
Bianca dan Rio sedang duduk beristirahat sehabis bersenang senang di Monas.
Reygan yang sejak tadi didiamkan oleh Bianca, menjadi kesal.
"bii. kamu kan Janji nya jalan sama Kaka, kenapa Malah nyuekin Kaka sekarang" ucap Reygan.
Bianca menepuk jidat nya.
"astaga Bianca lupa kalo kita jalan Sama Kaka juga" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"Lo tuh terlalu nyaman di Deket gw, makannya sampe lupa kalo ada Kaka Lo Di sini" ucap Rio.
"udah Lo diem aja, nanti kak Rey makin marah" bisik Bianca.
"iya iya. tuh bujuk Kaka ipar biar ga marah" ucap Rio.
Bianca berpindah duduk di samping Reygan.
"kak. maafin Bianca ya, bianca bener bener lupa" ucap Bianca.
Reygan terdiam.
"iya iya, Kaka gapapa" ucap Reygan.
Bianca tersenyum.
"udah sekarang mending kita pulang, udah sore" ucap Reygan.
"sore dari manaa, ini masih jam setengah 3" ucap Rio.
"jam setengah 3 tuh sore" ucap Reygan.
"engga lah, jam setengah 3 tuh siang" ucap Rio.
"soree! Lo tuh ga tau apa apa, udah gak usah banyak omong" ucap Reygan.
"Lo yang salah kali. sekarang tuh masih siang" ucap Rio.
"heh, jelas jelas disini gw yang lebih tua" ucap Reygan.
"hah? bukannya kita sepantar ya?!" ucap Rio.
Reygan terdiam sejenak untuk mengingat.
"Umur Lo berapa tahun?" tanya Reygan.
"22" ucap Rio.
"o-oh, yaudah sepantaran berarti. ya tapi gw Kaka ipar Lo! Lo harus hormat!" ucap Reygan.
"cih, kita sepantaran, gak usah ngatur gw deh" ucap Rio.
"ngelawan Mulu ni anak. kalo ga dapet restu dari gw, kalian gak mungkin jadi suami istri sekarang!!" ucap Reygan.
"iya sih.. ya tapi Gw gak mau hormat sama Lo" ucap Rio.
"aishh!! udah udahh!!!!" ucap Bianca kesal.
Reygan dan Rio terdiam.
"kalian bisa ga sih diem?!!!! cape tau ga denger nya?!" ucap Bianca.
"i-iya maaf Bii. lagian Kaka Lo ngeselin" ucap Rio.
"suami kamu tuh yang ngeselin bii" ucap Reygan.
"Lo kali yang ngeselin" ucap Rio.
"elo! Lo ngeselin banget jadi orang tuh!" ucap Reygan.
Bianca menghela nafasnya kasar.
mendengarnya membuat Rio dan Reygan menatap Bianca dan terdiam.
"kalo kalian berantem lagi, Bianca pergi" ucap Bianca.
"iya engga engga" ucap Rio.
Reygan menatap sinis kesal pada Rio, juga sebaliknya.
Bianca berjalan mendahului mereka berdua yang masih saling bertatapan sinis.
ia menoleh ke belakang.
"mau pulang gak?!" ucap Bianca.
tatapan sinis itu memudar, lalu mereka berdua langsung berlari untuk berjalan di samping Bianca.
Di depan mobil, Rio dan Reygan berhenti.
"Lo yang nyetir" ucap Reygan.
"lah, Lo lah yang nyetir" ucap Rio.
"Lo aja, gw kan udah waktu perjalanan kesini" ucap Reygan.
"kan Lo yang punya mobil" ucap Rio.
"ya makannya itu, karena gw yang punya mobilnya, gw minta tolong Lo buat nyetir. emang nya Lo ga ada perasaan gak enak apa? udah Numpang, ngajak ribut Mulu, gak mau nyetir lagi?!" ucap Reygan.
"ga ada sih" ucap Rio polos nya.
Bianca menghela nafasnya.
"Rio, Lo yang nyetir ya. kasian kak Rey mungkin cape" ucap Bianca.
Rio menatap kesal pada Reygan yang sedang senyum kemenangan.
"yaudah iya, gw yang nyetir. tapi Lo duduk di depan ya bii" ucap Rio.
Bianca kelihatan ragu.
"mending kak Rey aja yang di belakang, soalnya Bianca gak enak masa Kak Rey duduk di belakang sedangkan bianca di depan" ucap Bianca.
"gini aja biar adil. Rio nyetir, kita berdua Duduk dibelakang" ucap Reygan.
"heh engga! wah parah Lo, gw bukan supir" ucap Rio.
"itu kan adil. Kaya tadi pas pergi, bedanya cuman ganti orang" ucap Reygan tersenyum licik.
"yaudah gitu aja" ucap Bianca.
Rio hanya bisa pasrah.
ia masuk mobil pada bagian depan di bangku mengemudi, sedangkan Reygan dan Bianca duduk di bagian tengah berdua.
Diperjalanan, Rio Hanya diam saja padahal Reygan dan Bianca sejak tadi mengobrol.
Bianca dan Reygan memang sejak tadi tak mengajak Rio berbicara, namun biasanya Rio jengkel dan marah.
kini Ia hanya diam saja.
"kenapa emangnya?" tanya Reygan.
bianca menggunakan bahasa mata nya menunjuk pada Rio.
Reygan mengerti.
"yaudah sana" ucap Bianca.
Bianca pindah ke bangku depan samping bangku mengemudi dari Sela sela tengah bangku depan antara bangku kemudi dan samping nya.
Bianca duduk di bangku samping kemudi.
namun Rio menghiraukannya.
Bianca cemberut.
"Rio" panggil Bianca.
"hm" ucap Rio tanpa menoleh.
"Liat sini" ucap Bianca.
Rio menghiraukannya dan tetap fokus.
"Rioo, liat sinii" ucap Bianca menarik dagu Rio.
"Diem dulu kek bii!, gw lagi nyetir" ucap Rio tegas tanpa menoleh.
Bianca menghela nafasnya, lalu ia membiarkan Rio.
Rio menghentikan mobil nya di pinggir jalan secara tiba tiba.
Ia mengalihkan pandangannya pada Bianca.
"apa?" tanya Rio.
"Lo marah ya" ucap Bianca.
"engga" ucap Rio.
"boong" ucap Bianca.
Rio tersenyum lalu mencubit Gemas hidung Bianca.
"engga sayangg" ucap Rio.
"terus kenapa dari tadi diem aja?" tanya Bianca.
"terus gw harus gimana emang nya? kan gak di ajak ngobrol" ucap Rio menyindir.
"eh bukan gitu." ucap Bianca tak enak.
"maaf" lanjut Bianca menunduk merasa bersalah.
Rio mengelus kepala Bianca.
"udah gapapa. udah sana kebelakang lagi, nanti Kaka Lo marah" ucap Rio.
"engga, pengen disini" ucap Bianca.
"tapi nanti Kaka Lo marah sama gw" ucap Rio.
"boleh kan kak?" tanya Bianca menatap Reygan.
Reygan mengangguk.
"tuh kan bolehh.. udah lanjut nyetir lagi, gw ga bakal ganggu" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
ia kembali mengemudi Mobil hingga mereka sampai di rumah.
..
sesampainya di rumah, Mereka langsung masuk dan langsung melakukan kegiatannya masing masing.
Reygan pergi ke kamar untuk beristirahat, karena itu perintah Bianca.
Bianca menghampiri Rio yang sedang sibuk Dengan Dokumen dokumen Kantor itu, dan ia duduk di samping Rio.
"Rio" panggil Bianca.
"apa sayang" jawab Rio, namun Pandangannya tak beralih dari dokumen dokumen.
"lagi sibuk ya?" tanya Bianca.
Rio mengalihkan pandangannya pada Bianca.
"engga, kenapa?" tanya Rio.
"gak papa sih. mau gw buatin minum atau apa gitu?" tawar Bianca.
"gak usah, gw bisa sendiri" ucap Rio.
"Lo mau apa?" tanya Bianca.
"gak usah sayangg, biar gw aja sendiri" ucap Rio.
"Kan Lo lagi kerja. udah Kek biarin gw bikinin minuman buat Lo! Lo juga pasti cape, kemarin Lo kerja sampe sore, terus tadi nemenin gw jalan jalan, terus nyetir, terus dirumah lanjut kerja. Gw sebagai istri tuh harus Layanin suami gw" ucap Bianca sewot perhatian.
Rio tersenyum.
"Iya sayang yaudah. Minuman apa aja, kalo Lo yang bikin pasti enak dan gw suka" ucap Rio.
"yaudah gw bikin minum dulu ya" ucap Bianca.
Rio tersenyum dan mengangguk.
Tak lama kemudian, Bianca datang membawa secangkir teh hangat.
Ia menyimpannya di meja.
"makasih istri" ucap Rio tersenyum.
"iya. minum dulu, habis itu lanjut lagi. gw mau ke kamar" ucap Bianca.
"iya, hati hati" ucap Rio.
"cuman ke kamar doang rioo" ucap Bianca.
Rio tertawa kecil.
Bianca Pun pergi.
Rio meminum teh hangat buatan Bianca.
"padahal teh biasa, tapi enak banget" ucap Rio tersenyum.
Rio pun melanjutkan Pekerjaannya sambil menikmati teh hangat buatan Bianca.
...----------------...