
setibanya Rio dirumah, ia tidak melihat Keberadaan Bianca.
"Bianca kemana sih?!" ucap Rio sambil berlari terus mencari Bianca.
ia sudah menelusuri seluruh titik rumah Itu, tapi Bianca tak ada.
Rio memutuskan Untuk pergi mencari Bianca di Tempat lain.
Ia memakai mobilnya dan langsung menancap gas Menuju salah satu tempat.
Sesampainya ia di depan rumah seseorang, ia memarkirkan mobilnya Di Depan pagar rumah itu, dan langsung masuk kedalam rumah.
ia Memencet bel rumah saat berada di depan pintu utama.
seseorang pemilik rumah itu membukanya.
"Rio? Lo ngapain kesini?" tanya seseorang itu.
"Lun, ada Bianca gak?" tanya Rio pada seseorang itu yang ternyata adalah Luna.
"engga.. emangnya kenapa?" tanya Luna.
"jadi tadi malem tuh gw sama Bianca Nginep di kantor.. Terus Bianca Nemu baju di Lemari kamar pribadi. akhirnya dia pake buat tidur.. tapi paginya, Tamara Dateng dan Bilang kalo baju itu baju Dia.. Bianca salah paham terus pergi gitu aja." cerita Rio panjang lebar.
"astagaa.. Bianca gak kesini, mungkin belum kesini. dia lagi di perjalanan mungkin" ucap Luna.
Namun tiba tiba..
"LUNAA" panggil seseorang yang Tiba tiba masuk ke gerbang rumah Luna.
Teriakannya yang lumayan kencang, membuat Luna dan Rio menoleh.
"bianca?!" ucap Rio.
Bianca yang merasa disebut namanya itu langsung menoleh.
Ia tak menyangka bahwa Rio berada disini sebelum dirinya.
Bianca menoleh kebelakang, dan ia baru menyadari bahwa ternyata ada Mobil Rio didepan pagar rumah Luna.
Bianca ingin pergi dari situ, namun Rio lebih dulu meraih Lengan nya dan menahan nya.
"mau kemana lagi?! dengerin dulu gw ngomong" ucap Rio.
Bianca menghela nafas nya.
Ia melepaskan lengannya Dari genggaman Rio, dan berjalan mendekati Luna.
"lo dari mana?" tanya Luna.
"gak dari mana mana.. gw jalan kaki dari kantor ke sini" ucap Bianca Menatap sinis Rio.
"lun, gw boleh minta Minum gak?" tanya Rio.
Luna mengangguk.
ia mengajak masuk Bianca dan Rio.
Luna meninggal kan Rio dan Bianca berdua di Ruang tamu.
Namun Rio tak mencoba menjelaskan apapun dulu.
Luna datang membawa 1 gelas minum, karena katanya Bianca tak ingin minum.
Luna memberi gelas nya itu pada Rio, dan Rio menyodorkan Gelas itu pada Bianca.
"minum! gw tau Lo cape Jalan dari kantor ke sini" ucap Rio.
"so tau.. gw gak cape" ucap Bianca.
"nafas Lo buru buru, itu nama nya Kecapean. gak usah banyak bantah, tinggal minum aja susah banget" ucap Rio.
Bianca Terdiam kesal.
Ia mengambil sodoran gelas dari Rio dengan kasar dan Meminumnya.
Setelah itu ia menyimpannya di meja depan sofa.
"yaudah yuk pulang.. nanti gw jelasin di rumah" ucap Rio.
"iya sana pulang, selesain masalah kalian" ucap Luna.
Rio berdiri dan menggandeng Tangan Bianca yang masih terduduk.
Bianca pun berdiri.
"yaudah Lun, gw Pulang ya" ucap Bianca.
Luna mengangguk.
mereka berdua pun akhirnya Pulang.
..
sesampainya dirumah, Bianca berjalan terlebih dulu masuk ke rumah.
Rio mengikutinya.
Bianca duduk di sofa, Rio mengikutinya kembali.
"mau gw jelasin sekarang?" tanya Rio.
"yaudah jelasin, gak usah pake nanya nanya" ucap Bianca sinis.
Rio tersenyum dengan kesinisan Bianca.
"Tamara itu boong sayang.. itu emang baju Buat lo dari mamah. mamah nyuruh papah kasih ke Lo, tapi karena waktu itu papah sibuk, papah nyuruh Tamara simpen Baju itu di kamar pribadi gw.. tapi akhirnya papah lupa ngasih ke lo" jelas Rio.
Bianca menatap tak percaya.
"Mamah yang bilang ke gw" ucap Rio.
Ekspresi Bianca yang Tadinya tak percaya, kini menjadi seperti biasa.
"kalo itu emang bener, terus kenapa Tamara Ngaku ngaku?" tanya Bianca.
Bianca terdiam sejenak untuk berfikir.
"iya juga sih.. Tamara kan emang punya banyak dendam ke gw dan Rio " batin Bianca.
Bianca menghela nafas.
"yaudah gw percaya" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"Lo emang harus percaya, karena itu emang fakta nya" ucap Rio.
"mana senyumnya?!" ucap Rio.
Bianca hanya tersenyum sekilas lalu kembali pada ekspresi datar nya.
"kurang" ucap Rio.
Bianca kembali tersenyum paksa, dan kembali ke ekspresi datar.
Rio tersenyum menggelengkan kepala.
"oh iya kita belum sarapan.. mau sarapan apa?" tanya Rio.
"gak usah, gak laper" ucap Bianca.
"Lo habis Jalan kaki jauh, masa Gak laper" ucap Rio.
"ya emang gak laper aja" ucap Bianca.
Namun Tiba tiba perut Bianca berbunyi.
Rio tertawa kecil.
"gak usah Pura pura.. kalo laper bilang aja, jangan gengsi" ucap Rio.
Rio pun pergi meninggalkan Bianca ke dapur untuk memasak makanan.
kali ini Rio tak akan memasak makanan yang membuat Bianca menunggu lama.
Rio merasa kasihan melihat Bianca yang kelaparan, walau Bianca menutupi rasa kelaparan ya itu dengan gengsi nya.
tak pakai lama, Rio pun akhirnya menyajikan makanan masakannya di meja makan.
"bii, ini udah jadi" ucap Rio.
Bianca pun berjalan Menghampiri meja makan yang terdapat beberapa makanan enak namun simple.
Bianca duduk.
Rio menyajikan makanan Untuk Bianca dan untuk Nya sendiri.
bianca pun langsung memakan makanan masakan Rio itu dengan lahap.
Rio yang melihat itu hanya tersenyum.
merasa dihargai, dan Merasa senang juga karena Bianca tetap mau makan masakannya.
selesai itu, Bianca berjalan pergi ke kamar meninggalkan Rio yang sedang membereskan Meja makan.
Rio tak mempermasalahkan itu.
ia mengerti bahwa Bianca masih marah dengannya, walau penjelasannya tadi sudah Menjadi bukti kuat kalau memang Rio dan Tamara itu tak pernah melakukan apapun.
setelah membereskan meja makan, Rio mencuci piring.
lalu segera ia Menyusul Bianca ke kamar.
Di kamar, Rio melihat Bianca yang sedang duduk di Balkon kamar.
Ia menghampiri Bianca.
"kok disini?" tanya Rio.
"gapapa, mau ngirup udara segar aja" ucap Bianca.
"emangnya gak cukup udara segar selama jalan dari kantor ke rumah Luna?" tanya Rio bercanda.
"itu lebih tepatnya Polusi, bukan udara segar" ucap Bianca.
Rio tertawa kecil.
"oh iya, kaki Lo sakit gak setelah jalan?" tanya Rio.
"sedikit" ucap Bianca.
"gw pijitin ya" Tawar Rio.
"gak usah" ucap Bianca.
Rio tak mendengarkan Bianca dan mulai memijit kaki Bianca.
Bianca meringis kesakitan saat Rio sedikit Memijit kaki nya.
"sakit banget ya? gw pelan pelan Kok" ucap Rio.
Rio kembali Memijit kaki Bianca dengan lembut.
lama kelamaan, Kaki Bianca menjadi lebih baikan dan lebih enakan.
"gimana?" tanya Rio.
"lumayan" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"makasih ya tukang pijit" ucap Bianca.
"Dih, ganteng gini dibilang tukang pijit" ucap Rio.
Mereka berdua pun masuk ke kamar dan melakukan aktifitas mereka sendiri sendiri.
...----------------...