laras.


"bahasanya di dalem aja ya Bun" ucap Reygan.


Laras mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk.


Mereka duduk di sofa.


Bunda masih terus memeluk Bianca saking rindunya dengan anak gadisnya itu.


"anak gadis bunda pulang. eh. Bianca masih gadis emangnya?" Tanya Laras.


Bianca dan Rio saling tatap, ada senyum tipis di bibir Rio.


Laras melihat senyuman tipis menantunya itu.


"udah engga ya" ucap Laras dengan senyum bahagianya.


Rio tertawa pelan.


"bunda ga sabar punya Cucu" ucap Laras.


"doain aja Bun" ucap Rio.


Laras mengangguk.


"oh iya, terus kenapa alesan kalian kesini?" tanya Laras.


"jadi gini Bun..."


..


Malam hari, mereka berkumpul di ruang keluarga, tapi kini bayu pun ikut berkumpul.


"jadi Selama ini Risa jadiin kamu alat buat Jauhin Rio sama Tamara doang?" ucap Bayu tak percaya.


Laras hanya menunduk kecewa.


"ayah ga habis pikir! kenapa Risa bisa gitu?!!" ucap Bayu sangat marah.


"maafin mamah ya yah. tapi kalo pun seandainya mamah ternyata bakalan lakuin rencananya itu, Rio gak bakal mau. Rio gak bakal ninggalin Bianca. Rio sayang sama bianca" ucap Rio.


bayu mengangguk.


"ayah percaya sama kamu Rio" ucap Bayu.


"besok rencananya kita Bakal Ngobrol secara kekeluargaan sama mamah dan papah" ucap Rio.


"ayah bakal Batalin semua meeting buat ini" ucap Bayu.


Rio tersenyum.


mereka pun berbubaran pergi ke kamarnya masing masing untuk istirahat, karena besok pagi mereka akan pergi menuju rumah Risa dan Adit. rumah kedua orang tua Rio.


di kamar.


Rio terlihat gelisah.


"kenapa?" tanya Bianca melihat kegelisahan di wajah Sang suami.


"gw takut. gw takut semua orang bakal benci sama mamah. gw semua orang benci sama mamah kaya gw benci sama dia" ucap Rio.


"gw tau Lo gak benci mamah. buktinya Lo takut mamah Di benci semua orang" ucap Bianca.


"cuman gw yang boleh benci dia, orang lain ga boleh" ucap Rio.


Bianca menatap Rio.


ia memeluknya tulus penuh kasih sayang.


"tenang ya, gw yakin semua orang bakal maklumin itu. mungkin waktu itu mamah masih sayang dan berharap kalo Luna itu jadi menantunya. mungkin aja sekarang mamah udah sadar, kalo gw juga bisa jadi menantu yang baik dan dia sayang"


Rio memeluk erat Bianca.


"makasih ya. gw tau Lo sakit hati, tapi Lo masih bisa Sabar dan Positif thingking. bahkan Lo ga benci dan marah sama mamah"


Bianca tersenyum.


"karena gw yakin, Lo takdir gw"


...----------------...