
Sore ini sepulang kantor, Indira berencana kumpul dengan teman-temannya pada salah satu mall di tengah kota. Indira hanya mengenakan kemeja biru muda dengan celana kerjanya, namun rambut pendeknya yang bergelombang membuat dirinya sudah terlihat segar walaupun belum mandi. Sati, datang bersama Indira, menyusul Primy, Andien, dan Bianca yang sudah menunggu mereka di area food-court. Seperti biasa, Sati memilih untuk duduk di meja pilihannya dan memaksa kelima dara itu mengikutinya. Mereka duduk di samping kaca besar dan berhadapan eskalator yang ramai dengan lalu lintas pengunjung.
"Jadi lo ajak kita kesini mau ngapain sih mba?" Tanya Andien
"Pesen makanan aja dulu Dien, nanti gue yang bayar" Jawaban Primy membuat Bianca menggeleng "Gila sih lo! Tumben-tumbenan makanan lo yang bayar, ada apaan?"
"Lo pengelapan uang kantor ya mbak?" Tanya Indira membuat Sati, Thalita, Andien, dan Bianca tertawa
"Sialan lo, enggak lah. Ada ahlak gue emangnya gitu? Langsung di PHK gue sama Bu Audy"
"Ya soalnya kita bingung sih mbak, lo yang biasanya kalo hangout gak pernah mau beliin makanan. Kok ini tumben, wajar aja kalo mbak Indira tanya" Jawab Thalita
"Ya ga gitu juga, pesen aja dulu makanannya" ucap Primy
"Rembesan kantor ga nih mbak?" Tanya Bianca
"Allhamdulilah..." Jawab Primy, Indira menggeleng "Alhamdulillah, dirembes?" tanyanya
"Allhamdulilah..."
"Apa sih? Penasaran gue, heran" celetuk Sati
"Alhamdulillah, enggak!" Jawab Primy
Sati menghela napasnya, mengetuk-ngetukan jarinya di meja "Kirain, dirembes. Baru mau batin, kok tumben banget"
"Sati.. Sati, kok lo pinter banget sih? Gak sadar kalo di samping lo ada bagian keuangan?" Tanya Bianca, Sati menengok ke kiri dan ke kanan "Siapa sih? Perasaan gak ada Lena. Lagian ini kan di mall"
"Andien Permadi, bagian keuangan" celetuk Indira. Sati menepuk keningnya "Oh iyaa... Duh lupa, maaf ya mba"
"Kaga, gak gue maafin" Jawab Andien membuat ke empat dara yang lain tertawa "****** lo Sat" ujar Thalita
Dari kejauhan, Indira melihat seseorang yang dia kenal. Pria itu mengenakan kaus setengah lengan berwarna biru tua dan celana jeans berwarna putih. Dia tidak sendirian, namun bersama beberapa teman yang lain. Jari-jarinya gemetar, perlahan tapi pasti pria yang dikenalinya berjalan mendekati cafe yang sedang disinggahinya saat ini.
"Ra..." Panggil Primy, Indira tersadar dari lamunannya "Eh iya kenapa?"
"Lo tadi denger gak sih kita ngobrolin tentang apa?" Tanya Bianca
"Udah gue duga, nih anak pasti ga nyambung sama omongan gue. Gue tadi ngomong kalo gue hamil!" Ucap Primy
Pria yang dilihatnya tadi sekarang berjalan ke arahnya, benar dugaan Indira. Dia adalah Remmy Pramono, pria itu mendatangi meja Indira
"Halo, kita ketemu lagi Ra..." Sapa Remmy
Indira menggaruk lehernya yang tidak merasa gatal "H-halo Rem"
"Saya kira kamu ga ada disini, beruntung banget saya bisa ketemu. Ini temanmu ya?"
Indira menegukkan salvanya "Iya Rem, teman kantor" Remmy mengangguk
"Hangout?"
"Iya"
"Gabung aja sama kita" Ucap pria yang baru datang pria itu mengenakan kaus bergambar metal, celana jeans selutut warna hitam, dan mengenakan jaket kulit berwarna coklat dengan kacamata bentuk persegi yang bertengger di matanya "Halo kenalin gue Fardian, temennya orang yang disebelah gue" teman-teman Indira mulai berbincang dengan Fardian. Tetapi Indira berbicara dengan Remmy
"Fardian emang gitu, penebar pesona. Padahal teman kita masih nunggu tuh di luar" Indira menengok ke arah pintu masuk dan benar saja ada tiga orang pria yang menunggunya disana
"Nonton yuk" Ajak Remmy, seketika pipi Indira merona "Saya ga bisa hari ini. Mereka udah minta ngumpul, kalo ditinggal nanti mereka ngamuk"
"Jadi kapan?"
"Sabtu depan, waktunya nanti saya kasih kabar" Jawab Indira
"Jemput dirumah?" Indira mengangguk
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
Halo?
Next?