UNTITLED

UNTITLED
demam



pagi hari kemudian.


"WOYY BANGUNNN! dasar pemalesan! " ucap Rio pada Bianca yang masih.


"ni orang kenapa kaga bangun² sih!" ucap Rio heran+kesal.


Rio memegang kening Bianca.


Betapa kagetnya Rio, ketika merasakan suhu badan Bianca.


"Astaga.. panas banget" ucap Rio yang lngsung menjauhkan tangannya dari kening Bianca.


" dia pasti demam!" ucap Rio yang langsung menggendong Bianca ke kasur.


Dengn cepat, Rio menelfon dokter untuk mengecek Bianca.


tak lama kemudian, dokter datang dan langsung memeriksa Bianca.


"gimana dok? dia kenapa? " tanya Rio.


"dia demam, dan sekarang dia pingsan.. apa tdi malam dia tidur dilantai? " tanya dokter.


"iya" ucap Rio.


"dia tak kuat dingin, sebaiknya untuk lain kali jangan biarkan dia tidur di lantai ya" ucap Dokter.


Rio hanya mendengarkan Kata² dokter smbil menganggukinya.


"saya membawakan obat untuk dia minum setelah makan, obat ini diminum 1 hari 2 kali setelah makan" ucap Dokter itu menjelaskan dan langsung memberi obat itu pada Rio.


"kalo begitu saya pergi dulu ya" ucap Dokter itu yang langsung pergi.


.


.


.


Rio mendekat pada Bianca dan menatap Bianca.


"hadehh, ni anak nyusahin banget sih! " ucap Rio kesal.


Rio langsung keluar dari kamarnya.


Tak lama kemudian, Bianca terbangun sambil memegang keningnya karena kepalanya pusing.


"aww.. pusing banget.. kok kening aku panas banget ya" ucap Bianca heran.


Bianca bangun dan ingin duduk, tetapi Bianca langsung merasa pusing sekali hingga dia kembali terlentang.


Tak lama kemudian, Rio datang.


Rio menghampiri Bianca yang sedang pusing.


"nih" ucap Rio sembari memberi segelas air mineral.


Bianca dibantu Rio untuk duduk, lalu setelah itu Bianca meminum air mineral yang dibawakan oleh Rio.


Rio juga memberi 1 kapsul obat demam pada Bianca.


Bianca tak tau itu kapsul apa.


"itu apa? lo mau racun in gw? " ucap Bianca negative thinking.


"apaan sih lo! apa untungnya buat gw ngeracunin lo! " ucap Rio.


"lo bisa aja racun in gw, terus ntar gw mati, terus lo jual organ gw! " ucap Bianca yang menjadi takut dengan kata²nya sendiri.


"jangan terlalu negative sama gw!.. ini kapsul obat! lo kan demam, gw dikasih ini sama dokter dan dokter nyuruh lo minum ini setelah makan!" ucap Rio.


"nih gw udh pesenin makanan, lo tinggal makan habis itu minum obat nya! jangan nyusahin!" ucap Rio smbil memberi makanan yang dia beli online.


Bianca mengambil makanan yang Rio beri padanya dan memakannya.


.


.


.


.


selesai makan, Bianca meminum kapsul obat itu.


setelah itu Rio pergi menuju dapur untuk menyimpan piring dan gelas kotor bekas Bianca.


.


.


.


.


setelah semua beres, tiba² Tamara datang sambil berteriak memanggil nama Rio.


"RIOOO SAYANGG" teriak Tamara dari lantai bawah yang membuat Bianca risih.


"itu pacar lo berisik banget sih! gw lagi demam, makin pusing denger tu orang" ucap Bianca kesal dan risih.


CKLEK..


Pintu kamar dibuka oleh Bianca.


"sayangg.. kok kamu belum siap²,kita kan mau breakfast bareng di restoran mewah" ucap Tamara langsung mengikat lengannya pada lengan Rio.


"oh iya, kmu kok berdua²an sama dia sih?!" ucap Tamara menatap sinis Bianca.


"Dia lagi demam, makannya aku harus ngurus dia" ucap Rio.


"alah, paling pura² doang.. lagi pula kenapa kamu care banget sama dia, apa jngan² kamu suka ya sama dia?! " ucap Tamara dengan tatapan tajamnya ada Bianca.


"hah? haha gak mungkin lah, gila kali kamu! aku gak suka sama dia! aku juga gak mau kali ngerawat dia, dia nyusahin bisanya" ucap Rio.


"ya klo gitu kenapa lo dari tadi rela bolak balik ngambil minum dan makanan buat gw.. lo juga rela hamburin uang lo buat beli makanan buat gw.. lo juga nyuruh gw minum obat.. kayanya lo khawatir sama gw.. apa jangan² lo udh sayang sama gw? " ucap Bianca ingin memanas²i Tamara.


Rio hanya diam sambil memelototi Bianca karena dia tau tujuan Bianca, sedangkan Bianca hnya meladeni nya dengan smirk.


"haha.. lo terlalu pd jdi orang! Rio itu gak perhatian sama lo, dia cuman terpaksa karena ini suruhan mamahnya.. " ucap Tamara.


"lo gak bisa manas²in gw putri cantik!" ucap Tamara smirk.


senyuman yang Bianca kira kemenangan, kini membuyar seketika.


"lo gak akan menang dari gw Bianca" batin Tamara dengan tatapan Tajam pada Bianca.


"awas aja lo Tamara! lo emang bener² orang licik!! " batin Bianca dengan tatapan tajamnya kembali pada Tamara.


"yaudah, aku siap² dulu ya ra" ucap Rio pada Tamara sambil mengelus kepala Tamara.


"iya sayang, aku tunggu di bawah ya, soalnya disini pemandangannya gak bagus" ucap Tamara menyindir Bianca.


Bianca tak menghiraukan nya.


.


.


.


.


akhirnya Tamara pun pergi dari kamar itu.


Bianca merasa damai karena tak ada si nenek sihir itu.


Tak lama kemudian, Rio keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih.


"iya dasar bawel" ucap Bianca pada Rio yang sudah jauh.


.


.


.


.


.


Tamara dan Rio pun akhirnya pergi.


"Damai sekali! ' ucap Bianca yang kembali rebahan dan tertidur.


.


.


.


.


.


.


siang hari kemudian.


Bianca terbangun karena ada yang mengetuk pintu Rumah.


Bianca yang sudah enakan langsung berjalan menuju pintu rumah untuk membukakan pintu dan melihat siapa itu.


.


.


.


.


sesampainya didepan pintu rumah, Bianca membukanya.


Cklek..


Bianca melihat di balik pintu, ternyata itu adalah Luna.


" Luna? kok kamu kesini? " tanya Bianca.


" kamu lagi demam ya?" ucap Luna.


"tau dari mana? " tanya Bianca heran.


"keliatan kali dari wajah kamu, kamu pucet" ucap Luna.


Bianca pun mengajak Luna untuk masuk kedalam rumah, dan mereka berdua pun duduk di sofa.


"kamu blom minum obat? Astaga, Rio gak Beliin kamu obat?! bener² yaa tu orang!! " ucap Luna kesal.


"engga.. Rio tdi pagi udh ngasih aku obat, terus ngasih makan juga kok" ucap Bianca.


"beneran?" tanya Luna yang masih ragu.


Bianca mengangguk membenarkan perkataan Luna.


"emm, oke, berarti kamu belum makan Siang kan? " ucap Luna.


"iya" ucap Bianca.


"yaudah kamu duduk disini, aku mau masak dulu oke?! " ucap Luna yang langsung pergi menuju dapur.


"eh tapi kan-" ucap Bianca terpotong karena Luna yang sudah mulai memasak.


"kamu tunggu disitu aja ya" ucap Luna.


.


.


.


.


.


selesai Luna memasak, Luna menyajikannya di meja depan Bianca.


"nih.. kamu makan, aku mau ambil obat dulu" ucap Luna.


"oh iya, obatnya dimana? " tanya Luna.


"di kamar" ucap Bianca sambil menunjukan arahnya.


"oke" ucap Luna yng lngsung pergi menuju kamar untuk mengambil obat untuk Bianca.


.


.


.


.


.


tak lama kemudian, Luna turun lagi dengan membawa kapsul obat.


Bianca sudah menghabiskan makanan itu setengahnya.


.


.


.


.


.


selesai makan, Luna memberi satu kapsul obat, dan Bianca meminumnya.


.


.


.


.


mereka mengobrol² soal rencana mereka.


.


.


.


.


.


(like, komen, vote yaa.. biar author makin semangat up nya)