UNTITLED

UNTITLED
sambutan



Kedua lelaki itu duduk di kursi taman rumah sakit sembari sedikit mengobrol.


"za, hubungan Lo sama Bianca tuh kaya gimana sih?" tanya Rio.


"emm biasa aja sih kaya sahabat pada umum nya, cuman ya Bianca jarang mau terbuka sama gue, kecuali kalo itu masalah yang udah ga bisa dia Tampung sendiri"


"gue kadang selalu bilang ke dia kalo masalah tuh ga boleh di pendam sendiri, tapi dia selalu Bantah. Dia ga pernah mau cerita ke gue. padahal dia bilang dia anggap gue sebagai sahabatnya, tapi disisi lain dia selalu buat gue ngerasa kalo gue bukan sahabatnya" ucap Alza.


Rio mengangguk.


"gue tau Lo pernah punya perasaan lebih sama Bianca" ucapan Rio membuat Alza membungkam.


"benerkan za?"


Alza terdiam sebelum akhirnya ia menjawab.


"iya pernah, Tapi dulu. dulu sebelum Bianca ketemu Lo" ucap Alza.


"perasaan gue berhenti sampai titik dimana Gue tau kalo Ternyata Bianca pindah ke Jakarta karena Nikah sama seorang anak pengusaha besar" ucap Alza.


Alza menunduk.


"gue sedih. Lebih tepatnya sedih karena Bianca ga pernah cerita soal dia yang Ternyata bakal nikah" ucap Alza.


Rio terdiam.


"jadi Bianca ga cerita soal pernikahan nya?" tanya Rio.


Alza mengangguk.


Rio menepuk Pundak Alza.


"maafin gue ya, gue ngerebut Bianca dari Lo" ucap Rio.


Alza menggeleng.


"apasih pak, engga ko. gue sama bianca kan cuman sahabat, ga lebih. dan perasaan gue yang dulu cuman sebatas perasaan biasa aja. mungkin karena sering ketemu, buktinya setelah Bianca pergi dan kita lostcontact gue udah ga ngerasain perasaan itu" ucap Alza.


' mungkin sedikit '


Rio mengangguk.


"yaudah kalo gitu kita masuk aja. gue takut Bianca kenapa-napa" ucap Rio.


Alza mengangguk.


..


hari sudah larut, kini pukul tujuh malam.


dokter sedang memeriksa keadaan Bianca.


"gimana dok keadaan Bianca?" tanya Rio.


"kondisi Bianca masih sama, belum ada perubahan apapun. saya akan terus berusaha membuat Bianca membaik dan dalam kondisi normal kembali" ucap dokter.


Rio mengangguk.


"terimakasih dok" ucap Rio.


dokter mengangguk lalu izin untuk pergi.


"gimana kondisi Bianca?" tanya Seseorang yang baru masuk.


Rio menoleh dan mendapati Reygan yang sedang berjalan menghampiri nya.


"Rey? Lo ngapain disini? bukannya Lo udah pulang ke Bandung?" ucap Rio bingung.


"gue pengen tau keadaan Bianca. gue kangen sama Bianca" ucap Reygan.


Rio mengangguk.


"duduk dulu kak" ucap Rio dengan senyum geli nya.


"cih, tumben Lo sopan sama gue" ucap Reygan sembari duduk di sofa.


"geli sebenernya" ucap Rio yang juga ikut duduk di samping Reygan.


"gimana keadaan Bianca?" tanya Reygan.


"masih sama kaya keadaan awal dia, belum ada perubahan apapun. dokter masih terus berusaha untuk buat kondisi Bianca membaik" ucap Rio.


Reygan menatap ke arah Bianca dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Ada rasa rindu, takut, dan menyesal dalam tatapannya.


Tatapan Reygan beralih pada Rio.


"Rio.. Lo udah lama ninggalin kerjaan Lo, mendingan Lo urus perusahaan Lo dan biar gue yang jaga Bianca." ucap Reygan.


Rio menggeleng cepat.


"gue ga mau. gue ga bakal ninggalin Bianca" ucap Rio.


"ada gue yang jaga Bianca. gue cuman takut perusahaan Lo ada masalah kalo Ga ada Lo" ucap Reygan.


"tapi gue ga mau ninggalin Bianca" ucap Rio dengan nada rendah.


"Rio. Perusahaan butuh Lo!" ucap Reygan.


Rio terdiam.


Ia melirik ke arah Bianca yang masih terbaring tak berdaya.


ia menghela nafasnya setelah lama berfikir.


"oke. gue bakal Balik ke perusahaan, tapi Lo harus janji sama gue Lo bakal jaga Bianca!" ucap Rio.


"iya gue janji. Bianca juga adek gue yang emang harus gue jaga" ucap Reygan.


..


"Lo tidur di sofa aja" ucap Rio.


"terus Lo tidur di mana?" tanya Reygan.


"di kursi samping Bianca. gue bisa tidur di sana" ucap Rio.


Reygan mengangguk.


"besok gue bakal bangun lebih pagi, jam Lima mungkin. Soalnya gue harus ke rumah dulu buat ngambil Baju" ucap Rio.


"Lo punya banyak bawahan, ngapain susah-susah ngambil sendiri sih" ucap Reygan.


Rio tersenyum saat menyadari nya.


"gue lupa" ucap Rio.


Rio membuka ponselnya dan memberi pesan pada salah satu bawahannya untuk mengantarkan setelan jas Untuk besok pagi.


setelah mengirimkan Pesan, Rio duduk di kursi dan Melipat kedua tangan nya di kasur Bianca.


lalu ia menyimpan Kepalanya di lengannya itu dan mencari posisi yang tepat dan nyaman yang bisa membawa nya tidur.


Reygan sudah merebahkan dirinya di sofa sejak tadi, namun dirinya belum tidur.


30 menit kemudian, Reygan masih belum tertidur.


tiba tiba pintu di ketuk oleh seseorang.


Reygan bangun dan membukakan pintu nya.


Ia melihat seorang lelaki Yang membawa paperbag berisikan Setelan jas berwarna hitam.


"saya bawahan pak Rio, ini Setelan jas yang pak Rio perintahkan Bawa kepada saya" ucap lelaki itu.


Reygan mengangguk dan menerima Paperbag itu.


"emm, apa saya boleh minta tolong?" tanya Reygan pada lelaki itu.


"boleh. apa yang bisa saya bantu pak?" tanya lelaki itu balik.


..


Hari sudah pagi.


Matahari kini sudah muncul.


Rio sedang bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kantornya.


"Rey, gue pergi dulu ya. jaga Bianca, awas aja kalo kondisi Bianca makin parah" ucap Rio.


"iya bawel Lo. tenang aja kali" ucap Reygan.


Ia menghampiri Bianca. mengelus kepalanya.


"bii, gue pergi ya" ucap Rio yang setelah itu mengecup kening Bianca.


"gue pergi ya" ucap Rio pada Rey.


"Lo hati-hati" ucap Reygan.


"perhatian amat Lo sama gue" ucap Rio.


"kalo Lo kecelakaan, gue repot harus ngurus dua anak kecil" ucap Reygan.


"gue bukan anak kecil" ucap Rio.


Reygan tertawa.


"ya pokoknya hati-hati" ucap Reygan.


Rio mengangguk dan berjalan pergi.


Membutuhkan selama dua puluh menit untuk sampai di kantor Nya yang sudah satu bulan ia tinggalkan.


ia menghela nafasnya dan berjalan masuk ke dalam Kantor.


"selamat datang kembali pak" ucap mayoritas Karyawan disana.


Rio kaget dengan sambutan mereka.


"loh, kok ada acara sambutan gini" ucap Rio bingung.


"kami dengan hormat ingin menyambut bapak kembali" ucap salah satu dari banyaknya pekerja disana yang berkumpul.


"kami turut berduka cita atas kabar kecelakaan nya Bu Bianca. semoga kondisi Bu Bianca menjadi lebih baik dan cepat normal" ucap salah satu pekerja lainnya.


Rio tersenyum.


"terimakasih buat kalian semua. terimakasih sambutannya dan terimakasih doa nya" ucap Rio.


mereka semua memberi jalan pada Rio untuk masuk.


"kalian boleh kembali bekerja" ucap Rio.


semua membungkukkan badannya hormat dan langsung berbubaran.


Rio diantar salah satu bawahannya ke ruangannya.


sesampainya di ruangan, Rio masuk.


ia melihat spanduk bertulisan ' selamat datang CEO '.


Rio tersenyum.


ia membalikkan badannya menatap Bawahannya.


"ide siapa ini?" tanya Rio.


"saya diperintahkan pak Reygan untuk memberikan sambutan ini pada pak Rio" ucap Lelaki itu.


"Reygan?" ucap Rio tak percaya.


lelaki itu mengangguk.


Rio tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"yaudah, terimakasih ya untuk semuanya. kamu bisa pergi" ucap Rio.


Lelaki itu membungkukkan Badannya hormat dan langsung pergi.


Rio berjalan menghampiri meja kerjanya dan duduk di kursinya.


ia menatap Spanduk sambutan itu dan masih heran pada Sang Kaka ipar.


...----------------...