
Hampir setengah jam Bianca menunggu Alza datang dan memberitahu kondisi Rio.
akhirnya Alza datang dengan tatapan lesu pada Bianca.
"gimana za? kondisi Rio gimana? dia baik baik aja kan?" tanya Bianca.
Alza tersenyum.
"pak Rio baik baik aja Bii" ucap Alza.
Bianca tersenyum.
"gw percaya dia bakal baik baik aja.. dia orang yang kuat" ucap Bianca.
Alza menganggu menangapi Nya.
"btw, kenapa Lo gak mau nyamperin dia? apa ada masalah?" tanya Alza.
Bianca menghela nafasnya.
"gw mau nenangin diri dulu" ucap Bianca.
alza mengangguk Mengerti.
"bii" ucap Alza.
Bianca menatap Alza Menangapi panggilannya.
Alza tersenyum.
"pasti Lo sayang banget ya sama Pak Rio" ucap Alza.
Bianca tersenyum.
"banget!! entah dari kapan, tapi rasanya Gw bener bener sayang dan gak mau kehilangan dia.. dia istimewa buat gw" ucap Bianca.
Alza tersenyum.
mereka mengobrol ngobrol hingga Larut malam.
•
"bii, gw pulang dulu ya" ucap Alza.
"iya za.. makasih ya udah nemenin gw disini" ucap Bianca.
Alza tersenyum dan mengangguk.
saat Alza ingin pergi, ia tiba tiba berbalik badan kembali.
"Lo gak Masuk? ini udah malem loh" ucap Alza.
"gw... bukan apa apa" ucap Bianca berbohong.
Alza menghela nafasnya.
ia kembali duduk di samping Bianca.
"ayo lah bii, kita ini pernah Deket dan gw kenal Lo.. Kalo Lo lagi ada masalah, Lo cerita ke gw ya" ucap Alza.
"gak, gapapa" ucap Bianca kembali berbohong.
"apa segitu besarnya Masalah Lo sampe Lo gak mau cerita ke gw?" tanya Alza.
Bianca menatap Alza.
Ia tersenyum.
"gak besar, cuman lumayan sakit aja buat diungkit" ucap Bianca.
Alza menghela nafasnya.
"Lo mau tinggal dimana Malem ini?" tanya Alza.
"gak tau.. mungkin sebaiknya bukan dirumah, dan bukan disini" ucap Bianca.
"mau tinggal di apartemen gw?" tanya Alza.
Bianca menatap Alza salah paham.
"m-maksud gw apartemen yang udah gak gw pake sekarang.. gw udah punya rumah sendiri, sedangkan apartemen kosong sekarang" ucap Alza.
"gak usah za.. Makasih udah nawarin, gw gak mau Rio salah paham" ucap Bianca.
"yaudah gapapa.. Kalo gitu mau gw Anter cari tempat tinggal?" tanya Alza.
"apa gak ngerepotin?" tanya Bianca.
"engga, lagi pula Lo cewe, dan ini Udah malem juga.. gw gak mau Lo kenapa Napa" ucap Alza.
Bianca tersenyum.
ia pun mengangguk menyetujui tawaran Alza.
mereka akhirnya pergi dari rumah sakit dan mencari tempat tinggal sementara Bianca.
..
Bianca akhirnya memutuskan untuk tinggal di hotel yang tak jauh dari rumah sakit itu.
"makasih ya za udah nganterin gw" ucap Bianca.
"santai aja sama gw, kalo Lo ada apa apa telfon gw aja ya.. masih nyimpen nomor gw kan?" ucap Alza.
Bianca mengangguk.
"kalo gitu gw pulang dulu ya" pamit Alza.
"hati hati ya" ucap Bianca.
alza pun pergi.
Bianca juga memilih untuk langsung menuju kamar hotelnya.
Ia merebahkan dirinya.
"apa yang gw lakuin ini Gak berlebihan? gw khawatir sama Rio, tapi gw takut kesana.. gw gak mau hal tadi terjadi lgi, gw takut rasa cemburu gw makin besar" ucap Bianca dengan dirinya sendiri.
Bianca memilih menjernihkan pikirannya.
Ia tak mau terlalu larut dalam masalah nya sekarang.
Ia ingin mengganti bajunya, namun ia lupa bahwa ia tak membawa baju.
Bianca menghela nafasnya.
"besok aja deh gw kerumah bawa baju" ucap Bianca.
Ia memutuskan untuk tak Mengganti baju nya malam ini.
..
Pagi hari yang cerah.
Bianca terbangun.
ia tampak lesu hari ini.
Malam tadi ia tak bisa tertidur nyenyak karena tubuhnya merasa tak nyaman dengan pakaian yang tak ia ganti.
"kayanya gw harus Ke rumah sekarang dan bawa beberapa baju" ucap Bianca.
Bianca pun mencuci mukanya dan menggosok gigi.
setelah itu bianca Cepat cepat keluar dari kamar nya.
Saat di lobby, fokus nya tiba tiba teralih pada restaurant hotel itu.
Ia memegang perutnya yang keroncongan.
"nanti aja deh, gw harus pulang dulu untuk bawa baju" ucap Bianca.
Bianca pun melanjutkan Perjalanannya menuju rumahnya.
•
butuh beberapa menit untuk sampai di rumah, dan akhirnya ia sampai di depan gerbang rumah.
Bianca menghela nafas lega.
"setelah ngambil baju, gw bisa balik ke hotel dan makan" ucap Bianca tersenyum.
Ia pun berjalan masuk ke gerbang rumah.
Saat ia Ingin masuk ke dalam rumah, ia Bingung karena pintu rumah tak terkunci.
"apa tadi malem pas nganter Rio ke rumah sakit gw lupa Ngunci ya?!" ucap Bianca berusaha mengingat.
"Ntah lah" ucap Bianca tak peduli.
Ia membuka pintunya.
Tiba tiba ia terdiam saat Melihat 2 orang sedang berada di dalam Rumah itu.
Kedua nya Menoleh saat suara pintu dibuka.
"Bianca" ucap seseorang itu.
Bianca hanya diam tercengang.
Tatapannya Beralih pada gandengan tangan Satu dari Mereka berdua yang menggandeng tangan Seseorang yang memanggil Bianca tadi. Rio.
Bianca tak berkata apapun, dan Ia berlari pergi keluar.
Rio mengejarnya dan menahannya.
"tunggu bii" ucap Rio menahan Bianca saat di luar pagar rumah.
Bianca membalikkan badannya, namun ia melepas genggaman tangan Rio di lengannya.
"lo dari mana? terus kenapa Lo gak ada di rumah sakit?" tanya Rio.
"maafin gw, gw gak ada di sana.. tapi masih ada seseorang yang sayang sama lo disana kan?! seseorang yang paling khawatirin Lo dari pada gw, seseorang yang mungkin bakal lebih Rawat Lo dari pada gw.. oh iya, apa mungkin Lo juga masih sayang sama seseorang itu?!" ucap Bianca.
"bii, maksud Lo apa?" ucap Rio.
"Luna itu mungkin masih sayang sama Lo Rio... dan Kemungkinan Besar, Lo juga masih sayang sama dia, karena Luna itu cinta pertama lo" ucap Bianca.
"bii, lo salah paham" ucap Rio.
"Lo tau, gw cemburu disaat liat Luna Genggam tangan Lo dan ngelus pipi Lo kemarin malem.. gw juga Cemburu liat Dia gandeng tangan Lo tadi, karena Biasanya cuman gw yang Ngelakuin itu ke lo" ucap Bianca.
"gw tau gw egois, tapi gw gak mau liat Lo diperlakuin kaya gitu sama orang lain selain gw.. gw cemburu" ucap Bianca.
Rio menatap tulus Bianca.
Ia mengelus pipi Bianca.
"sayang.. percaya ya sama Rio, Rio gak bakal nge khianatin Bianca.. Bianca gak percaya sama Rio hah?.. Bianca tau kan Rio sayang banget sama Bianca, Rio gak mungkin ngelakuin itu sama Bianca.. Rio sayanggg banget sama Bianca lebih dari apapun" ucap Rio.
Mendengar kata kata Rio itu, membuat Bianca tak bisa membendung air matanya.
Bianca tertunduk dan menangis.
Rio tersenyum.
Ia memeluk Bianca dan mengelus kepalanya menenangkan.
"nangis yang Lama sampe Lo tenang. rio bakal terus meluk Lo kaya gini" ucap Rio.
Bianca sudah tak bisa menahan dirinya.
ia membalas pelukan Rio dengan erat dan air mata nya langsung mengalir deras.
...----------------...