UNTITLED

UNTITLED
terlalu banyak pikiran



Waktu berjalan begitu cepat.


1 bulan berlalu.


dan masih tanpa Rio.


hari hari Bianca Sangat menyedihkan.


Ia bahkan melewatkan hari hari nya diiringi tangisan kesedihan.


Ia masih Tinggal di apartemen nya, dan Reygan Juga menginap disana agar Bisa terus mengawasi Bianca.


"bii, keluar yuk. kita cari udara segar" ajak Reygan.


Bianca hanya diam tanpa Menjawab.


Reygan menghela nafasnya.


belakangan ini memang Bianca jadi tidak banyak bicara.


ia lebih sering melamun dan menangis.


kadang ia mengeluarkan Bingkai foto Rio, ia mengelusnya, bahkan menangisi nya.


Bianca menghela nafasnya.


"kak, kita keluar yuk. Bianca butuh udara segar" ucap Bianca.


Reygan mengangguk.


Bianca Dan Reygan pun keluar dari apart nya dan berjalan jalan sekitar taman apartment.


namun saat sedang berjalan jalan, Bianca merasakan dada nya terasa sakit.


"bii, kenapa?" tanya Reygan menangkap Bianca yang hampir terjatuh.


"kita duduk dulu ya" ucap Reygan.


ia membawa Bianca duduk di Kursi taman.


"kamu gapapa kan?" tanya Reygan.


"gapapa kak, mungkin cuman kecapean" ucap Bianca.


Reygan menggeleng tak menyetujui ucapan Bianca.


"Bianca, Kamu itu bukan orang yang gampang cape" ucap Reygan.


Bianca terdiam berfikir.


"masasih? Bianca lupa" ucap Bianca.


"apa kamu udah baikan sekarang?" tanya Reygan.


"baikan? emang nya bianca kenapa?" tanya Bianca.


Reygan menatap heran.


"bii, kamu gapapa kan?" tanya Reygan sekali lagi.


"Bianca gapapa kak, Emang nya ada apa?" tanya Balik.


"t-tapi bukannya kamu lagi ada masalah sama Rio" ucap Reygan.


Seketika mendengar nama Rio, Bianca menangis sambil memanggil nama Rio.


Reygan menatap Bianca bingung, heran juga tak mengerti kondisi ini.


"bii, kok nangis" ucap Reygan.


"Bianca kangen Rio" ucap Bianca dengan sesenggukan akibat menangis.


"yaudah, sekarang kita Ketemu sama Rio yaa" ucap Reygan.


Bianca berhenti menangis.


"beneran?" tanya Bianca.


Reygan mengangguk.


Senyuman yang tadi nya terpancar, kini malah menjadi masam.


"gak mau, Bianca gak mau ketemu Rio. dia cuman luka buat Bianca" ucap Bianca cemberut.


"tapi kalo Rio yang kesini, Bianca bakal seneng" ucap Bianca mengganti ekspresi nya menjadi senyuman.


Reygan merasa ada yang tidak beres dengan Bianca.


"bii, mau ikut sama Kaka gak?" tanya Reygan.


"ikut? kemana?" tanya Bianca.


"kita jalan jalan, kamu pasti bosen kan di apart Teru?!" ucap Reygan.


Bianca tersenyum mengangguk.


Reygan cepat cepat membawa Bianca ke tempat tujuannya.


.


.


sesampainya di Tempat tujuan.


Reygan langsung menarik Bianca masuk. rumah sakit.


ia menuju ruangan salah satu kerabat nya, lalu menyelonong masuk.


Kerabatnya yang sedang duduk santai di dalam ruangannya itu kaget.


"ada apa sih Rey?" tanya Kerabat nya itu.


Reygan mendudukan Bianca di kursi pasien depan meja Dokter.


sedangkan Reygan berjalan mendekat pada kerabat nya, lalu membisik kan Sesuatu.


Kerabat nya menatap Reygan dengan heran, namun setelah itu ia seperti mengangguk mengerti.


Kerabatnya itu langsung duduk tegak layak dokter seperti biasanya.


lalu memperkenalkan dirinya pada Bianca.


"hai Bianca, gw runa. dokter sekaligus Temen nya Kaka Lo, Reygan" ucap Seseorang itu, runa.


Runa menatap Reygan.


Reygan mengangkat bahu nya tanda tak tahu.


"oh iya, gimana kabar Lo sekarang? gw denger dari Reygan katanya lagi ada masalah ya?" ucap Runa.


senyuman Bianca memudar.


"Iya." ucap Bianca.


"kak Runa, apa gw bisa Ketemu Rio lagi? apa masalah ini bakal selesai? apa semuanya bakal baik baik aja? dan apa Rio dan gw bisa terus bareng?" ucap Bianca.


Runa menatap Reygan bingung.


Reygan Sebaliknya.


"gw takut Rio dan gw Gak bisa bareng bareng lagi. gw takut Rio jadi milik seseorang di luar sana. gw mau Rio cuman milik gw selama nya" ucap Bianca.


"apa yang harus gw lakuin sekarang? apa gw harus nyamperin rio? iya?!!" ucap Bianca berdiri dari posisi duduk nya.


Reygan menghampirinya dan menenangkan nya, lalu kembali mendudukan nya di kursi.


"b-baik lah kalo begitu." ucap Runa.


"bii, gw sama Rey mau Ngobrol sebentar. Lo disini dulu ya" ucap Runa.


Bianca mengangguk.


Runa menarik Reygan keluar ruangan.


"Lo liat? kenapa sikap Bianca aneh?" ucap reygan bingung dan heran.


Runa menghela nafasnya.


"kayanya adek Lo banyak pikiran. dia terlalu stress sama Keadaan ini" ucap Runa.


Reygan menghela nafas karena Kasihan dan prihatin dengan adik semata wayang nya itu.


"gw harus apa biara Bianca gak stress?" tanya Reygan.


"turutin apa yang dia mau" ucap Runa.


"semua?" tanya Reygan.


runa mengangguk.


"setidaknya itu yang bisa Lo kasih, kalo Lo belum bisa nemuin dia sama suami nya" ucap Runa.


Reygan menunduk.


..


sepulang dari rumah sakit, Reygan membawa Bianca jalan jalan.


mungkin salah satu penyebab Bianca terlalu stress adalah dirumah saja.


"bii, mau jalan jalan kemana? ke taman?" tanya Reygan.


"engga" ucap Bianca.


"mau kemana dong?" tanya Reygan lagi.


"jalan jalan aja, gak usah keluar mobil" ucap Bianca.


Reygan hanya mengangguk.


mereka jalan jalan hingga waktu menunjukan pukul 13:30.


..


di apart.


Reygan dan Bianca melakukan rutinitas nya seperti biasa.


Reygan yang rajin itu, membersihkan Apart, sedangkan Bianca masih dengan rutinitas nya, yaitu melamun.


Reygan tak Kesal, namun Reygan hanya takut Bianca terlalu banyak pikiran, hingga lebih stress.


"bii, bantuin Kaka dong" ucap Reygan.


Bianca menoleh dan mengangguk.


Bianca mulai dengan menyapu, lalu mengepel, setelah itu ia mengelap Kaca kaca.


setelah semua selesai, ia mencuci pakaian.


tidak memakai mesin cuci, dia mencuci nya dengan tangannya.


Reygan sudah melarang nya, namun Bianca tak mau mendengarkan Dan tetap melaksanakan itu.


"bii, kaka emang suruh kamu bantuin Kaka, tapi bukan berarti semua nya kamu yang kerjain" ucap Reygan.


"udahlah ka, gapapa" ucap Bianca.


"tapi nanti kamu cape" ucap Reygan.


"mendingan aku cape karena ngerjain sesuatu, dari pada cape karena mikirin Rio terus" ucap Bianca.


Reygan menghela nafasnya.


"yaudah, tapi Kaka bantu ya" ucap Reygan.


"gak usah" ucap Bianca.


"bii, nanti kamu sakit" ucap Reygan.


"udah ka gapapa, Bianca seneng kok ngerjain semua ini. bahkan kalo boleh, Bianca bisa bersihin seluruh gedung ini, supaya Bianca gak duduk ngelamun dan akhirnya nangis lagi" ucap Bianca.


Reygan menghela nafasnya kembali.


"yaudah terserah kamu aja Bii" ucap Reygan mengelus kepala Bianca.


"yaudah Kaka tunggu di Sofa aja" ucap Bianca.


Reygan mengangguk.


ia pergi dan duduk menunggu Bianca, karena itu kemauan Bianca.


sedangkan Bianca kembali mencuci pakaian.


...----------------...