UNTITLED

UNTITLED
3 minggu



matahari kini tepat di atas kepala, Hari sudah semakin siang.


kini sudah menginjak tiga Minggu Sejak hari yang sial itu membuat Bianca terbaring tak berdaya sampai sekarang.


Rio masih setia Menunggu kabar Baik Dari Dokter, namun kabar baik itu masih belum terdengar.


kondisi Bianca masih sama seperti awal, tak ada yang berubah sedikit pun.


Sudah sekitar satu Minggu Keluarga Bianca dan keluarga Rio kembali ke Bandung.


kondisi Rio kini tak terawat, bahkan makan nya tak teratur.


Hingga akhirnya pada Pukul sepuluh lewat tadi, seorang gadis datang menghampiri Rio yang sedang duduk melamun di koridor rumah sakit.


"kamu tuh harus rawat diri kamu, jangan sampai kaya gini. Emangnya harus di rawat istri kamu terus ya?" ucap gadis itu.


Rio tak menoleh, ia sudah tau dari karakter suara gadis itu bahwa dia adalah Luna.


"gue ga butuh ocehan Lo"


Rio menatap malas.


"lagian Lo ngapain sih nyamperin gue terus? ga ada kerjaan lain??" ucap Rio yang sudah malas bertemu Luna, karena belakangan ini gadis itu terus menghampiri nya dan membuatnya risih.


Luna menghela nafasnya.


"galak banget sih. aku cuman mau kasih makanan buat kamu, pasti belum makan kan?!" ucap Luna tanpa izin langsung duduk di samping Rio.


"gue bisa beli makanan sendiri, mendingan Lo pulang deh" ucap Rio.


"Rio.. aku kesini niat baik loh, kenapa sih Kamu nolak terus" ucap Luna.


Rio berdiri dari kursi koridor dan melangkah meninggalkan Luna tanpa sepatah kata apapun.


Luna Membuntutinya hingga depan Kamar Bianca, karena Rio berhenti disana.


"Lo bisa ga, ga ganggu gue" ucap Rio.


"aku ga berniat ganggu kamu, aku cuman mau kasih makan-" ucap Luna terpotong.


"udah gue bilang, gue bisa beli makanan sendiri!!!" ucap Rio dengan nada tinggi nya.


Luna terdiam.


"kamu kenapa sih kasar banget, aku kan cuman mau Kasih makanan"


"aku berniat baik loh. emang salah aku dimana sih?!"


Rio memutar bola matanya malas.


"salah Lo itu perhatian sama gue, dan gue ga suka"


"kenapa perhatian aku ke kamu itu salah?" tanya Luna dengan mata berkaca kaca.


"Lo tau kan kalo gue udah punya istri. biarin istri gue satu satu nya cewe yang perhatian sama gue selain mamah gue" ucap Rio.


Luna Tertawa kecil.


"tapi istri Lo itu sekarang ga ada buat Lo, biarin gue yang perhatian ke Lo sebagai gantinya"


Rio menggelengkan kepalanya tak percaya.


"gue ga ngerti sama jalan pikiran Lo yang kaya bocah gini" ucap Rio yang langsung meninggalkan Luna masuk ke dalam kamar Bianca.


Rio menghampiri Bianca dan duduk di kursi samping kasur.


ia menggengam tangan Bianca.


"bii"


"udah tiga Minggu gue ngelewatin hari-hari tanpa Lo. hampa banget rasa nya"


"ga ada semangat hidup buat gue ngelewatin hari-hari panjang itu"


Rio terdiam sebentar.


"Lo tau ga, Gue belum makan loh dari Kemarin. Lo ga ada niatan Bangun terus masakin makanan buat gue?"


"gue ga bisa makan Selain makanan masakan lo bii"


Saat Rio sedang mengobrol dengan Bianca yang masih Terlelap itu, tiba-tiba Seorang perawat datang membawa Satu nampan makanan.


"permisi pak Rio. saya bawakan makanan untuk bapak" ucap Perawat itu.


Rio menatap bingung.


"buat saya?"


"iya pak. tadi Pagi Bu Risa memberi pesan kepada saya, saya Harus rutin membawakan makanan untuk bapak. tadi pagi saya sudah membawakan makanan ke kamar ini, tapi bapak ga ada. saya simpen nampan nya disini, tapi waktu saya balik lagi kesini makanan masih utuh dan udah ga enak, jadi saya ganti" ucap Perawat itu panjang lebar.


Rio terdiam sebentar sebelum akhirnya menerima nampan itu.


"kapan Bu Risa kasih pesan?" tanya Rio.


"sekitar jam delapanan pak" ucap Perawat itu.


Perawat itu izin pergi Sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.


"gue ga mau makan" ucapnya sembari menyimpan nampan itu di meja nakas samping kasur Bianca.


ponsel Rio tiba tiba berbunyi.


Ia mengeceknya dan Melihat kontak bernama ' alza '.


Rio memilih untuk keluar kamar dan mengangkatnya di luar.


ia berhenti di sebuah koridor Yang tak terlalu jauh dari kamar Bianca.


ia mengangkatnya.


" halo za "


[ halo pak Rio ]


" kenapa za? ada masalah di kantor? "


[ engga pak. saya cuman mau nanya ]


" nanya? nanya apa emang nya? "


[ maaf pa lancang tapi... memangnya bener Kalo tiga Minggu lalu Bianca habis kecelakaan dan Sekarang koma di rumah sakit? ]


Rio terdiam bingung.


" tunggu. kok kamu Tau Nama istri saya? padahal saya belum pernah kenalin kamu ke istri saya "


[ iya pak. sebenernya saya itu temen lama Bianca. saya baru tau kalo Bianca itu istri pak Rio Waktu pak Rio sakit dan masuk rumah sakit ]


" ohh, terus kenapa kamu ga pernah bilang ke saya? "


[ itu ga penting pak ]


Rio hanya mengangguk walau tak dapat dilihat alza.


" kalo kamu mau tau keadaan Bianca, kamu kesini aja "


[ ke rumah sakit maksudnya? ]


" iya "


[ baik pak, saya kesana ]


Rio memutuskan sambungan telepon itu.


"jadi selama ini alza tuh temen lama Bianca?" ucapnya.


ia mengangkat bahunya.


"Ntah lah. ga penting juga"


Rio berjalan masuk menuju kamar Bianca dan kembali duduk di samping Bianca.


Selama setengah jam, akhirnya Alza datang Juga membawa buah buahan.


Ia memberi satu keranjang buah buahan itu dan menyimpannya di meja nakas.


"Bianca koma karena Kecelakaan, ketabrak Truk besar. padahal keadaan dia waktu itu lagi hamil" ucap Rio.


"hamil?" tanya alza Dibalas anggukan Rio.


"waktu itu dia baru pulang dari supermarket untuk beli testpack, dia Juga cek di supermarket itu. Waktu di cek, ternyata positif. dia excited dan mau ngasih tau saya, tapi waktu dia lagi nyebrang jalan buat nyamperin taksi yang ada di sebrang, Truk ugal ugalan Dateng dan Nabrak Bianca."


"karena kejadian itu, kondisi Bianca sekarang koma, dia juga keguguran dan sembilan puluh persen kemungkinan dia ga bisa hamil" jelas Rio.


Matanya masih menampakkan kesedihan yang sangat amat dalam.


alza juga begitu.


setelah mendengar kondisi Bianca, dia juga menjadi sedih.


"tapi kondisi Bianca udah mulai membaik kan?" tanya alza.


Rio menggeleng.


"kondisi Bianca masih tetap kaya kondisi awal dia. ga ada perubahan sedikit pun" ucap Rio.


alza menunduk Sedih.


"pak, saya turut prihatin ya atas kondisi Bianca dan tentang bianca yang keguguran dan kemungkinan besar Ga bisa hamil lagi. Saya sedih banget denger ini, padahal kita itu temen Deket" ucap Alza.


Rio terdiam.


"za. saya Mau ngobrol sama kamu diluar, boleh ga?" ucap Rio.


"boleh pak" ucap Alza.


Rio berjalan terlebih dahulu keluar kamar Bianca, dan di ikuti oleh alza di belakangnya.


...----------------...