
*2 minggu kemudian
Sosok lelaki dengan postur tinggi tegap fokus memandang 2 kuburan yang terlihat tanahnya masih basah dengan hamburan bunga diatasnya.Matanya memerah menahan tangis,dadanya juga terasa sesak menahan sakit.Ada barisan doa yang dirafalkan lelaki itu.Bersamaan berakhirnya doa ada tanya yang yang terus menggelitik hatinya.
Semua belum berakhir..!!!
Putus hati Navy akhirnya.
Bee,
Sampai sekarang Navy juga belum mengetahui keadaan sebenarnya Bee.Navy hanya mendapatkan kabar via telpon yang mengatakan keadaan Bee yang jauh dari kata normal.
Masih ada hati dan jiwa yang harus diselamatkan olehnya.Terlihat tidak adil memang bagi dirinya.Haruskah dirinya bersyukur mempunyai hati yang selembut ini..?Memelihara perih dihatinya untuk melihat kebahagiaan orang-orang yang disayanginya.
Atau memilih pilihan yang lain,menjadikan sosok yang bukan dirinya.Mencoba menutup mata,telinga juga hatinya mencoba membahagiakan Bee dengan caranya walau dirinya menyadari tidak akan pernah ada kata cinta dari Bee untuk dirinya.
"Mudah-mudahan setelah ini,gue akan datang kesini bersama orang yang kalian sayangi"
Pamit Navy akhirnya,lalu tangannya memegang erat bergantian papan nisan disana.Dengan tatapan sedikit tidak rela juga mulai meninggalkan pemakaman umum itu.
----------------------------------------
Bee dengan posisi berbaringnya masih asyik dengan pikiran nya yang sudah bergerilya kemana-mana.Suasana temaram kamar makin menambah kesan sendu disana.Gelang yang warna nya hampir sama dengan kepemilikan Alby kembali menghiasi tangannya.Di tangannya juga menggenggam kalung emas putih yang berhiasakan huruf huruf A L B E E di sana.Sesekali mata yang kosong itu juga menggulirkan air di sudut matanya.Mulutnya juga bergerak seperti mengucapkan kata-kata tapi tidak ada katapun yang terucap dari mulutnya.
10 menit sudah Navy melihat Bee dengan aktifitas yang tidak jauh berbeda.Hatinya benar-benar sakit melihat orang yang di sayangnya terlihat sangat menderita.
"lu yang minta ke gue untuk jagain Bee, walaupun gue gak pernah jawab iya langsung ke lu,By.Gue udah putusi untuk terima permintaan lu jika Bee memutuskan untuk meninggalkan lu.
Maaf untuk keserakahan gue.."
Batin Navy,lalu setelah itu berjalan dengan sangat hati-hati menuju ke pembaringan Bee agar Bee tidak terkejut dengan kehadirannya.
Mata Bee yang terlihat kosong,mampu melihat kehadiran Navy tapi hatinya seperti enggan untuk menanggapi kehadiran Navy disana.Hatinya masih terpaut erat dengan bayang-bayang Alby.
Navy yang tau,Bee menyadari kehadirannya lalu mencoba duduk dengan menarik kursi dan memposisikannya dekat dengan tubuh Bee.
"Gue mau ngomongi hal penting ke lu,Bee"
buka Navy dengan suara lembutnya dan Bee sama sekali bergeming.
"Ini menyangkut Alby "
lanjut Navy lagi,lalu bisa melihat nafas Bee yang tersengal dan air mata yang kian deras mengalir dari kedua pipinya.
Navy merasakan hatinya teriris melihat kesakitan yang dirasakan Bee.Sungguh Navy tidak tega melihat wanita yang biasanya cukup tegar itu kini sangat rapuh.
"Alby..,
Alby masih hidup,Bee"
Ucap Navy berbisik sangat pelan tapi mampu didengar dengan baik oleh Bee.Bee langsung membulatkan matanya antara percaya dan tidak.
Bee langsung duduk dari pembaringannya seperti mendapat tenaga baru,lalu menatap tajam Navy mencoba mencari kebenaran dari wajah Navy yang sekarang ada di hadapannya.
"Tapi,
keadaannya gak jauh lebih baik dari lu.Gak jauh beda dari yang lu lakui sekarang,Alby juga ngelakui hal itu sekarang "
timpal Navy lagi dan itu mampu membuat binar wajah Bee menjadi sedikit bahagia dan Bee belum mampu mengucapkan satu kata pun untuk meng ekspresikan kebahagiaannya itu.
Setelah kejadian menakutkan itu,yang Bee tahu dirinya hampir 3 hari tidak sadarkan diri.Begitu sadar Bee mendapatkan dirinya sudah berbaring ditempat tidurnya.Bee yakin hal terburuk telah terjadi di diri Alby.Tapi,Bee mencoba mengingkari kenyataan yang ada dengan tidak mau tau juga tidak mau bertanya apa pun tentang Alby.Karena dengan begitu Bee dapat menekan rasa sakit yang ada dihatinya.Entah sudah berapa hari Bee hanya berbaring diatas tempat tidurnya tanpa peduli dengan dunia luar kamarnya.
"gue sayang Alby,
gue juga sayang ma lu,Bee.
gue gak mau buat hubungan ini jadi rumit.Tapi semua itu ada dikeputusan lu nanti nya.
Setelah operasi itu,gue hampir gak percaya kalau nyawanya masih bisa diselamatkan.Dan yang buat semuanya jadi begitu menyakitkan,Alby sekarang lumpuh..!"
Navy menarik nafasnya panjang begitu mengeluarkan pernyataan terakhirnya
"Lummm puh.."
gumam Bee akhirnya
"yup..
lumpuh..!!!
kakinya tidak bisa berfungsi lagi.Alby tidak bisa berjalan seperti biasa.Ini adalah efek dari operasi yang gagal kemaren "
"Lu bohong,Nav..??"
hardik Bee cepat dan air mata itu kembali lolos mengalir dikedua pipinya.
ucap Navy tegas tapi terdengar sangat keterlaluan di telinga Bee.
"sedikit banyak gue udah bahas masalah ini ke Alby.Dan lu pasti udah bisa tau apa yang Alby inginkan..,
Yup,Alby gak mau kalau keadaan menyedihkannya ini sampai di ketahui oleh lu.Awalnya gue punya pikiran yang sama dengan Alby,tapi akhirnya gue mutusi untuk lu tau keadaan yang sebenarnya.Jadi tidak akan ada lagi ketidak adilan di sini.Kita akan jalani semua keputusan yang kita ambil biar gak ada lagi penyesalan "
"maksud lu ?"
"Bee,kita bukan bocah yang umur belasan tahun lagi.Kita udah sama-sama dewasa untuk mikiri masa depan kita.Dengan keadaan Alby sekarang,lu harus mutusi mau selamanya menjalani hidup bareng Alby,mau terima keadaan Alby.Dan yang harus lu patri di otak lu..!! Lu ngabisi hidup lu untuk ngurusi orang cacat..!!!
Or..,
jangan pernah temui Alby kapan pun,Buang jauh juga kubur dalam-dalam semua tentang Alby. pergi jauh tinggali Alby dari negara ini bareng gue..!"
Bee menatap Navy dengan mata tidak percayanya.Pilihan apa yang sedang diberikan kepadanya.
"gue kasih waktu seminggu untuk lu mikiri ini baik-baik"
putus Navy,dan beranjak tubuhnya bangkit dari kursi yang di dudukinya.
"brengsek lu,Nav..!!"
ucap Bee dingin dan penuh emosi
"Cihh..
gue harus jadi brengsek untuk menyudahi keadaan yang menyakitkan ini.gue harus lebih brengsek lagi untuk nyembuhi luka yang ada dan gue harus sangat brengsek lagi untuk bisa membahagiakan orang-orang yang gue sayangi"
jawab Navy sambil meninggalkan kamar Bee.
----------------------------------------
*ke esokan harinya
Navy membereskan peralatan medisnya setelah membersihkan luka jahit bekas operasi Alby.Lalu menutup tubuh yang berbaring miring itu dengan selimut tebalnya.Semua aktifitas yang terjadi hampir setengah jam itu berlangsung tanpa ada suara diantara mereka.
Tanpa ada niat permisi pun Navy segera meninggalkan kamar Alby.Langkah kakinya terhenti karena di depan pintu kamar Alby telah berdiri Bee dengan wajah yang menahan rasa pilunya dan entah sudah berapa lama berada diposisi itu.
Alby yang memang posisi tubuhnya membelakangi pintu tidak mengetahui kehadiran Bee tapi instingnya berkata ada sesuatu yang berbeda yang akan terjadi.Dengan susah payah Alby berusaha mengalihkan kepalanya tanpa merubah posisi tubuhnya untuk sejenak melihat Navy yang menurutnya belum meninggalkan kamarnya.
Alby dapat melihat Navy yang berdiri kaku menatap pintu kamarnya yang membawa mata Alby juga mencoba mengikuti arah pandangan Navy.Mata Alby sudah membingkai satu wajah yang sangat dirindukannya itu tapi ada gejolak tidak terima yang meronta di hati Alby mengingat kenyataan yang harus di hadapinya saat ini.
"KELUAAAARRR..!!!"
satu kata pengusiran itu berhasil diteriakkan Alby dengan level kemarahan yang hampir maksimal yang membuat Navy dan Bee tidak percaya.
Anehnya Bee sendiri tidak merasakan takut,hatinya malah kian teriris perih melihat sikap Alby kepadanya.Air matanya menjadi saksi kesakitan yang kini dirasakannya.Bee pun tanpa rasa takutnya melangkahkan kaki untuk mendekati tempat tidur Alby.
"siapa yang ijini kamu masuk..???
KELUAR DARI KAMAR KU,BEE !!"
Dengan tatapan yang menyeringai Alby kembali bersuara,tubuhnya juga sudah terlihat naik turun menahan emosi yang meluap.
"aku gak perlu ijin kamu hanya untuk masuk ke kamar kamu,By.
Sama seperti hati aku yang gak perlu ijin kamu untuk menjadi penghuni di sana"
jawab Bee lembut dan di barengi dengan air matanya.Bee berusaha kuat melihat kondisi Alby yang menurutnya sangat memprihatinkan,dikepalkan Bee kedua tangannya kuat mencoba untuk menahan sakit hatinya.
"gak butuh waktu seminggu juga buat gue memutuskan hal penting dalam hidup gue.Gue tau apa yang harus gue lakui agar gue gak menyesal untuk yang kedua kalinya"
ucap Bee yakin begitu tubuh Bee berada di samping tubuh Navy dan Bee sengaja menghentikan langkahnya di sana.
"kasih gue ruang untuk berbicara berdua ma Alby"
pinta Bee penuh permohonan kepada Navy
"Jangan Nav..!
gue gak mau ketemuan dengan cewek ini.Lu bawa dia keluar dari kamar gue !"
Alby langsung memotong ucapan Bee dan berharap Navy mengabulkan permohonannya karena hanya Navy yang sekarang bisa membantunya.
"Luka jahitnya belum sembuh total.Jadi,gue yakin Alby gak akan berbuat kasar sama lu.Lu hanya butuh ekstra kesabaran menghadapi emosi lelaki setengah waras itu"
Navy dengan dingin mengatakan itu.Menatap Bee untuk mencari keseriusan di mata yang basah itu lalu beralih menatap Alby yang melihatnya penuh amarah
"Semarah apapun lu ke gue,gue yakin amarah lu gak akan berubah jadi benci ke gue "
Dengan keyakinan penuh Navy mengucapkan kalimat itu dengan angkuhnya lalu memberikan Alby senyum kemenangannya sebelum meninggalkan kamar Alby.