
"bro, Lo yakin gak mau pulang dan cari istri Lo?" tanya Nando, salah satu teman tongkrongan Rio.
"kalo gw cari dia dan ketemu dia, dia malah bakal lebih maksa gw buat cerain dia. gw gak bakalan mau!" ucap Rio.
"Rio. menurut gw, Lo itu harus selesain masalah Lo sama Bianca. 5 bulan Lo gak ketemu dia, sekali nya ketemu Lo malah Pergi dan kalian kepisah lagi selama 1 bulan. terus kapan kalian bakal nyelesain masalah ini?" ucap Doni, Teman tongkrongan Rio yang lain.
"gw setuju sama Lo Don. Setidak nya kalian bicara baik baik, jangan malah lari dari masalah" ucap Nando.
"iya gw tau. gw bukan lari dari Masalah, gw cuman Bingung mulai dari mana, gw harus apa dulu sekarang. Yang gw pikir sekarang itu cuman masalah alesan Bianca minta cerai. kalo seandainya Bianca kasih tau alesan sebener nya ke gw tentang dia minta cerai ke gw, mungkin sekarang gw bisa aja lagi pertimbangan itu, atau mungkin sekarang gw lagi mohon mohon supaya gw dan dia gak cerai" ucap Rio.
"emang nya dia ngomong apa pas Lo tanya Alesan dia minta cerai?" tanya Doni.
"dia bilang gak cinta sama gw" ucap Rio.
"terus apa yang bikin Lo gak yakin sama Alesan itu?" tanya Doni lagi.
"Tatapan Dia tiap pagi, gandengan dia tiap siang, dan Pelukan dia tiap malem. senyuman dia yang selalu ada tiap waktu, semua itu yang bikin gw gak yakin. Semua itu lebih dari cukup buat buktiin kalo alesan Bianca Gak bisa gw percaya" ucap Rio.
Doni menghela nafas nya.
"ada lagi ?" tanya Doni.
"ungkapan sayang dia buat gw, itu juga yang bikin gw gak yakin" ucap Rio.
Doni menatap Nando.
"yaudah, apa yang harus kita bantu ?" tanya Nando.
"gak ada. Gw cuman Butuh waktu Aja Buat temuin dia" ucap Rio.
Nando Mengangguk mengerti.
"iya kita ngerti kok. Gw doain, semoga Masalah Lo ini Bisa cepet kelar, dan Lo sama Bianca bisa Baikan habis itu Kalian Punya Dede bayi" ucap Nando.
Doni menatap Nando memelototi nya.
Rio hanya tertawa kecil.
"Oh iya tentang itu, tapi kenapa sampe sekarang kalian belum Punya anak?" tanya Nando.
"do, mulut Lo keterlaluan ya?!!" ucap Doni menepuk bibir Nando.
"kita belum pernah ngelakuin" ucap Rio.
"hah?!" ucap Nando kaget.
sedangkan Doni hanya tercengang Bingung dan heran.
"kenapa?" tanya Doni yang juga menjadi penasaran.
"dia nya gak mau, belum siap kata nya" ucap Rio.
"kalo seandainya kalian beneran Cerai," ucap Nando memberhentikan omongannya.
"Lo gak bakalan dapet surga nya Kenikmatan dong" bisik Nando.
"gw pastiin Perceraian itu gak bakal terjadi. Kalo seandainya Emang harus, gw bakal minta hak gw dulu sebelum Bener bener cerai" ucap Rio.
"kalo Lo minta itu sebelum cerai, kayanya kalian gak bakalan cerai secepat nya" ucap Doni.
"emang nya kenapa?" tanya Nando polos.
Doni menghela nafasnya jengkel dengan Nando.
"Lo pikir sendiri kek pake Logika lo. mana mungkin gw jelasin detail" ucap Doni.
"kalo gitu gw bakal minta itu Satu hari sebelum dia minta cerai sama gw " ucap Rio.
Doni tertawa.
"bagus juga ide Lo" ucap Doni.
Rio tertawa kecil.
mereka mengobrol hinggap larut malam.
..
malam sudah semakin larut.
"Rio, Lo malem ini mau tidur dimana? di markas ini lagi?" tanya Doni.
"ga tau gw" ucap Rio.
"mau nginep di rumah gw?" tanya Nando.
Doni memukul lengan Nando.
"Lo kaya gak tau Rio aja. dia gak bakalan mau Tinggal berdua sama yang se gender" ucap Doni.
"oh iya juga, gw lupa" ucap Nando.
"Rio tuh kaya, dia bisa Tidur di hotel atau apartemen malem ini" ucap Doni.
"bagus juga ide Lo, tadinya gw gak kepikiran" ucap Rio.
Doni mengangguk.
"yaudah sana kalo Lo semua mau balik, gw sih mau jalan jalan dulu keliling kota" ucap Rio.
"mau nyari Bianca?" tanya Nando.
"engga, gw gak mau Pikiran gw terlalu penuh tentang Bianca, otak gw butuh refreshing" ucap Rio.
Doni menepuk bahu Rio.
"yaudah Kalo gitu, kita duluan ya" ucap Doni.
Rio mengangguk.
Doni dan Nando pun pergi dari markas itu.
Rio menghela nafasnya lega.
Ia sudah lama tak bertemu dengan Nando dan Doni karena Ia sibuk dengan Bianca, namun Nando dan Doni masih baik kepada nya.
Rio sangat beruntung berteman dengan mereka.
1 bulan ini, hanya Mereka yang bisa menjadi teman curhat dan selalu membantu nya.
Setelah itu, Rio juga pergi dari markas, lalu Berjalan jalan berkeliling kota dengan mobil nya yang ia bawa.
Diperjalanan, di benak nya tiba tiba terfikir kan Bianca.
benak nya menyuruh nya mencari Bianca, namun Rio menghentikan Fikirannya itu.
"gw gak mau cari Bianca sekarang. gw takut dia nuntut tentang perceraian itu lagi!" ucap Rio.
Rio membuang Fikirannya itu, lalu Kembali memfokuskan dirinya pada perjalanan nya.
Saat di perjalanan, ia merasa sangat lelah.
ia memutuskan mencari apartement terdekat untuk beristirahat.
ia mendapatkan apartement saat sedang diperjalanan.
Ia masuk dan memarkirkan mobil nya di parkiran basement.
setelah itu ia masuk menuju lobby dan menyewa 1 kamar apart.
setelah itu ia langsung menuju kamar apart nya.
Sesampainya di kamar apart, Ia membaringkan dirinya dan menghela nafas lelah.
Ia bangun dari posisi baring nya, lalu membuka pakaiannya, dan menggantinya dengan pakaian yang ada di tas yang ia bawa dari mobil.
itu adalah baju baju baru nya Karena ia malas kembali pulang ke rumah.
setelah Mengganti baju nya, Ia berdiri di depan kaca besar yang langsung menunjukan Pemandangan Indah kota Jakarta, dan gedung gedung tinggi yang Sama seperti Gedung apartement nya ini.
Ia bergiliran semua gedung.
"Lo tinggal di mana bii? di gedung yang itu? atau yang itu? atau yang itu?" tanya nya Sendiri sambil menunjuk gedung gedung itu.
Rio menghela nafasnya.
"gw berharap kita Bisa papasan di jalan suatu saat nanti. tapi gw takut kalo Lo malah nagih perceraian itu" ucap Rio.
Rio menghapus semua pikirannya tentang Bianca, lalu berjalan Menuju kasur.
Ia merebahkan diri nya disana.
Rio meraba Kasur sebelah nya.
"biasanya kasur samping gw ada Lo, tapi selama 6 bulan ini kita gak sekasur. apa Lo gak kangen sama masa masa itu? Lo gak kangen pelukan Gw setiap malem buat Lo?.. Apa emang cuman gw doang yang kangen masa masa itu?" ucap Nya.
Rio menghela nafas nya.
kali ini benar benar mau menghapus pikirannya tentang Bianca.
Setelah itu, ia menidurkan diri nya dengan tenang.
...----------------...