UNTITLED

UNTITLED
kami



Bianca masih tak bosan memainkan Rambut lelaki nya itu.


Beberapa detik kemudian, Rio bergerak mengeratkan Pelukannya pada pinggang ramping Bianca.


"Rio, bangunn" ucap Bianca masih dengan aktivitas yang sama. Memainkan Rambut Rio.


Rio tak menjawab nya, mungkin ia memang masih tertidur.


"Gw Mau beresin barang barang" ucap Bianca namun masih tetap memainkan rambut Rio.


"mainin rambut gw aja duluu" ucap Rio yang ternyata sudah bangun.


Tangan Bianca terhenti.


"Lo udah bangun dari tadi?" tanya Bianca.


Rio menatap wajah sang istri lekat juga senyuman yang ia pasang di wajah nya.


ia mengangguk.


entah kenapa, rasanya jantung Bianca berhenti berdetak.


mendapat tatapan lekat dari kedua mata indah Rio di tambah senyuman manis dari bibir manis Rio Membuat Bianca tak menyadari bahwa dirinya kini sedang speechless.


Dengan refleks, Bianca menutup pandangannya dengan kedua telapak tangannya.


Rio menatap heran, namun ia sedikit tertawa tipis karena sikap Menggemaskan Bianca itu.


"Lo kenapa?" tanya Rio.


"Lo ga usah natap gw kaya gitu bisa ga sih?!" ucap Bianca.


Rio terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ia tertawa kecil.


Ia menempelkan Telinga nya tepat di dada Bianca.


terdengar suara detak jantung yang begitu cepat berdetak.


Rio kembali pada posisinya.


ia menarik pergelangan tangan Bianca, dan menempelkan telapak tangan Bianca di kepala nya.


Lalu ia menuntun tangan Bianca mengelus kepala nya.


Ia tersenyum.


Beberapa detik Rio menuntun Pergerakan tangan Bianca untuk mengelus kepalanya, kini Tangan Bianca sudah Bergerak sendiri mengelus tulus kepala Rio.


Rio melepas genggamannya pada pergelangan tangan Bianca, dan telapak tangannya ia pakai untuk mengelus kepala Bianca, namun hanya sebentar.


setelah itu tangan nya kembali memeluk pinggang ramping Bianca.


Rio menatap wajah cantik milik wanita nya dengan senyuman.


"ck. Lo cantik banget sih Bii" ucap Rio.


Bianca mengulum bibirnya menyembunyikan senyuman di bibirnya, namun sebesar apapun niat nya untuk menyembunyikan senyuman nya, ia tidak akan pernah bisa menyembunyikan kesalah tingkahan nya itu.


Bianca mengacak acak rambut Rio dengan gemas nya.


"gw mau bilang Lo ganteng juga, tapi gw gengsi" ucap Bianca.


Rio tertawa kecil.


"gengsi nya jangan kegedean, ntar nyesel" ucap Rio.


"nyesel kenapa?" tanya Bianca.


"iya kalo gengsi Lo terlalu gede, Lo bakal susah banget buat jujur sama gw. kaya misalnya Dulu Lo terlalu gengsi buat bilang sayang ke gw. kalo misalnya dulu gw ga sayang juga sama Lo, Lo bakal kehilangan gw. Lo bakal nyesel" ucap Rio.


"ko bawa bawa masa lalu sih. terus kenapa bilang kaya gitu?! Lo mau bikin gw takut?" ucap Bianca.


"kan cuman semisalnya sayang. lagian sekarang gw sama Lo udah jadi kita. bentar lagi jadi kami" ucap Rio dengan senyum yang terukir di wajah nya.


"kami?" tanya Bianca bingung.


"iya.. aku, kamu, anak kita " ucap Rio.


..


Bianca dan Rio kini sedang asik mengobrol.


masih dengan tempat dan posisi yang sama seperti tadi.


"bii. kalo ternyata besok Lo mual mual, menurut Lo itu kenapa?" tanya Rio.


"masuk angin" ucap Bianca singkat.


Rio terdiam.


"kemungkinan lain" ucap Rio.


"salah makan ?" ucap Bianca.


"yang kemungkinan nya lebih besar" ucap Rio.


Bianca menatap Rio dengan teliti.


"liat muka Lo" ucap Bianca.


Rio cemberut.


" Lo ga asik" ucap Rio membuang mukanya.


Bianca tertawa kecil.


"emang nya Lo yakin besok gw Bakal hamil?" Tanya Bianca.


Rio kembali menatap Bianca.


"yakin aja kalo malem ini 15 jam" ucap Rio.


"kemungkinan besar besok nya gw bakal pingsan, bukan mual mual" ucap Bianca Menatap sinis Rio.


Rio tertawa gemas mendapat tatapan sinis dari wanita nya.


"gemess bangett sihh cewe gw" ucap Rio mencubit pipi Bianca gemas.


"gw bercanda. tapi gw serius soal pertanyaan gw yang pertama" ucap Rio.


Bianca terdiam.


"apa yang bikin Lo yakin kalo gw bakal hamil secepatnya?" tanya Bianca.


"doa mamah sama bunda" ucap Rio.


"sebelum Kita honeymoon kesini kan Mamah sama bunda doain kita cepet punya anak. gw sih yakin kalo doa ibu tuh bakal cepet di kabulin sama tuhan" ucap Rio.


Bianca tersenyum.


"lagi Deket sama tuhan?" ucap Bianca.


"dih, gw Deket sama tuhan setiap saat. lo nya aja yang ga tau" ucap Rio.


Bianca mengangguk.


"iya deh terserah Lo" ucap Bianca.


"bii.. ayo ke kamar" ajak Rio.


Pikiran Bianca menjadi negatif.


"k-ke kamar ngapain?" tanya Bianca.


Rio mengetahui bahwa Bianca sedang berfikir negatif.


ia tersenyum.


Rio berdiri dan menggengam tangan Bianca. lalu ia menariknya.


"15 jam" ucap Rio.


Kaki Bianca terhenti disana.


"Lo jangan macem macem Rio! Lo mau gw pingsan?!" ucap Bianca.


"ga mau. tapi gw pengen punya baby kecil di perut lo" ucap Rio.


"ga gini caranya. tuhan udah atur Semua buat manusia, termasuk anak buat kita.. kita tinggal tunggu aja" ucap Bianca.


" semuanya emang udah ada yang ngatur, tapi kita sebagai manusia wajib usaha" ucap Rio.


Di kamar.


Rio mendorong Bianca ke atas kasur membuat Bianca terbaring disana.


Rio tertawa melihat ketakutan di wajah Bianca.


ia ikut merebahkan dirinya di samping tubuh Bianca.


"gw boong. jangan takut kaya gitu dongg" ucap Rio mengelus kepala Bianca.


Ia memeluk pinggang ramping Bianca, dan menyembunyikan wajah Bianca di dada bidangnya.


"Lo mau tidur?" tanya Bianca.


"masih jam tujuh. lagian gw baru aja bangun jam Empat kan" ucap Rio.


Bianca mengangguk.


..


"Lo ga ngantuk bii?" tanya Rio yang tangan nya masih mengelus kepala Bianca.


"engga" ucap Bianca juga dengan gelengan kepala nya.


Kini kedua insan itu sedang duduk di balkon kamar villa dari jam delapan malam tadi, sampai sekarang.. jam sebelas malam.


"udah jam sebelas, tidur yuk.. besok kan pulang" ucap Rio.


"Lo udah ngantuk? yaudah tidur aja duluan" ucap Bianca.


Rio menggelengkan kepala nya.


"gw belum ngantuk, tapi Lo harus tidur bii, udah malem. Ga baik cewe tidur malem malem" ucap Rio.


Bianca mendongak menatap Rio dengan senyuman Tipis nya.


"waktu itu Lo yang Buat gw tidur malem malem" ucap Bianca.


Rio menatap bingung.


"kapan?" tanya Rio.


"hari pertama waktu di apart gw, hari kedua di kamar ini" ucap Bianca.


Rio Menyadari nya dan tertawa.


"Kan beda tujuan" ucap Rio.


"Lo boleh tidur malem malem kalo ada tujuan, lebih tepatnya kalo itu ulah gw. tapi gw ga izinin Lo tidur malem malem kalo ga ada tujuan kaya gini.. kecuali kalo malem ini Lo mau bikin gw berulah" ucap Rio.


Bianca tertawa tipis.


"udah ayo tidur aja kalo gitu" ucap Bianca menarik Rio masuk ke dalam Kamar.


mereka berdua merebahkan dirinya di kasur seperti biasa. Rio menyembunyikan tubuh Bianca Dalam dekapannya dan Bianca memeluk Pinggang Rio juga menyembunyikan Wajahnya di dada bidang Rio.


Butuh waktu sepuluh menit hingga akhirnya mereka tertidur dalam nyaman nya dekapan masing masing dari mereka.


...----------------...