UNTITLED

UNTITLED
Bab 111 Haru



Alby menatap dengan tatapan kosong langit-langit kamarnya.Semangat hidupnya benar-benar meredup sama sekali.Penyesalan terus datang menodong dipikirannya.Alby tidak pernah menyesal dan merasa bersalah menjemput Flora di bandara saat itu.Yang jadi penyesalannya adalah,tidak memberitahu Bee dari awal.Begitu Bee mengetahuinya,Alby bahkan tidak terus mencoba menjelaskan masalah apa yang sebenarnya terjadi.


Keadaan Alby bahkan sangat memprihatinkan.Sudah hampir dua minggu semenjak kepergian Bee,Alby tidak pernah keluar dari rumahnya.Seharian Alby mengabiskan waktunya hanya di kamar,Bi Endang yang menjadi palayan di rumahnya pun mendapat tugas tambahan dari Indah.Setiap jam makan,maka Bi Endang pun mengantar makanan ke kamar Alby.Makanan yang diantar bahkan hampir selalu di ambil dengan keadaan masih utuh.


Indah dan Atia sudah berkali-kali mencoba memberi anaknya nasihat juga semangat baru buat Alby.Tapi sepertinya rasa sakit yang dirasa Alby begitu dalam,hingga untuk sedikit menawarkan luka itu saja Alby merasa enggan.


Wajah yang tampan juga rupawan itu terlihat sangat kusut dan memucat.Rambut Alby selalu terlihat acak-acakan,diwajah itu juga terlihat bulu-bulu halus yang tumbuh kian banyak.Alby sama sekali tidak memikirkan penampilannya kini.


Gue hampir tidak puny gairah hidup lagi.Sangat berat ternyata menghadapai kenyataan ini.Gue bukan gak usaha mencari keberadaan lu,gue udah mencoba mencari informasi keimigrasian.Tapi sepertinya lu emang sengaja menghilangkan diri lu tanpa jejak.Lu sengaja mengambil penerbangan yang berkali -kali,sengaja berkunjung ke beberapa negara dulu sebelum lu pergi ke negara tujuan lu.Dan itu menyulitkan gue mencari informasi keberadaan lu.


Ternyata,lu memang mau melepaskan diri dari gue.kenyataan Itu yang membuat gue hampir gila menghadapi itu semua.Benarkah lu memang mau menghapus semua perasaan lu ke gue,menghapus semua cerita kita,menghapus gue dari kehidupan lu.


Bagaimana cara gue menata hati gue yang sudah porak poranda ini,menjalani hidup gue yang terasa sangat getir,menghirup nafas yang terasa sangat berat,melihat dunia yang sudah terlihat sangat gelap.Semua menjadi sangat mengerikan,Bee.Apa yang gue rasa juga menjadi tawar.


Sungguh nikmat,kesakitan yang telah lu hadiakan ini ke gue.


Suara handphone yang berdering,menghentikan pikiran panjang Alby.Alby menatap layar handphone tanpa ada semangat sama sekali.Semenjak kepergian Bee,hampir semua panggilan juga pesan dia abaikannya.Alby berpikir sejenak,lalu ibu jarinya menggeser warna hijau pada layar handphonenya.


----------------------------------------


Alby menginjakan kaki ke lantai tujuh rumah sakit yang tadi di informasikan Nova kepadanya.Alby tidak sempat mencerna dengan baik perkataan Nova saat ditelpon karena terdengar suara gaduh diantara ucapannya.Ada nama Bee dalam ucapan Nova,itu yang membuat Alby bergegas kerumah sakit ini secepatnya.


Baju yang terlihat lusuh dibalut Alby dengan jaket kulinya tanpa memperdulikan rambut yang masih acak-acakan.


Alby pun mencari ruang perawatan yang tadi sempat dichat oleh Nova.Begitu menemukan ruang itu,Alby langsung membuka pintunya dan melihat ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang.


Semua mata tertuju pada pada Alby dengan tatapan yang hampir sama mengejutkan dan tidak percaya.Orsya yang sempat tidak mengenali Alby beberapa detik segera bergerak dari pembaringannya tanpa memperdulikan selang infus yang baru saja terpasang ditangannya dengan wajah yang maksimal emosi.


Sebuah pukulan keras tepat mengenai rahang kanan Alby,dan disusul dengan pukulan yang lainnya di wajah Alby.Alby hanya mendengar suara teriakan.Setelahnya Alby merasakan tubuhnya melayang dan pandangannya pun gelap.Tubuh Alby terkapar di lantai.


Darah mengucur deras dari tangan Orsya karena jarum infus yang dengan paksa tadi ditarik.Nafas Orsya kembali memburu menahan emosi kedua tangannya masih mengepal kuat walau tubuhnya sudah di tahan Navy,Nova,Fathir juga Ipang.


"Apan lu cicit setan ?"


teriak Ipang emosi lalu melihat kondisi Alby yang sudah tidak sadarkan diri.


"gue yakin,Bee pergi karena dia"


teriak Orsya penuh emosi


"lu gak lihat keadaannya.Lu gak lihat bahkan keadaannya jauh lebih buruk dari lu.


Hah ??


Lu hanya luapi amarah lu dengan teriak,marah,ngancuri apa yang ada di hadapan lu.Ngebuat orang-orang yang sayang sama lu panik.Lu gak lihat cowok ini ngerasai hal yang sama mungkin juga jauh lebih terluka dari lu tapi cowok ini hanya diam.Lu gak lihat tampang nya juga depresi,HAh ??"


teriak Ipang lagi dan menatap Orsya dengan mata amarahnya.


Navy menarik nafasnya panjang,dirinya juga hampir tidak percaya melihat Alby sekarang.Navy pun membantu Ipang mengangkat tubuh Alby ke sofa panjang di sudut ruangan.


Setelah itu,menghubungi perawat dari handphone nya untuk menyiapkan satu ruangan rawat untuk Alby. tidak berapa lama,Seorang perawat lalu datang keruangan itu membawa peralatan medisnya.


"bersihkan luka pasien"


perintah Navy kepada perawat yang baru masuk,dan dengan sedikit agak takut melihat Orsya yang masih terlihat emosi.Nova mencoba membimbing tubuh Orsya untuk kembali ke tempat tidurnya.Orsya pun mengikutinya tanpa perlawanan.


Perawat membersihkan darah disekitar tangan Orsya,Ipang menghampiri Orsya lalu menepuk-nepuk bahu Orsya pelan.


"gue pulang sekarang !"


ucap Orsya tegas tanpa ekspresi


jawab Ipang ketus


"dunia manusia gak cocok buat cicit setan,kak.Lihat tu ! gitu cicit setan dilepas didunia manusia,cicit setan langsung buat kekacauan "bisik Fathir ke Nova yang di balas dengan sikutan kesal dari Nova.


Nova yang merasa bersalah ke Alby,lalu melangkah ke Alby yang masih terbaring disofa dan melihat Navy yang lagi membersihkan darah disekitar bibir juga hidung.


Nova tadi begitu panik melihat Orsya yang mengamuk tanpa tahu jelas masalahnya.Sempat berpikir bahwa Alby mengetahui keberadaan Bee sekarang,makanya tadi Nova meminta Alby untuk datang ke health hospital agar melihat keadaan Orsya yang memprihatinkan lalu mau memberitahukan keberadaan Bee.


Tapi melihat keadaan Alby yang ternyata lebih buruk dari Orsya,Nova pun menjadi makin bersalah.


"gimana keadaannya,dok ?"


tanya Nova kuatir


"yang pasti tidak lebih baik dari teman anda yang disana.Kabar baiknya,dia masih bernafas"


jawab Navy sambil tersenyum menatap Nova


"apa harus teman saya yang ini rawat inap ?


jujur aja,saya gak tau dok harus ngabari kemana keluarganya.Harus ngasih penjelasan apa ke keluarganya "


tanya Nova jujur dan terlihat bingung


"biar saya yang urus semua masalah teman anda yang satu ini "


jawab Navy lalu berdiri menatap Nova dingin.


"mana bisa gitu dokter.Teman saya ini sekarang jadi tanggung jawab saya.Mana bisa saya ngasih tanggung jawab besar ini ke dokter.Dokter itu bukan siapa .."


"Alby Mahardika Maulana ini sudah seperti saudara kandung saya"


potong Navy cepat dan terdengar sangat ketus di telinga Nova.


Nova membelakkan matanya tidak percaya melihat Navy yang kedua tangannya kini dilipat didadanya dan matanya tajam menatap dirinya.


----------------------------------------


Indah mengusap lembut rambut Alby,air matanya masih juga terus mengalir melihat kondisi anak semata wayangnya kini yang terbaring lemah dengan kondisi yang terlihat memprihatinkan.


Disudut lain,terlihat Atia dan Navy yang sedang membicarakan masalah yang cukup serius.Atia bahkan harus berkali-kali memijit dahinya karena merasakan frustasi.


Atia lalu berjalan menghampiri Indah yang masih terisak disamping tempat tidur Alby di ikuti oleh Navy.Atia meletakan satu tangannya dipundak Indah dan matanya menatap sedih anaknya yang terbaring memejamkan matanya.


"Ayah,


Kemungkinan besar Bee kuliah di eropa kan ?Bee itu gak bisa kena udara dingin,Bee alergi juga ma debu.Bee bakalan bersin-bersin sepanjang hari kalau alergi nya kambuh,yah.Alby minta tolong ma ayah,tolong kirim baju hangat sebanyak mungkin ke Bee,karena Bee mungkin tidak memiliki baju hangat yang cukup.Tolong,minta dokter mengawasi sakitnya.kasih stok obat yang cukup untuk mencegah alerginya kambuh.Bee sendirian di sana kan,yah.Gak akan ada yang memperhatikan Bee saat Bee sakit,yah.Alby mohon ama ayah"


ucap Alby tiba-tiba dengan suara lemahnya begitu matanya terbuka.Air matanya pun terlihat mengalir di ujung matanya.


Hati Atia terasa seperti teriris mendengar permintaan Alby.Atia tersenyum menatap Alby lalu menganggukan kepalanya menyetujui permintaan anaknya.


Alby tersenyum membalas senyuman ayahnya.Ada perasaan lega yang dirasakannya kini.


"Alby mau pulang bun,


kita pulang ke rumah ya.Bunda pasti sedih kalau malam ini Alby tidur disini.Alby gak mau bunda sedih"


ucap Alby manja yang langsung mendapat pelukan bahagian dari tubuh Indah.