UNTITLED

UNTITLED
kondisi Bianca



"KALIAN APA APAAN SIH?!!! INI RUMAH SAKIT, BUKAN LAPANGAN TEMPAT BERANTEM!!" ucap Bayu melerai pertengkaran Antara Reygan dan Rio.


ketiga keluarga kecil Bianca itu Baru saja datang dari Bandung setelah di kabari oleh Rio.


Reygan yang baru saja datang waktu itu, langsung meninju Wajah Rio.


Rio menghela nafas.


"kalo Lo mau mukulin gw, mendingan kita keluar" ucap Rio menarik Reygan keluar rumah sakit.


Mereka berhenti di taman belakang Rumah sakit.


"sekarang Lo bebas pukul gw, tendang gw sampe gw sekarat" ucap Rio.


Reygan menatap Rio.


"sekarang jelasin ke gw, kenapa Bianca bisa kaya gini!! gw udah selalu peringatin Lo buat Jaga Bianca Rio!!" ucap Reygan.


Rio menghela nafas nya, menahan rasa sesak di dada nya.


"tadi siang, gw pergi ke kantor karena ada meeting. Selesai meeting, gw dapet telfon dari nomor ga dikenal dan bilang kalo Bianca ada di rumah sakit ini. gw belum tau cerita detail kecelakaan ini, tapi gw udah Minta bawahan gw buat cari tau. gw minta sama Lo Rey, Redamin emosi Lo! kita ga bakal bisa nyelesain masalah ini pake emosi" ucap Rio.


Reygan menghela nafas nya lalu duduk di kursi taman yang ada di sebelahnya.


Ia melempar tas kecil wanita kepada Rio lalu Rio tangkap.


"itu tas Bianca. ada cowo yang ngasih ini ke gw, katanya dia yang bawa Bianca ke sini" ucap Reygan.


Rio mengangguk.


"gw ke dalem ya" ucap Rio di balas anggukan Reygan.


Rio pun berjalan menuju tempat tadi kedua mertuanya duduk menunggu di kursi tunggu UGD.


tak butuh waktu lama untuk sampai disana.


Rio melihat kedua mertuanya menangis.


ia menghampirinya.


"yah, Bun.. kenapa?" tanya Rio dengan wajah khawatir nya.


"Rio, kamu di tunggu dokter di Ruang dokter" ucap Bayu yang sedang menenangkan Laras.


Rio yang bingung hanya mengangguk dan meninggalkan kedua mertuanya menuju ruang dokter yang terletak tak jauh dari sana.


Setelah ia berdiri tepat di depan Pintu, ia mengetuk pintunya, dan masuk.


dokter mempersilahkan Rio duduk.


"gimana kondisi Bianca dok?" tanya Rio.


dokter menatap Rio.


"kini Bianca sedang dalam Kondisi koma" ucap Dokter berhasil memberhentikan detak jantung Rio.


"k-koma?"


Dokter mengangguk.


"kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan Kondisi Bianca semula, tapii..." ucap Dokter menggantungnya.


Rio mengatur nafas nya.


"tapi?" tanya Rio memastikan.


"maaf Pak Rio. tapi janin yang ada dalam rahim Istri bapak tidak bisa kami selamatkan" ucap Dokter.


"j-janin? maksudnya?" ucap Rio bingung.


"usia kandungan Bianca sudah satu bulan lebih dan Kami tidak bisa menyelamatkan nya" ucap dokter.


"d-dan 90% kemungkinan bahwa Bianca tak bisa hamil lagi" lanjut dokter itu.


Detak jantungnya kembali berhenti untuk kesekian kalinya. ia tak bisa mengatur nafasnya, dan kali ini air mata sudah tak bisa ia tampung lagi.


dada nya begitu sesak, lebih sesak dari sebelum nya.


Rio berlari keluar ruangan dokter.


Langkah besar nya Membawanya ke suatu tempat yang Begitu sunyi dan hening.


ia dibawa oleh langkahnya itu menuju Bangunan Terbuka di lantai paling atas rumah sakit itu.


Rio Menangis dan berteriak disana.


karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


"GW BENCI!! GW BENCI DIRI GW!!!" teriak Rio meluapkan emosi nya.


"Lo boleh nangis, boleh teriak. tapi jangan nyalahin diri Lo" ucap seseorang dari belakangnya.


Rio menoleh.


ia melihat sosok Reygan Disana.


Reygan berjalan menghampiri Rio.


matanya terlihat sembab.


"tapi ini semua gara gara gw! kalo seandainya tadi siang gw ga ke kantor, kondisi Bianca ga bakal kaya gini!!" ucap Rio.


"semua ini bukan salah Lo. semua ini takdir. kita sebagai manusia cuman bisa ngikutin alur kehidupan, dan takdir itu jejak perjalanan hidup setiap manusia" ucap Reygan.


Rio hanya diam tak menjawab, Mengalihkan pandangannya pada jalanan ramai di bawah.


ia menghela nafas panjang.


"Lo tau kondisi Bianca kaya gimana sekarang kan?" ucap Rio.


Reygan mengangguk.


"dia koma" ucap Reygan.


"lebih dari itu" ucap Rio.


Reygan menatap bingung.


"gw cuman tau itu doang.. emang nya-" ucapan Reygan di potong oleh perkataan Rio yang membuat Reygan berhenti bernafas.


"dia keguguran" ucap Rio.


"calon anak gw yang umurnya satu bulan itu ga bisa di selamatin!!"


"dan Lo tau apa yang lebih parah?.. 90% kemungkinan Bianca ga bisa hamil lagi!!!" ucap Rio dengan emosi yang tak bisa ia kontrol.


Tubuh Reygan semakin lemas mendengar kabar itu.


Air matanya jatuh satu persatu.


"kenapa Lo ga bilang hah? KENAPA LO GA BILANG KALO BIANCA LAGI HAMIL RIO!!" ucap Reygan mendorong Bahu Rio membuat tubuh Rio terdorong mundur.


Rio menunduk.


"gw aja baru tau Rey. gw baru tau... dari dokter" ucap Rio.


Reygan duduk menyender ke dinding pembatas.


tangisan nya tak bisa ia Tahan.


ia Mengusap kasar Wajahnya.


Rio juga duduk menyender ke dinding pembatas, namun jarak kedua pria itu jauh.


Rio Menghela nafasnya berusaha menenangkan dirinya.


Ia menyadari bahwa sejah tadi dirinya memegang Tas kecil milik Bianca.


Rio membuka tas itu.


Yang pertama ia tuju adalah Sebuah Barang kecil di dalam tas itu.


Testpack.


Ia mengambil nya dengan perlahan.


hatinya gelisah dan takut.


ia membalikkan Posisi testpack yang awalnya terbalik.


dan tentu saja pandangan nya tertuju pada Layar testpack itu.


garis dua, positif.


kini tangisannya kembali pecah.


tentu saja hati nya begitu sakit melihat bukti kebenaran di depan mata.


..


Rio melangkah pelan masuk ke dalam ruangan Bianca.


Ia menghampiri Bianca yang berada di Kasur nya dengan masker oksigen yang Menempel menutupi hidung dan mulut nya juga Infus yang menancap di punggung Tangan nya.


kepala Bianca pun di perban karena terluka.


Bukan hanya Kepala, beberapa anggota tubuh lainnya pun Banyak yang terluka akibat Kecelakaan sore tadi.


Rio menggenggam tangan Bianca. ia mencium punggung tangan Bianca.


"sayang" ucap Rio.


"Rio disini. Bianca ga mau bangun?.. Bianca ga mau liat muka Rio?.. katanya Bianca punya Kabar baik, apa kabar baik nya? Kenapa Kabar baik itu malah jadi kabar buruk" ucap Rio ditemani 1 tetesan air mata nya.


"Bii, kenapa..."


"kenapa harus Lo yang Jadi kaya gini, apa lagi kita baru aja mau bahagia tentang Kabar Kehamilan lo, dan miris nya Kebahagiaan itu Diambil lagi. dan sekarang, kebahagiaan yang kita tunggu tunggu itu bakal susah buat kita dapetin lagi" ucap Rio.


Rio terdiam beberapa detik untuk menenangkan dirinya.


"maafin gw ya.. Maafin gw yang lalai jagain Lo, apalagi gw ga tau Lo ternyata udah hamil dari sebulan yang lalu. kalo gw tau, gw pasti gabakal tinggalin Lo sendiri di rumah"


"ini semua salah gw bii.. maafin gw" ucap Rio.


lagi lagi tangisannya tak bisa ia Tahan.


Ia menangis tanpa suara menahan sesak di dada nya.


...----------------...