
Kubikel Indira yang berantakan membuat sang mood sang pemilik kubikel turun. Suara heghellsnya beradu dilantai disertai bunyi suara pintu terbuka
"Siapa yang taruh sneltcher di kubikel saya?!" Teriak Indira namun bawahan mereka masih saja diam tak bersuara sama sekali "Saya bilang siapa yang taruh sneltcher berantakan di kubikel saya?!"
Seorang perempuan rambut setengah bahu mengangkat tangan dan berdiri "Maaf mba, saya menaruh sneltcher di meja mba"
Indira mendekati wanita tersebut "Namamu siapa? Karyawan baru?"
Perempuan itu mengangguk "Baru hari ini saya masuk, nama saya Arini"
"Yang mendampingi kamu siapa?"
"Mba Mellisa" Jawabnya, Indira mengangguk dan mempersilahkannya duduk "Lain kali jika tidak tahu aturannya tanya yang lain ya" ucapnya lalu meninggalkan Arini.
Jumat paginya sukses membuat seluruh moodnya jelek, Indira mengetuk pintu Mellisa yang menjabat sebagai HRD kantornya. Tidak ada jawaban dari sang empunya ruangan maka Indira langsung membuka pintu Mellisa.
"Lo kalo punya anak baru kasih tau aturannya dong! Udah berapa kali gue ngomong ya Mel. Jangan sampe gue harus ngomong ke Mas Chad ya" Ucap Indira
Mellisa menarik sebelah alisnya tidak mengerti "Tunggu, gue gak ngerti maksud lo gimana. Lo dateng gebrak pintu ya, terus lo marah-marah sama gue ga jelas"
"Anak baru yang namanya Arini itu, anak baru lo kan?" Mellisa mengangguk "Terus?"
"Dia numpuk sneltcher berantakan di meja gue, isinya naskah! Gue udah bilang mas Chad, sama mba Primy ya gue ga suka orang numpuk sneltcher naskah berantakan dimeja gue!"
"Lo yang bener aja dong Rin, kerjaan gue banyak. Kalo numpuk nya kayak gitu materinya keselip atau beda gue mau bilang apa sama Bu Audy?!"
"LO KASIH TAU ATURANNYA GA SIH MEL?!" Teriak Indira hingga terdengar dari luar
"Setiap anak baru yang pendampingnya lo, semuanya ga bener! Bukan salah mereka tapi salah lo! Kalo lo mau jatuhin gue dari chef editor bukan gini caranya!"
Mellisa berdiri dari kursinya dan mendekati Indira "Iya gue mau jatuhin lo, jadi sekarang lo tau? Gue ga suka chef editor yang pegang Indira Owen, lo belaguk. Sok cari muka di depan direktur padahal lo ga bisa apa-apa"
"Sorry, gue bisa mecat lo kok. Gue ga pernah mau banyak omong, tapi gue rasa dari bukti yang selama ini gue dapet dari mas Chad sama mba Primy sudah cukup buat gue berani ngomong langsung sama Bu Audy, Selamat pagi" Ucap Indira dan membuka pintu
Semua karyawannya menatapnya bingung, sebagian lagi ada yang tengah bergosip membicarakan dirinya dan Arini yang tidak pernah berhenti bertengkar dalam ruangan.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian ga dibayar buat gosipin saya!" Teriak Indira lalu mereka kembali berkerja, 5 menit Indira berdiri untuk memantau mereka berkerja dirinya memasuki ruangannya
Indira melihat tulisan namanya serta jabatannya di depan meja kubikelnya
Perempuan itu terduduk di kursinya dan membuka ponselnya, memindahkan rekaman perdebatan dengan Arini ke dalam komputernya.
Tak berapa lama handphonenya menyala dan mengeluarkan notifikasi dari nomer yang tidak dikenalinya
08923278****: "Halo Indira, apa kabar"
Indira. : "Ini siapa?"
08923278**** : "Remmy Pramono, nanti malam ada acara?"
Indira merenyutkan keningnya, mencoba mengingat siapa iyu Remmy Pramono. Handphonenya kembali menyala
08923278**** : "Saya teman Ian, yang semalam ketemu"
Indira dengan cepat mengetik handphonenya "Oh iya, Ada apa?" tanyanya
08923278**** : "Ada acara?"
Indira. : "Tidak, Kenapa?"
08923278**** : "Nongkrong yuk, kantor kamu dimana biar aku jemput"
Indira. : "Gausah, nanti aku berangkat sendiri aja. Dimana?"
08923278**** : "Cafe kemarin aja ya, jam 8"
Indira. : "Baik berkabar aja kalo gitu"
Tidak ada jawaban lagi dari Remmy tapi sukses membuat hati Indira berdegup dengan keras dan cepat 'Inikah cinta?'
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
Next?
like yaa